
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Diah yang sudah datang dua puluh menit yang lalu.
“Dini hari Kiran mendapatkan kabar bahwa toko dan resto terbakar, kami datang ke sana melihat. Sayang sekali semuanya tidak ada yang bisa diselamatkan. Bahkan api sudah melahap sekitarnya,” jelas Kendrick pelan.
“Bagaimana kondisi Kirana?”
“Kondisinya baik, dia hanya stress hingga membuatnya tertekan. Janin sehat, hanya saja tekanan darahnya kembali meninggi.” Saat menjawab, matanya menoleh ke arah ranjang sang istri yang masih terpejam.
“Mama mau bicara apa?” Kendrick kembali menoleh menatap Diah.
Sebelum menjawab, wanita paruh baya itu mengembuskan napas panjang. “Pagi tadi, sekretaris papa menelpon dan menghubungi tentang penurunan saham. Papa sudah mencoba mengatasinya, tapi setengah jam kemudian justru berada di batas merah terendah. Kami khawatir, jika sampai ini tak segera diatasi, DD Corp bisa gulung tikar.”
“Bagaimana bisa, Ma? Bukankah selama ini tak pernah terjadi masalah apa pun?” tanya Kendrick dengan kening berlipat.
“Papa masih menyelidiki penyebabnya,” sahut Hanin frustrasi.
“Mama juga bingung sebenarnya. Ini terlalu mendadak.”
Kendrick diam tak bereaksi. Sebenarnya otaknya juga memikirkan hal yang sama. Tidak mungkin ini terjadi secara tiba-tiba jika bukan karena ada sesuatu besar yang mendorongnya.
“Aku minta tolong mama dan papa yang urus masalah itu. Aku akan menghubungi Massayu untuk menjaga Kiran. Ada hal yang harus kulakukan di kantor,” ucap Kendrick dengan kedua tangan mengepal kuat.
“Lebih baik kamu temani istrimu saja, Ken. Biarkan Indra yang mengurus pekerjaanmu,” saran Hanin. Dalam kondisi seperti ini, Kirana butuh dukungan.
Kendrick menggeleng. “Tidak bisa, Pa.”
“Ada apa?” tanya Hanin seolah tahu ada yang tidak baik-baik saja.
“Pembangunan hotel baruku gagal, bahkan saat ini sedang terjadi permasalahan pelik dengan pihak kepolisian. Para investor yang menanamkan modal menuntut ganti rugi. Aku harus mengurusnya.”
“Sejak kapan? Kenapa kamu tidak mengatakannya!” seru Diah lantang dan meninggi.
Hanin segera menenangkan istrinya untuk tetap tenang.
“Sudah beberapa minggu ini. Itu sebabnya aku selalu pulang larut, banyak hal yang harus diselesaikan.”
“Seharusnya kamu katakan yang sejujurnya agar kami bisa membantumu!”
“Mama tak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya,” jawab Kendrick dengan senyum tipis.
“Hubungi Massayu, setelah dia datang kau bisa pergi. Mama dan papa akan datang ke kantor dulu.”
“Aku mengerti, Pa. Terima kasih.”
Hanin menepuk bahu Kendrick pelan sebelum berlalu pergi bersama istrinya.
Satu jam kemudian Massayu datang sendirian setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah.
“Maaf aku merepotkan.”
“Bicara sekali lagi aku akan menendang bokongmu, Ken!” sahut Massayu, mengingatkan masa lalu ketika dia yang kesal selalu mengatakan kalimat yang sama.
“Dia akan baik-baik saja.”
Sebelum pergi Kendrick mendekati ranjang. Menatap istrinya dengan lembut kemudian mendaratkan ciuman.
“Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji, Kiran,” bisiknya lembut.
Suasana hening karena tak ada seorang pun di dalam ruangan selain Kirana yang masih terbujur lemah di atas ranjang.
Ketika matanya terbuka, air mata mengalir membasahi pipi tanpa bisa dicegah. Dia sudah sadar sejak lama, bahkan apa yang tengah dibicarakan suaminya bersama dengan Diah dan Hanin terdengar jelas.
Mereka semua tengah dirundung permasalahan yang sama. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya tentang apa yang terjadi dan siapa dalang dibalik ini semua.
“Kau akan tahu akibatnya jika berani melawanku.”
“Kembalilah ke Berlin atau jangan datang sama sekali dan kau akan melihat kehancuran.”
Kata-kata itu terngiang kembali di kepala. Mungkinkah?
...✿✿✿...
Dua puluh menit kemudian Massayu kembali masuk ke dalam dan melihat Kirana sudah membuka mata, bahkan saat ini tengah bersandar dengan posisi setengah duduk.
“Kau sudah bangun?”
Kirana mengangguk lemah. “Ya beberapa menit yang lalu. Di mana Kendrick?” tanyanya berpura-pura tidak tahu.
“Kendrick di kantor, dia tak bisa menemanimu karena ada sesuatu yang harus dilakukan. Mama dan papa tadi datang tapi kamu masih belum sadar. Mereka tengah mengurus sesuatu. Aku yang akan menjagamu, kamu keberatan?” jelas Massayu detail menyebutkan semua orang.
“Harusnya aku minta maaf karena harus merepotkan.”
“Jangan banyak pikiran, lebih baik pikirkan kondisimu. Sehatkan badan dan pikiranmu agar bisa melewati semua ini. Aku sudah dengar semuanya dari Kendrick.” Massayu mendekat ke arah ranjang.
“Harta bisa dicari, tapi kesehatanmu lebih dari segalanya.”
Kirana mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kamu mau makan?”
“Nanti saja.”
“Nggak perlu banyak berpikir, namanya musibah nggak ada yang tahu. Anggap saja ini ujian untuk kalian,” ujar Massayu mengusap lembut bahunya.
Hanya senyum paksa yang bisa Kirana berikan. “Jika itu benar musibah, aku rela. Tapi jika itu sengaja, apa aku akan tetap bisa berlapang dada?” gumamnya lirih nyaris seperti bisikan.
“Kamu mengatakan sesuatu?”
Kirana menggeleng sambil membatin dalam hati. Semoga itu hanya prasangka.
To Be Continue ....