
Siang itu mentari tampak begitu terik. Sinarnya sudah meninggi saat seorang pria baru saja turun dari mobil sport Rubicon yang tampak masih mengkilap.
Roy menggenakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang memerah. Meskipun tak ada rasa kantuk yang dirasa, tetap saja mata merahnya bukan pemandangan yang indah. Tidak tidur berhari-hari bagi Roy adalah hal yang biasa.
Setelah mendapat titik jelas di mana keberadaan pelayan itu, Roy dan anak buahnya segera menuju ke lokasi. Pelayan itu berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain agar tak mudah terlacak. Lokasi terakhirnya dapat dideteksi dari penarikan uang yang dilakukan.
Di depan sebuah penginapan bintang tiga, Roy memerintahkan anak buahnya untuk mengepung tempat tersebut. Agar targetnya tak bisa melarikan diri.
Memasuki pintu utama, sudah ada resepsionis yang berjaga. Mereka disambut dengan sopan meski kedatangannya menimbulkan banyak tanda tanya.
“Tolong kerjasamanya, Nona. Saya mencari wanita ini.” Roy menunjukkan potret pelayannya. Sengaja dia tak menyebutkan nama karena bisa saja pelayan itu memakai identitas lain atau nama samaran.
“Siapa namanya, Tuan?”
“Nama identitasnya Glasia Inggid, tapi saya tidak yakin wanita itu menggunakan nama aslinya.”
Dua resepsionis itu saling berpandangan, tampak ragu.
Roy segera menjelaskan jika wanita itu sedang dalam pencarian karena berusaha mencelakai seseorang. Namun, dua wanita itu tak percaya begitu saja karena Roy dan orang-orangnya bukanlah pihak berwajib yang membawa surat penangkapan. Bisa jadi justru pria itulah yang berniat jahat. Karena tak mendapatkan akses dari dua wanita itu, Roy meminta bertemu langsung dengan manager hotel.
“Saya tidak akan basa-basi. Minta dua resepsionis menunjukkan di mana kamar wanita yang sedang kucari. Atau jika tidak, kupastikan hotel ini akan bangkrut dalam waktu dua puluh empat jam,” bisik Roy dengan seringai di bibirnya. Jika dengan jalan damai tak bisa ditempuh, maka terpaksa dia harus menggunakan kekuasaan sang tuan.
“Tuanku—Rajendra Rusady tidak suka menunggu terlalu lama,” lanjutnya membuat manager itu tampak gemetar. “Atau haruskah aku menyuruh putranya langsung untuk turun tangan?”
“Apakah yang Anda cari benar-benar ada di hotel ini, Tuan?”
Brak!
“Jika tidak ada, apa gunanya aku di sini,” hardik Roy semakin membuat manager ketakutan.
Ancaman Roy berhasil membuat manager itu memerintahkan bawahannya untuk menyebutkan nomor kamar wanita yang dicari. Bahkan manager itu memohon agar tak sampai terlibat hal apa pun nantinya, dan Roy berjanji untuk itu.
Di depan pintu berwarna hitam, Roy mengetuk pintu berulang kali dan menekan bel. Hingga terdengar sahutan dari dalam seperti teriakan.
Ceklek!
Roy langsung mendorong pintu dan menodongkan pistolnya di pinggang wanita yang hanya mengenakan jubah mandi.
Sang pelayan itu tentu terkejut sekaligus syok. Tidak menyangka keberadaannya akhirnya ditemukan. Tubuhnya gemetar saat muncung pistol itu menempel di pinggangnya.
Pelayan itu sama sekali tak berpikir jika akhirnya keberadaannya ditemukan secepat ini.
“Bahkan jika kau bersembunyi di lubang semut, aku akan tetap menemukanmu, Tikus Kecil!”
Bugh!
Tanpa basa-basi Roy memukul tengkuk gadis pelayan itu hingga membuatnya tak sadarkan diri dan meminta anak buahnya membawanya ke mobil. Sementara Roy masih menjelajahi kamar hotel itu untuk mencari apa pun yang bisa dijadikan bukti atau informasi.
Dua buah ponsel, salah satunya masih tampak baru. Buku rekening dan uang tunai dengan jumlah yang lumayan banyak. Ada dua buah tiket pesawat dan satu tiket kereta api dengan tujuan yang berbeda-beda.
