Affair With CEO

Affair With CEO
Diusir



Sebulan telah berlalu dan benar saja Zidan sama sekali tak bisa mendapatkan pekerjaan apa pun. Bahkan ke perusahaan kecil sekalipun pria itu selalu ditolak tanpa penjelasan yang berarti.


Kirana menikmati itu. Dia tertawa dengan semua yang telah terjadi dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami.


Dia menikmati setiap keresahan, kekalutan dan emosi yang dialami Zidan. Bukan hanya tentang dirinya yang tak mendapatkan pekerjaan, pria itu dituntut oleh keluarganya untuk memberikan uang yang banyak sementara mereka tidak tahu bahwa keuangan sekarang ada di bawah kendalinya.


Yang lebih membuatnya ingin sekali mengejek pria itu adalah, ternyata Zidan sedang berurusan dengan hukum. Pria itu dituntut untuk mengganti kerugian yang telah dibuat di Cahaya Mas Group senilai dua puluh miliar atau dia akan masuk penjara.


Diam-diam ternyata pria itu pernah hampir membobol brangkas miliknya, tetapi sayang dia sudah lama mengganti nomor PINnya.


Bahkan suatu malam, Zidan pernah memohon dengan frustrasi untuk meminjam tabungan yang dimiliki. Pria itu bahkan berjanji akan menceraikan Luna jika dia mau meminjamkannya. Namun sayang dia sudah tidak tertarik dengan penawaran tersebut.


“Kamu ceraikan Luna sama sekali nggak bisa mengembalikan keadaan. Kamu udah nggak punya apa-apa lagi yang bisa menarik perhatianku untuk tetap kembali padamu.” Begitu jawaban Kirana menohok.


Kirana memang bukan dari keluarga konglomerat, tetapi keluarga mereka cukup dalam hal apa pun. Tidak berlebihan. Begitupun keadaan saat ini, dia memang tidak jadi miliarder, tetapi tabungannya sudah cukup untuk membiayai anak-anaknya hingga masuk ke perguruan tinggi.


Semua itu didapatkan dari usaha dan kerja keras. Tidak ada yang datang begitu saja. Dulu hidup mereka tenang dan damai tanpa harus meributkan soal materi. Benar apa kata orang, harta dan kesuksesan bisa menjadi dua mata pisau yang bisa melukai jika tidak digunakan dengan hati-hati.


Kirana tersenyum mengingat Kendrick benar-benar menepati janjinya. Sebentar lagi, keluarga Zidan akan menerima akibat dari semua perbuatannya yang sudah menyakiti.


“Kamu tumben di sini terus, nggak kangen sama istri dan anakmu ya?” Kirana duduk di hadapan Zidan yang tengah melamun di teras.


“Apa pedulimu,” jawab Zidan sinis.


Bukannya tersinggung Kirana justru terkekeh rendah. “Ya emang nggak peduli, aku cuma tanya soalnya lihat kamu di sini lama-lama rumah kelihatan suram.” Menutup mulutnya dan menatap ke arah rumah seberang.


Semenjak Zidan selalu berada di rumah, setiap malam dia dan Kendrick hanya bertukar kabar lewat pesan.


Keduanya sengaja menjaga hubungan agar proses perceraian yang sedang diajukan Kirana tak akan berbuntut panjang jika Zidan menemukan cela untuk melawan.


Sementara Zidan, pria itu sama sekali tak tahu dengan proses perceraian yang sudah diajukan oleh Kirana.


Saat Kirana menoleh, tak sengaja matanya bersitabrak dengan mata Zidan yang juga menatapnya.


Baru disadari ternyata tubuh pria yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya itu mulai terlihat rusak. Tubuhnya terlihat kurus, matanya terlihat cekung dengan rona hitam yang membuatnya nampak mengerikan.


Ternyata ... baru disadari bahwa selama tinggal di sini bahkan dia tak pernah memperhatikan pria itu dengan jelas hingga baru sadar sekarang.


Kirana segera membuang muka ke arah lain. Dalam hati ada rasa iba yang dirasakan, tetapi itu sama sekali tak melemahkan keputusan yang sudah bulat diambil.


Ini adalah konsekuensinya. Setiap perbuatan akan selalu ada timbal baliknya. Entah itu baik atau buruk.


Bahkan dirinya juga menyadari bahwa kebenciannya pada Zidan mungkin suatu nanti akan menjadi boomerang untuknya.


...✿✿✿...


Kirana yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menghampiri ponselnya yang sedari tadi bergetar.


