
“Ada apa, Kiran?” tanya Diah menyentuh bahu menantunya. Sudah beberapa kali dia memanggil nama tetapi tak direspon.
“Oh, enggak Ma. Kayaknya tadi aku lihat seseorang, tapi kayaknya nggak mungkin deh.”
“Siapa?”
“Nyonya Sisil,” sahut Kirana lirih, juga sedikit ragu.
Diah tampak tertegun, menoleh ke arah pandang sang menantu. Dia tidak benar-benar yakin jika itu Sisil, mengingat biasanya mereka akan pergi paling tidak bersama dengan pengawal.
“Sama siapa?” tanya Diah serius.
“Sama laki-laki, aku kayaknya nggak asing sama wajahnya. Kalau nggak salah, aku pernah ketemu dua kali,” ucap Kirana menjelaskan.
“Laki-laki? Siapa?” Diah terlihat antusias mengorek siapa pria yang bersama Sisil.
“Aku nggak tahu, Ma. Nggak kenal juga,” sahut Kirana, menggelengkan kepala karena dia benar-benar tak mengenal pria itu. Namun dari wajahnya ... tiba-tiba Kirana menyentuh tangan Diah dengan gemetar.
“Ada apa?”
“Wajah dia mirip Nyonya Sisil, Ma!”
Diah menoleh, menatap wajah serius sang menantu. Kemudian memilih tak lagi membahasnya, mereka masuk ke dalam area mall dengan Kirana yang dirangkul olehnya.
Satu persatu toko pakaian bayi mereka masuki. Justru Diah yang lebih bersemangat, bahkan dia tak segan membeli satu model pakaian yang sama dengan warna yang berbeda.
Berkali-kali Kirana protes, tetapi sama sekali tak menyurutkan keinginan Diah untuk memuaskan jiwa tuanya yang akan menjadi nenek.
Diah baru berhenti setelah satu troli sudah penuh dengan apa yang diinginkan. Saat membayar pun, wanita paruh baya itu langsung menyodorkan kartu debitnya lebih dulu.
“Bayar pakai ini saja, Mbak.”
“Ma!” Namun Diah tidak peduli dengan protes yang dikeluarkan sang menantu. Wanita itu hanya tersenyum manis menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi.
“Mau beli dress hamil yang nyaman nggak?”
Kirana menggeleng. Tidak ada wanita yang akan menolak berbelanja, hanya saja keadaan sudah tak seperti sebelumnya. Dia harus menggunakan uang yang diberikan sang suami dengan baik.
“Ayo, mama yang bayar,” ucap Diah memaksa.
“Baju hamil udah banyak, Ma. Bahkan masih ada beberapa yang belum dipakai. Udah nggak usah,” jawab Kirana menahan tangan sang mertua yang ingin memasuki toko lagi.
“Ya sudah deh.”
“Aku nggak nolak, hanya saja memang bajuku masih banyak, Ma.” Kirana memberi pengertian.
“Iya-iya, mama ngerti. Makan dulu, ya? Mau makan apa, mumpung kita lagi di luar.”
Kirana mengangguk dan memilih salah satu rumah makan yang menyediakan aneka masakan khas rumahan. Juga dengan suasana yang tenang, plus berada di tempat yang menyajikan pemandangan cantik.
Mereka berdua segera meninggalkan mall menuju lokasi yang ditunjuk oleh Kirana. Dan benar saja sesampainya di sana, Diah nampak kagum dengan suasana di sana, benar-benar khas. Di lengkapi dengan gazebo yang berdiri di atas sebuah taman air.
“Keren! Kamu tahu tempat ini dari mana Kiran?”
“Aku udah beberapa kali ke sini dulu sebelum menikah dengan Kendrick,” jawab Kirana malu-malu.
“Oh, jadi ini tempat kenangan rupanya.”
Kirana tertawa menangapi godaan Diah yang justru membuatnya merasakan perih di sudut hatinya.
