
Menjadi pengangguran membuat Kirana, Kendrick dan Diah lebih sering menghabiskan waktunya di rumah.
Satu minggu, dua minggu semuanya masih berjalan seperti biasa. Kendrick yang tak memiliki pekerjaan mencoba mencari pekerjaan ke berbagai perusahaan, tetapi sayang ternyata itu tidak mudah karena mengetahui nama Rusady di belakang namanya.
Sudah pasti ini semua ulah Rajendra yang masih belum menyerah untuk memisahkan mereka.
Hingga satu bulan kemudian, Kendrick yang tak mendapatkan pekerjaan mulai frustrasi. Membuat Kirana merasa iba.
“Ken, sebaiknya kita berhentikan saja beberapa asisten rumah. Kita pakai seperlunya aja, aku dan Wina masih bisa mengerjakannya.”
“Aku masih mampu membayarnya, Kiran. Kamu nggak perlu banyak berpikir,” sahut Kendrick datar.
“Setidaknya itu bisa menghemat uang yang kita miliki.”
“Berhenti memikirkan sesuatu yang nggak bermanfaat,” sahut Kendrick dingin.
Kendrick hanya ingin membuat istrinya tetap sehat dengan tidak banyak berpikir. Masih ingat dengan pesan dokter bahwa wanita itu tidak boleh terlalu stress, bisa saja itu membahayakan kandungannya.
Meskipun dia sudah bankrut, tetapi dia tetap ingin memberikan yang terbaik bagi seluruh keluarga.
“Ken, aku masih punya tabungan, jika diperlukan bisa digunakan.”
“Apa kamu sedang menghina, Kiran?” tanya Kendrick dengan tatapan tajam membuat Kirana segera menggeleng cepat, takut terjadi salah paham.
“Enggak sama sekali, Ken. Jangan tersinggung, aku hanya menawarkan. Jika saja kamu butuh untuk sesuatu, aku bisa mencairkannya.”
Kendrick menggeleng keras.
“Selama masih ada aku, jangan pakai atau gunakan sedikitpun uangmu. Aku masih sanggup untuk memenuhi kebutuhan kalian.”
Kirana mengangguk, dia memilih berbaring di ranjang karena punggungnya mulai lelah. Dia sebenarnya sama sekali tak berniat menyinggung, maksudnya baik menawarkan diri barangkali Kendrick ingin membuka usaha baru.
“Aku memang bankrut, tapi aku bukan pecundang Kiran. Ingat itu baik-baik.”
“Oke, maaf jika ucapanku salah.”
Kendrick ikut merebahkan tubuhnya di ranjang, menarik sang istri ke dalam dekapan dan mengusap punggungnya lembut.
Matanya terpejam, tetapi tak benar-benar tertidur. Dia hanya sedang menghindari obrolan sensitif ini, masalah uang dalam rumah tangga selalu menjadi hal sensitif jika tidak dalam waktu dan kondisi yang tepat.
Bukan salah keduanya bersikap antisipasi, mereka hanya sedang resah yang dibalut sikap baik-baik saja.
Dua hari kemudian, Kirana mendapati satu persatu mobil mewah limitid edition milik sang suami berpindah tangan.
Saat ditanya apa yang terjadi, pria itu hanya membalas dengan senyum yang paling manis, tanpa berkata apa pun.
Tiga hari kemudian Indra datang dan memberitahu bahwa Kendrick akan membuka usaha showroom mobil. Indra bahkan masih setia ikut dengan suaminya walaupun pria itu sudah tak memiliki perusahaan lagi.
Kendrick yang baru datang segera menghampiri Kirana. “Aku pergi dulu, kamu jangan banyak melakukan pekerjaan. Aku pulang malam, nggak usah ditunggu,” ucapnya setelah mengecup kening dan bibirnya.
“Hati-hati, ya. Semoga apa yang papa usahakan diberi kelancaran,” sahut Kirana dengan senyum tipis.
“Jangan lupa makan dengan benar. Minum susu dan vitamin.”
Kirana mengangguk, menatap kosong kepergian sang suami yang sudah tak terlihat lagi.
“Semoga ada jalan untuk kita,” ucapnya perih sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.
Malam semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mata itu masih terjaga tanpa rasa kantuk, menunggu suaminya pulang.
Tak lama terdengar pintu kamar terbuka, dia segera menoleh dan mendapati sang suami dengan wajah lelah.
Kirana langsung bangun, menghambur ke dalam pelukan pria itu dan mencium aroma yang selalu membuatnya tenang.
“Lho, kok belum tidur?”
