
Kirana menerima sebuah surel di email pribadinya. Saat dibuka matanya terbelalak kaget mendapati apa yang terpampang di depan mata.
Sebuah foto vulgar suaminya dengan wanita yang selama ini digadang-gadang menjadi calon istri Kendrick.
Yemima Sandrez. Wanita cantik putri pebisnis ternama yang memiliki level sederajat dengan Keluarga Rusady.
Bukan hanya foto-foto vulgar saja. Ada juga beberapa video tak senonoh suaminya dengan wanita itu. Lalu yang terakhir video mereka berdua masuk di hotel yang sama.
Kirana menggelengkan kepala. Tidak percaya melihat apa yang ada di depan matanya. Tidak mungkin suaminya mengkhianati. Tidak mungkin!
Tangis Kirana akhirnya pecah bersamaan dengan suara ******* percintaan yang berputar dalam video tersebut.
“Aska Kendrick Rusady!” teriak Kirana emosional melemparkan laptopnya kasar.
Tanggal yang tertera di video itu menunjukkan saat suaminya tidak pulang semalaman.
Benarkah Kendrick melakukan hal itu di belakangnya?
Emosi yang tak terkendali, tekanan ketakutan yang dirasakan membuat kepalanya pusing seperti ditimpa batu besar.
Dia menghela napas berkali-kali dan mengusap perutnya dengan derai air mata yang belum bisa ditahan.
“Kuat ya, Nak.”
Kirana keluar dari kamar setelah bisa mengendalikan diri. Dia berniat mendatangi sang suami dan meminta penjelasan. Namun, belum sempat dia mencapai pintu, tubuhnya oleng dan hampir saja jatuh andai para pelayan tidak menopangnya.
Diah yang mendengar suara ribut-ribut segera menuju sumber suara. Dia terkejut melihat apa yang terjadi pada menantunya. Meminta sopir bersiap untuk membawanya ke rumah sakit. Tak lupa menghubungi Kendrick saat dalam perjalanan.
Belum mencapai rumah sakit, Kirana jatuh tidak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit, wanita hamil itu segera dibawa ke IGD dan diperiksa oleh dokter. Tak lama dokter kandungan juga datang untuk memeriksa kondisi ibu dan bayi, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Diah dan Wina menunggu di depan IGD dengan perasaan cemas. Tak lama kemudian Kendrick menyusul dan bertanya pada Diah tentang apa yang terjadi.
“Mama nggak tahu. Tadi mama ada di kamar,” jawab Diah.
Lalu Kendrick bertanya pada Wina yang memiliki jawaban sama. Namun, dia menjelaskan bahwa sebelum kejadian Kirana berniat pergi menemuinya.
Satu jam berlalu, dokter tak kunjung keluar. Membuat seluruh keluarga semakin cemas tidak karuan.
Dokter keluar dan mengatakan bahwa pasien harus segera dioperasi untuk mengeluarkan bayi dalam kandungan. Sebab detak jantung bayi tiba-tiba melemah. Jika keluarga setuju maka operasi akan dilakukan mengingat kondisi ibu yang tidak stabil.
Sebelum menandatangani persetujuan dia bertanya banyak hal mengingat usia kandungan istrinya baru delapan bulan.
Dokter kandungan menjelaskan sesuai keadaan pasien. Saat Kendrick setuju, maka pasien akan segera dipindahkan ke ruang operasi.
“Tuhan!” gumam Kendrick pelan.
Pintu ruang IGD terbuka. Istrinya tampak terpejam dengan berbagai alat bantu. Suster segera mendorong ranjang pasien menuju ruang operasi.
Dalam hati Kendrick memohon agar istri dan anaknya diberikan keselamatan. Tampak pelupuk matanya basah oleh air mata yang siap tumpah.
“Semuanya akan baik-baik saja.”
“Aku takut, Ma. Takut mereka ninggalin aku,” ucap Kendrick lemah.
“Kiran wanita kuat, dia gak akan ninggalin kamu karena sangat mencintaimu,” ucap Diah.
“Aku lebih mencintainya, Ma,” lirih Kendrick sambil menundukkan kepala.
“Semoga cinta kalian semakin kuat.”
Diah mengusap bahu anaknya. Lalu mencoba menghubungi besannya dan mengabarkan apa yang terjadi. Dia mengirim sopir untuk menjemput besannya di rumah dan membawanya ke rumah sakit.
Sambil menunggu operasi dilakukan, Kendrick dan Diah tak henti-hentinya berdoa dalam hati untuk kelancaran semua prosesnya.
