Affair With CEO

Affair With CEO
Mengibarkan bendera perang



Kini mereka semua tengah duduk di ruang keluarga. Kendrick tak tahu apa rencana Rajendra mengundang Yemima, yang pasti semua itu bukanlah hal yang baik.


“Kudengar kau saat ini sedang hamil?” tanya Rajendra membuat calon istri pilihan itu membulatkan mata.


Kirana hanya mengangguk, entah mengapa dia malas bicara.


“Oh, anakku yang malang. Pastikan itu adalah benihmu, Ken.” Rajendra memulai semua provokasinya.


“Jangan bicara sembarangan, Dad. Dia anakku!”


“Umur pernikahan kalian bahkan baru satu bulan. Lalu, wanita ini hamil tiga bulan. Apakah kau tak merasa ada yang janggal? Jangan-jangan dia hamil anak dari mantan suaminya.”


Deg!


Kirana membeku, dia mendongak untuk menatap sang suami. Yang dikatakan Rajendra memang benar, umur pernikahan mereka baru satu bulan, tetapi jangan lupakan bahwa mereka telah menabung benih lebih dulu ketika di Bali.


Lagipula semenjak hubungannya dan Zidan memburuk, dia tak pernah lagi mau disentuh oleh pria yang telah mengkhianatinya itu.


Kendrick menoleh, matanya menatap wajah sang istri yang terlihat resah. Pria itu sepertinya tak terpengaruh, dia menyunggingkan senyum teduh yang menenangkan.


“Yang kau katakan memang benar, tapi aku sudah menabung benihku lebih dulu. Dan lihat, baru sebulan menikah kami akan memiliki bayi. Hebat, bukan?” ucap Kendrick dengan bangga, tak ada sama sekali keraguan dari nada ucapannya.


“Itu semakin menunjukkan bahwa dia adalah wanita murahan. Bahkan saat tidur denganmu, dia bahkan belum bercerai dengan suaminya. Inikah wanita yang ingin kau kenalkan pada dunia? Wanita yang rela meninggalkan suaminya demi dirimu. Semua orang akan memiliki pandangan buruk yang serupa jika mengetahui masa lalunya. Bahkan dia lebih rendah dari seorang pelacur yang menjajakan tubuhnya.”


“Dad!” pekik Kendrick dengan lantang.


Sakit sekali hati Kirana mendengar penuturan orang tua itu. Walau sejujurnya apa yang dikatakan benar, tetapi tetap saja. Ada nyeri yang melubangi hati.


Itu memang kesalahan, dia mengakui hal itu. Salahnya adalah telah berani bermain api di saat rumah tangganya masih berjalan. Dia tidak marah, ini memang konsekuensi yang harus diterima.


“Jangan berteriak di depanku, Aska Kendrick Rusady!” Dengan lantang Rajendra membalas ucapan sang anak.


“Wanita yang rela tidur dengan pria lain di saat masih berstatus istri orang, apa sebutannya selain wanita murahan?!”


Suasana di ruang keluarga itu tampak tegang. Kirana mencoba menetralkan diri dengan menghela napas berkali-kali. Kepalanya yang tadinya menunduk akhirnya terangkat dengan mata yang berkaca-kaca.


“Anda benar, aku memang tidur dengan Kendrick saat masih berstatus istri orang. Kuakui itu adalah kesalahan yang kami lakukan, aku tak akan menyangkalnya —”


Rajendra bertepuk tangan, dia menatap Kirana dengan tatapan menghina. “Kau lihat dan dengar, wanita ini bahkan telah mengakuinya. Wanita macam apa yang telah kau pilih, Ken? Bahkan dia mengakuinya tanpa rasa malu,” potongnya cepat.


“Untuk apa aku menyangkalnya jika memang Anda sudah tahu? Itu adalah hal yang sia-sia dan percuma. Aku mengakui bahwa itu memang kami lakukan karena aku sadar bahwa itu adalah kesalahan.”


“Lihatlah, Aska Kendrick Rusady. Wanita ini semakin menunjukkan siapa dirinya. Wanita dari kelas rendah tak akan bisa masuk dalam keluarga kita. Kau akan menyesal!”