“Enggak bisa tidur, butuh pelukan,” sahut Kirana sambil terkekeh.
“Udah minum susu?”
Kirana mengangguk.
“Aku mandi dulu, nanti aku peluk-peluk.”
“Jangan lama-lama, aku rindu.”
“Kamu udah makan?” tanya Kirana, memainkan jemarinya di dada sang suami.
“Udah, kamu nggak perlu khawatir. Besok kamu waktunya periksa kandungan, ditemani mama, ya?”
“Iya, nggak apa-apa.”
“Sehat-sehat terus kesayanganku.”
“Papa juga tetap semangat, ya.”
Keduanya semakin mengeratkan pelukan, tersenyum dengan mata yang terpejam. Tidak akan ada ujian yang tak memiliki ujung, suatu saat pasti akan ada bahagia menyapa.
Selama hubungan mereka, mungkin ini adalah ujian pertama yang mereka lewati bersama.
...✿✿✿...
Keesokan paginya setelah Kendrick berangkat, Kirana menyusul pergi bersama dengan Diah.
Menuju salah satu rumah sakit tempat biasa kontrol kandungan.
“Kamu nggak apa-apa ditemani mama?”
“Enggak, Ma. Aku paham, Kendrick sedang sibuk, aku nggak mau jadi beban untuknya.”
“Jangan ngomong kayak gitu. Suami istri itu nggak ada istilah beban atau terbebani.”
Kirana mengangguk mengerti.
“Nanti kita tanyakan sekalian bagaimana kondisimu. Aman nggak kalau dibawa pergi. Mama mau ajak kamu belanja kebutuhan bayi.”
“Aku nggak mau tahu jenis kelaminnya, Ma. Biar nanti jadi kejutan aja.”
Diah mengangguk paham. “Nggak apa, nanti kita beli warna yang netral aja.”
Kirana hanya mengangguk dengan senyum hangat. Terima kasih untuk ibu mertua yang baik, yang selalu memberikan perhatian lebih.
Kadang kala di setiap kekurangan selalu ada kelebihan. Ada yang menentang, tetapi banyak yang mendukung dan mengasihi.
Setelah mengambil nomor antrian, mereka ikut mengantre dengan ibu hamil yang lain. Kebanyakan dari mereka ditemani suami, membuat Kirana hanya bisa menunduk sedih.
Sekuat apa pun pikirannya ingin tetap normal, hormon ibu hamil memang lebih mempengaruhi.
“Jangan sedih. Kamu nggak sendirian.” Diah yang mengerti segera mengusap bahunya.
“Hormon ibu hamil memang membuatku jadi cengeng, Ma.” Kirana terkekeh pelan, menyeka sudut matanya yang berair.
Satu persatu antrean mulai masuk ke dalam ruangan, hingga tiba giliran Kirana yang masuk.
“Selamat pagi, Bu. Silakan berbaring, kami akan lakukan pemeriksaan USG ya.”
Kirana menurut, segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian salah satu suster mendekat dan mengangkat bajunya hingga perutnya terlihat.
Setelah memberikan gel di atas perut, dokter segera mengarahkan sebuah alat di atas perutnya. Kemudian layar mulai menampilkan gambaran yang membuat matanya kembali berkaca-kaca.
“Kondisi ibu dan bayi sehat. Tekanan darah sudah normal kembali, mohon dijaga agar tetap seperti ini, ya, Bu. Jangan terlalu stress atau banyak pikiran,” ucap dokter wanita itu sambil menuliskan resep vitamin.
“Terima kasih, Dok.”
“Ada yang mau ditanyakan lagi, Bu?”
“Oh, ya, apa aman untuk membawa ibu hamil jalan-jalan? Kebetulan kami ingin membeli perlengkapan bayi,” ucap Diah dengan wajah penuh harap.
“Boleh, Bu. Asal ibu Kirana jangan sampai terlalu lelah dan perbanyak air putih.”
Setelah selesai dengan dokter kandungan, Diah segera mengajak Kirana ke mall untuk berbelanja. Bahkan wanita itu yang terlihat sangat antusias, wajahnya berbinar ceria seolah ini baru pertama kalinya.
“Dulu sewaktu Massayu hamil, dia lebih sering menghabiskan waktu bersama mertuanya karena kondisinya yang lemah. Jadi ya ini benar-benar pertama buat mama,” jelas Diah.
Sesampainya di parkiran, Kirana turun dari mobil lebih dulu. Namun saat dia berniat pergi ke toilet, matanya menangkap sekelebat bayangan seseorang yang dikenal.
“Itu ....”
To Be Continue ....