Roy menyeringai, “Kau tak akan bisa kabur, Pengkhianat!”
...✿✿✿ ...
“Kiran, aku bisa minta tolong sebentar?”
“Tolong jaga Daddy sebentar. Aku ada urusan yang harus diselesaikan.”
“Pergilah. Nanti biar aku minta Mama pulang sendiri sekalian jemput anak-anak.”
Kendrick mengangguk dan bergegas pergi setelah berpamitan. Membawa mobilnya menuju kediaman Rajendra yang langsung disambut oleh Roy.
“Dia ada gudang belakang, Tuan,” kata Roy.
Kendrick mengikuti langkah Roy menuju halaman belakang yang menghubungkannya dengan gudang tempat penyimpanan barang-barang tak terpakai.
Di dalam ruangan dengan pencahayaan temaram, dapat dilihat ada seorang wanita yang duduk di kursi dengan kedua tangan dan kaki terikat. Wanita itu sepertinya tak sadarkan diri setelah berjam-jam lamanya. Entah memang pingsan atau justru tertidur.
“Dia tidak mati, kan?”
“Hanya pingsan, Tuan.”
Kendrick segera meminta Roy membawakannya seember air. Tanpa belas kasih menyiramnya pada wanita itu hingga terbatuk beberapa kali.
Mata wanita itu terbuka, mengamati sekitar dan ketika tatapan matanya bertemu dengan Kendrick, tubuhnya tampak gemetar dengan raut ketakutan.
“Tuan Roy, apa yang terjadi. Mengapa Anda mengikat saya seperti ini?” tanyanya berpura-pura.
“Pengkhianat,” desis Roy marah. Mengingat kondisi tuannya yang masih belum melewati masa kritis.
Kendrick maju dan mencekik leher pelayan itu kuat hingga urat-urat di sekitar lehernya mencuat. Mata pelayan itu tampak melotot dengan dada yang kembang-kempis akibat pasokan oksigen di paru-parunya hampir habis.
“Katakan siapa yang menyuruhmu atau kau akan mati di tanganku!” Tegas Kendrick dengan tatapan dingin. Melepaskan tangannya hingga terdengar suara napas tersengal diiringi isakan lirih.
Pelayan itu terisak pelan saat merasakan nyeri yang menghantam dadanya. Belum lagi lehernya terasa perih akibat kuku-kuku Kendrick yang menyakiti kulit mulusnya.
Sikap intimidasi yang dilakukan Kendrick berhasil membuat pelayan itu benar-benar ketakutan. Namun, sempat ada pikiran untuk tetap bungkam. Toh hasilnya akan sama meski dia buka mulut. Kerugian tetap menjadi miliknya karena tak bisa mendapat apa-apa. Mungkin saja setelah ini dia akan mendekam dibalik jeruji besi.
“Kau tidak sedang dalam mode bisa memilih. Katakan atau peluru ini akan menembus langsung pada jantungmu,” kata Kendrick sambil memainkan pistol milik Roy. “Tapi sebelum itu kupastikan kau akan mengalami kesakitan yang luar biasa, hingga hanya kematian yang kau inginkan.”
“Katakan!!!”
Moncong pistol itu berada tepat di kepala pelayan itu. Dengan gemetar wanita itu mendongak dan berkata, “Apa Anda akan melepaskan saya jika saya mengatakan yang sebenarnya?”
Kendrick terkekeh pelan. “Kau tidak dalam keadaan bisa tawar menawar denganku, Brengsek!” Tangannya semakin menekan kuat pistol itu, terdengar bunyi klik hingga membuat wanita itu memejamkan mata.
Meski merasa takut, wanita itu yakin jika dua pria di depannya tak mungkin membunuhnya. Saat wanita itu masih memikirkan banyak alasan untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba dia berteriak ....
“Argh!!!”
Darah mengucur deras dari lengannya yang tersayat.
Roy tersenyum miring sambil memegang belati. Pria itu seakan tahu jalan pikiran wanita yang ada di depannya. Roy kembali memainkan belati yang dipegang, mendekatkan benda tajam itu tepat di leher sang pelayan.
Wanita itu semakin gemetar. Menahan rasa sakit dan ketakutan yang menyerbu.
“Sau-da-ra Tu-an Ken-drick yang melakukannya,” ujar wanita itu terbata-bata.
To Be Continue ....