Andai ... dulu dia tidak menerima, mungkin semuanya tidak akan serumit ini. Namun, namanya hati tidak bisa dipaksa. Jodoh juga tak tahu siapa, mereka hanya menuruti hati tanpa tahu apa yang akan terjadi.
...✿✿✿...
Pukul tujuh, Kirana sama sekali tak keluar dari kamar. Bahkan hanya untuk makan malam, dia memilih dibawakan ke kamar.
Kakinya pegal, punggungnya terasa kaku hingga membuatnya memilih berbaring saja di ranjang.
“Sudah makan?”
Kirana mengangguk.
“Sudah minum susu?”
“Sudah, Sayang.”
Kendrick tersenyum. “Manis.”
“Apa?”
“Kamu manis.”
“Gombal sekali.”
“Serius!”
Kirana hanya terkekeh. “Bagaimana pekerjaanmu, lancar?”
“Not bad, tapi nggak terlalu berat.”
“Semoga apa pun yang kamu lakukan dimudahkan.”
“Makasih istriku.”
“Sama-sama suami.”
Keduanya tersenyum dengan manis. Jika ada badai seberat apa pun akan bisa dihadapi jika dalam hubungan keduanya saling menguatkan, saling mengerti dan memahami.
“Sudah makan?”
Kendrick mengangguk. “Sama Indra.”
“Kamu tiap hari sama Indra, jangan jatuh cinta padanya lho.”
“Enggaklah aku masih suka lubang dibandingkan pedang.”
Kirana tertawa. “Dengan yang lain juga?”
“Jangan memancing keributan, apalagi mengorek masa lalu yang hanya membuatmu sakit hati. Itu nggak perlu, masa lalu hanya sesuatu yang nggak bisa diubah.”
“Aku hanya bercanda, Ken. Kenapa harus tegang? Itu hanya masa lalu dan hanya bisa dijadikan cerita.”
Kendrick menggeleng. “Aku mau ceritanya hanya tentang kita. Aku, kamu dan anak-anak. Tidak dengan yang lain.”
Kirana kadang heran, dulu suaminya adalah pribadi yang dingin dan datar, tetapi seiring berjalannya waktu dia paham ternyata pria itu terlihat keras di luar tetapi lembut di dalam.
Lembut di saat tertentu dan tegas jika memang diperlukan. Setidaknya Kirana bersyukur, meskipun orang tua Kendrick menolaknya tetapi pria itu tetap menguatkannya bahkan membelanya.
Namun sebenarnya bukan ini yang diinginkan. Dia menginginkan semuanya dalam keadaan baik, tetapi itu mustahil melihat bagaimana sikap orang tua Kendrick yang selalu menyudutkannya.
“Melamun terus,” tegur Kendrick mencubit hidungnya.
“Ken, aku punya tabungan. Kita bisa gunakan itu jika memang diperlukan, tapi aku mohon jangan sampai kamu meminjam pada rentenir dan sejenisnya.”
“Kamu kebanyakan nonton sinetron. Meskipun aku bangkrut, aku nggak miskin banget Kiran. Oke, beberapa mobil memang aku jual karena ingin membuka bisnis baru. Tapi masih banyak mobil lain yang bisa diuangkan jika benar-benar butuh. Meskipun aku jadi pengangguran selama satu atau dua tahun, kita masih bisa tetap melanjutkan hidup. Tapi aku tidak mau melakukannya karena aku adalah laki-laki yang harus bertanggung jawab dengan keluarga.” Kendrick menjawab dengan santai, mengatakan kejujuran yang sesungguhnya.
“Beli apa pun yang kamu mau, aku masih mampu membayarnya. Kamu nggak perlu merasa nggak enak, aku ini masih jadi pengangguran sukses lho.”
“Mana ada pengangguran sukses! Yang ada semakin lama bisa benar-benar jadi gembel jika tidak menggunakan uang dengan baik,” omel Kirana dengan mata yang menyipit tajam.
To Be Continue ....