
Sebelumnya ....
Diah datang ke hotel tempat Rajendra menginap.
“Ada apa kau datang?” Sambutan yang dingin seperti biasanya. Namun Diah tak terintimidasi sama sekali dengan sikap yang ditunjukkan Rajendra.
“Masuk, silakan,” sahut Sisil lembut.
“Terima kasih, Sis.”
Diah melihat Rajendra duduk di sofa ditemani kopi hitam yang asapnya masih mengepul dengan aroma harum khas.
“Apa?” tanya Rajendra tanpa menoleh.
“Kau yang melakukan semua ini, kan?”
Senyum seringai terbit di bibir Rajendra, dia mendongak menatap Diah yang kini melemparkan tatapan yang sama-sama tajam.
“Kau cerdas, Diah. Memang aku yang melakukannya,” jawabnya santai.
“Dengan anak jangan seperti ini. Semakin kau menekan Kendrick, dia akan semakin melawan. Api benci dan kasmaran itu sama-sama berkobar, jangan sampai apa yang kau lakukan membuatmu semakin jauh dari Kendrick.”
“Jangan ikut campur, Diah!” bentak Rajendra dengan mata melotot.
“Aku tidak ingin ikut campur, tapi yang kau perlakukan seperti itu anakku. Aku yang merawatnya, aku yang mengajarinya berjalan, meskipun dia tidak lahir dari rahimku.”
“Dia anakku, lebih baik kau diam dan tutup saja mulutmu.”
“Semakin kau bertindak melewati batas, jangan salahkan Kendrick yang akan membencimu. Kita sebagai orang tua harusnya sesekali mengalah kepada anak, bukan anak yang terus mengalah dan menuruti keinginan kita. Orang tua tidak selalu benar, begitu juga anak, dia tidak sepenuhnya salah. Sedikit saja turunkan egomu demi kebahagiaan Kendrick.”
Rajendra diam ketika Diah mencurahkan isi hatinya. Mata wanita itu bahkan berkaca-kaca menahan tangis yang ingin tumpah.
“Kau tidak tahu apa-apa, Diah!”
“Apa yang tidak aku tahu? Apa! Katakan!” bentak Diah keras tidak mau mengalah.
“Hanya wanita sepadan yang bisa mendampinginya. Seandainya dia berasal dari strata yang sepadan, aku tidak akan menantang mereka. Soal status janda yang dimiliki itu bukan masalah.”
“Harta, takhta, dunia, itu saja yang terus kau pikirkan! Apa kau sama sekali tak memikirkan perasaan anakmu?” tanya Diah lemah, kepalanya menggeleng berulang kali.
“Aku memikirkannya, itu sebabnya aku ingin yang terbaik.”
“Terbaik bagimu belum tentu baik untuknya.”
“Diam Diah. Berhenti ikut campur!”
Diah menggeleng lemah. “Aku tak menyangka kau seburuk ini,” gumamnya pelan seraya bangkit dari sofa.
“Lakukan apa pun dan kau akan melihat kehancuran di depan matamu.” Diah pergi setelah mengatakan apa yang ingin disampaikan.
Sisil mendekati Rajendra dan mengusap lengannya lembut. “Sesekali kau memang harus membungkam Diah yang keterlaluan,” ucapnya lembut tetapi beracun.
“Apa maksudmu?”
“Kau benar,” sahut Rajendra setelah sekian lama terdiam.
Diam-diam Sisil tersenyum. “Apa kau akan membiarkan kursi kepemimpinan kosong? Sepertinya itu bukan hal yang baik, mengingat pesaing kita belum mendengar tentang mundurnya Kendrick. Jika sampai berita ini bocor, entah apa yang akan terjadi.”
“Aku akan kembali!” tegas Rajendra menjawab, membuat senyum di bibir Sisil seketika luntur.
“Kita sudah tua, seharusnya masalah itu serahkan saja pada yang muda. Biar mereka yang mengurusnya.” Masih mencoba mempengaruhi, berharap ada sedikit cela untuk memuluskan niat terselubung yang telah disusun.
“Aku tidak bisa menyerahkan kursi itu pada siapa pun selain keturunanku!” sahut Rajendra dingin.
“Tapi Andrean juga anakmu,” sahut Sisil lirih.
Seketika itu juga Rajendra segera bangun dengan cepat, dia menatap Sisil dengan dingin. Tangan tuanya mencengkeram rahang wanita itu kasar sambil tersenyum kejam.
“Sekuat apa kau menyangkalnya, Andrean bukan anakku. Kau menikah denganku sudah mengandung anak yang tak tahu siapa pemilik benihnya,” bentaknya keras membuat Sisil terisak pelan.
“Tapi semua orang tahu dia juga anakmu, walaupun kau tak mengakuinya.”
“Itu karena aku tak mau menahan malu karena istri yang baru kunikahi ternyata mengandung anak pria lain!”
Rajendra pergi dengan emosi setelah mengumpat dan memaki istrinya. Sementara Sisil hanya tertunduk dengan marah, dia ingin melawan tetapi tak kuasa melakukannya.
...✿✿✿...
Ghea Sisilia Tjokro, wanita keturunan Indonesia-Italia itu dinikahi oleh Rajendra karena perjodohan keluarga. Sisil hanya anak angkat yang dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga.
Perjodohan demi kepentingan bisnis itu atas dasar simbiosis mutualisme, sama-sama saling menguntungkan.
Namun baru sebulan menikah, justru wanita itu diketahui sudah lebih dulu hamil dua bulan. Membuat Rajendra marah dan merasa ditipu. Namun Sisil bersikeras bahwa itu adalah anaknya, bahkan dia tak segan menyuap dokter untuk membuat keterangan palsu yang mengatakan usia kehamilannya sama dengan usia pernikahan mereka.
Namun Rajendra tetap menolak bahkan sampai anak itu lahir, dia tak mau mengakuinya. Setelah kelahiran anak itu, Rajendra memberikan dua pilihan pada Sisil.
Membuat anak itu pergi atau dia yang akan pergi. Sisil memutuskan menjauhkan Andrean dan bertahan demi kepentingan sendiri.
Anak itu hanya diberikan nama keluarga, tetapi tidak pernah benar-benar diakui. Bahkan keberadaannya disembunyikan dari dunia, hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya.
Dua tahun kemudian Sisil kembali hamil, tetapi kala itu Rajendra juga melakukan kesalahan dengan tidur dengan Denisha hingga mengandung Kendrick.
Sisil berusaha keras membuat Denisha tersingkir, tetapi justru semua rencana itu berbalik padanya.
Sisil kecelakaan dan harus kehilangan anak dalam kandungan sekaligus rahimnya. Karena tak mempunyai pilihan lain, Rajendra harus menerima anak yang ada di dalam kandungan Denisha untuk meneruskan garis keturunannya.
Namun saat kelahiran Kendrick, Denisha tak dapat diselamatkan karena Sisil berhasil meracuni wanita itu. Berharap ibu dan anak itu akan mati agar tak mengusahakannya. Namun justru Tuhan berkata lain hingga semua rencana itu kembali gagal.
Namun Rajendra dan Sisil menolak merawat bayi merah itu hingga Diah yang harus merawatnya. Rajendra bertanggung jawab untuk semua kebutuhan anaknya, tetapi sedikitpun tak pernah benar-benar menyayanginya.
Hingga saat usia Kendrick beranjak remaja, semuanya berubah.
To Be Continue ....