Kirana menunduk, tangannya mengepal kuat untuk mengalihkan rasa sakitnya. Dia diam karena yang dikatakan pria paruh baya itu adalah kebenaran, memang tak seharusnya dia dan Kendrick melakukan sesuatu di luar batas. Namun semuanya telah terjadi, tak ada yang bisa dilakukan selain mengakuinya.


Dia salah, maka dia tak akan malu untuk mengakuinya dan diam.


“Maaf, tapi apa begini sikap seorang konglomerat? Anda selalu mengatakan strata kita berbeda, tapi kulihat sikap dan ucapan Anda sama sekali tak menunjukkan demikian. Seorang yang berpendidikan tak akan merendahkan harga diri orang lain, seorang yang berpendidikan bisa menjaga lisannya. Wajar jika aku yang mengatakan itu, karena aku bukan seseorang yang berpendidikan—menurut Anda.” Kirana mendongak, menatap pria itu dengan tatapan menantang.


Rajendra menunjuk-nunjuk Kirana dan mengucapkan berbagi sumpah serapah. Mulai dari kata rendahan hingga penghinaan lainnya yang terdengar menyesakkan.


“Sudah cukup, Dad! Jangan terus menghina istriku. Kau tak menyukai kami, itu tak masalah. Kami melakukan kesalahan dan mengakuinya, tapi bukan berarti kau menjadikan kesalahan kami sebagai ajang penghinaan seperti ini.” Kendrick menatap Rajendra dengan marah.


“Jika kau tak bisa menerima kami, setidaknya jangan katakan hal buruk. Aku datang karena masih menghargaimu sebagai orang tua, walaupun kau hanya menjadikanku sebagai alat yang bisa kau kendalikan.”


Plak!


Rajendra melayangkan tangan menampar anaknya dengan keras.


“Beraninya kau menentang kami hanya demi pelacur ini.”


“Maafkan aku jika apa yang kulakukan menurutmu sebagai perlawanan. Aku hanya ingin melindungi istriku, karena kini dia adalah tanggung jawabku.”


Kendrick mengajak Kirana pergi. Setelah itu segera turun sambil membawa koper. Mereka akan pergi, pria itu sudah cukup mendengar istrinya dihina dan dimaki. Berharap mendengar kehamilan sang istri bisa membawa angin segar, justru berakhir membuat sang istri semakin tertekan.


“Aska Kendrick Rusady!” Suara menggelegar milik Rajendra terdengar saat mereka berjalan menuju pintu utama.


“Maafkan aku, Dad. Lebih baik aku pergi dan kembali ke Indonesia.”


“Silakan. Kau akan tahu akibatnya jika berani melawanku, Ken.”


Kendrick mengangguk paham. Dia sangat paham konsekuensi apa yang akan diterima jika berani melawan Rajendra.


“Jangan memaksaku untuk memilih, Dad. Aku menghormatimu sebagai orang tua, tapi saat ini, aku bertanggung jawab penuh atas istri dan calon anakku. Jangan membuatku harus memilih untuk melawan ayahku sendiri.”


Kendrick sama sekali tak berbalik. Dia tetap melangkah lurus bersama dengan sang istri.


“Jika kau lebih memilih wanita itu, maka jangan harap kau bisa berada di RD Group lagi.”


“Silakan lakukan apa pun yang memuaskan dirimu, Dad. Jika dengan mengusir dan mencoretku dari keluarga Rusady adalah pilihan, maka jangan sungkan.”


Mendengar penuturan Kendrick yang semakin berani, senyum wanita paruh baya itu terbit. Dia puas melihat drama yang terjadi saat ini.


“Ken ... jangan seperti ini.” Sisil menyusul dengan langkah lebar.


“Ken, jangan gila. Lebih baik kau menikah denganku dan hentikan kegilaan ini.”


“Sekali kau pergi, maka tak akan ada tempat untukmu kembali, Ken!”


Suara ketiga orang tersebut terdengar saling bersahutan, tetapi Kendrick yang sudah bertekad, memilih tak memedulikan mereka.


Tekadnya sudah bulat. Dia rela kehilangan segalanya, tetapi tidak dengan istri dan anaknya. Karena saat ini mereka adalah harta tak ternilai yang dimiliki.


To Be Continue ....