Serbuan pesan dari Kendrick membuatnya tersenyum tipis. Pria itu ternyata juga mengawasinya saat dia bersama dengan Zidan di teras rumah.


Tangannya dengan lincah segera mengetikkan pesan jawaban yang langsung terbaca beberapa detik kemudian.


Samar-samar Kirana mendengar suara yang amat dikenalnya. Siapa lagi jika bukan ibu mertua dan adik iparnya yang tengah memprovokasi Zidan untuk menceraikannya.


Bibirnya menyunggingkan senyum sinis, berjalan ke arah ruang keluarga.


“Permintaan kalian akan dikabulkan, tenang aja. Enggak perlu marah-marah lagi, kalau perlu hari ini juga Zidan boleh ibu bawa pulang. Di sini dia nggak ada gunanya,” sahut Kirana memotong obrolan mereka.


Melihat kedatangannya, Ajeng langsung naik pitam. Wanita paruh baya itu segera mendekatinya dengan tangan yang terkepal.


“Jangan coba-coba berani menyentuh wajahku, Bu. Perawatan kulitku mahal,” ucapnya sinis.


“Berani kamu ya melawan mertuamu. Kamu memang menantu durhaka,” cetus Ajeng tak terima.


“Lalu sebutan apa yang pantas buat mertua jahat yang suka menindas menantunya?”


“Kamu!” Ajeng kembali mengangkat tangannya, tetapi segera ditepis kasar hingga tubuh paruh baya tersebut hampir saja jatuh jika saja Zidan tak menangkapnya cepat.


“Kirana, jangan keterlaluan kamu!”


“Bela terus! Kamu buta buat lihat apa yang baru aja dilakukan ibumu, tapi langsung bereaksi giliran aku yang melawan.”


“Ibuku juga ibumu, jangan kayak gitu.”


“Tapi ibumu nggak menganggap demikian. Baginya, bagimu apa yang kulakukan selalu salah. Aku benar sekalipun kamu akan tetap membela ibumu. Ibumu salah bahkan berdosa kamu akan tetap membelanya dengan banyak alasan.”


“Kirana!” bentak Zidan dengan suara lantang.


“Apa! Mau mukul aku? Ayo pukul, aku sama sekali nggak takut, Zidan. Aku sudah muak melihat kalian semua.” Kirana menyodorkan wajahnya ke arah Zidan dengan tatapan marah.


“Dasar wanita nggak tahu diri,” celetuk Nina yang menyulut emosinya.


“Keluar kalian semua dari rumahku!” teriaknya keras.


“Berani kamu ngusir kami? Dasar kurang ajar!” Ajeng ingin menyerang lagi tetapi ditahan oleh Zidan.


“Keluar dari rumahku sekarang juga atau aku akan menyeret kalian semua.”


Zidan segera membawa ibu dan adiknya keluar dari rumah. Umpatan dan makian tentunya tak berhenti, menyumpah bahkan mendoakan yang buruk untuknya dan kedua anaknya.


Kirana segera bergegas masuk kamar, mengeluarkan semua baju-baju Zidan dan memasukkannya ke dalam koper. Kemudian menyeretnya keluar dan melemparnya tepat di hadapan ketiga orang tersebut yang masih ada di teras rumah.


“Apa maksudmu Kirana?”


“Belum jelas juga? Aku udah mengusir kalian termasuk kamu, Zidan Pranadipa,” teriaknya lantang membuat beberapa orang yang kebetulan lewat menoleh.


“Nggak sopan kamu pada kami. Kami ini keluargamu di sini, tega sekali.” Ajeng kembali memulai drama ketika beberapa orang sudah menonton ke arah rumahnya.


Namun Kirana sudah tak peduli dengan apa yang akan dipikirkan orang nanti.


Inilah batas kesabarannya. Dia sudah muak untuk berpura-pura kuat, walau hanya tinggal selangkah lagi rencananya tetapi dia benar-benar sudah tak tahan.


Ajeng meraung dengan wajah menyedihkan dan memojokkan seolah-olah dia yang bertindak kejam.


“Kamu nggak bisa seperti ini Kirana.” Zidan masih mencoba membujuknya.


“Aku nggak peduli.”


“Kamu tega, Mbak. Salah apa kami sama kamu sampai bersikap kayak gini.” Nina ikut menimpali dengan isak tangis pelan.


“KELUAR SEKARANG!” teriaknya keras, tangannya melempar pot bunga ke arah ketiga orang tersebut hingga mereka benar-benar pergi.


Kirana benar-benar menggila ...


To Be Continue ....