Hampir satu tengah jam kemudian akhirnya suster mengabarkan bahwa operasi berjalan dengan lancar dan pasien akan dipindahkan ke ruang rawat.
“Bayi saya baik-baik saja, kan?”
“Bayi Anda sehat dan sangat tampan. Putra Anda akan dibawa ke ruang bayi dan dimasukkan ke dalam inkubator di bawah pantauan dokter sampai kondisinya stabil.”
Kendrick mengangguk haru. Dia memeluk Diah sambil bergumam, “Bayiku laki-laki, Ma.”
“Pasti akan sangat tampan sepertimu.” Diah tersenyum bahagia.
“Kami boleh melihatnya, Sus?” tanya Kendrick yang dijawab anggukan.
Mereka dituntun menuju ruang bayi, tetapi hanya bisa melihat dari luar saja. Bayi merah itu sangat tampan dengan rambut berwarna hitam legam, hidungnya mancung sepertinya. Matanya berkaca-kaca, tidak sabar untuk mendekap bayi tampan itu.
Kendrick mendekat dan menatap wajah pucat istrinya. Senyum menghiasi bibirnya, dia menunduk dan mencium kening sang istri sambil berbisik, “Terima kasih sudah melahirkan anak kita. Dia sangat tampan sepertiku.”
...✿✿✿...
Tangan Kirana mulai bergerak sedikit demi sedikit. Bola matanya bergerak, mengerjap dan akhirnya terbuka dengan lebar.
Saat pertama kali membuka mata, pemandangan pertama yang dilihat adalah suaminya yang duduk di sofa sambil berpangku pada laptop.
Kirana masih diam, belum bersuara. Mengamati suaminya dengan intens, tiba-tiba video yang dilihatnya terbayang di ingatan, membuatnya dilanda perasaan sakit yang luar biasa. Air mata menetes membasahi pipinya, tangannya yang bebas mencoba membungkam bibir, tetapi isak tangis pelan tetap terdengar dan menarik perhatian suaminya.
Kendrick mendekat saat melihat istrinya sudah sadar dan menangis. Dia mengecup puncak kepala istrinya berulang kali sambil bertanya, “Kenapa menangis? Ada yang sakit? Aku panggil dokter dulu.”
“Enggak apa-apa. Anakku di mana? Dia baik-baik saja, kan?” Kirana memilih menyembunyikan apa yang terjadi. Bukan ingin menghindar, hanya saja di rumah sakit bukan waktu yang tepat untuk membahas hal sensitif seperti itu.
“Dia baik-baik saja, sehat dan tampan sepertiku. Kondisinya masih belum stabil, dia ada di ruang bayi.”
Kirana menghela napas lega, dia meminta minum. Tenggorokannya terasa kering. Perlahan dan hati-hati, Kendrick membantunya untuk duduk.
“Perutnya nggak sakit?” tanya Kendrick cemas.
“Belum, mungkin efek obat biusnya masih ada. Hanya saja punggungku rasanya kebas,” sahut Kirana pelan.
“Mau makan nggak?”
“Enggak, aku mau tidur saja.”
Kirana kembali berbaring dan memejamkan mata. Melihat sikap perhatian suaminya justru semakin menambah perasaan sakit yang dirasakan hatinya.
Jujur dia ingin menampik semua yang telah dilihat, mengatakan bahwa suaminya tidak mungkin melakukan itu. Namun, bukankah foto-foto dan video itu sudah menjadi buktinya. Apa yang harus disangkal lagi?
Kendrick menatap sang istri yang memalingkan wajah ke arah lain. Sejak tadi pria itu tahu bahwa sikap istrinya agak berbeda dari biasanya.
Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
Namun, dia memilih tak bertanya dan kembali ke sofa saat mata sang istri mulai kembali terpejam.
...✿✿✿...
Sisil telah berhasil membujuk Rajendra untuk membawa Andrean ke perusahaan. Namun, harapan awal wanita itu kandas saat Andrean menghubungi dan berteriak marah.
Dia pikir Rajendra akan menempatkan putranya sebagai wakil direktur atau direktur utama. Namun, semuanya tidaklah terbukti. Rajendra justru menempatkan Andrean di bagian lapangan dan tak akan bersinggungan langsung dengan petinggi perusahaan.
Benar-benar kejam. Sisil mengutuk suaminya dalam hati dengan sumpah serapah.
Setelah mendapatkan panggilan dari putranya Sisil menemui suaminya di ruang kerja dengan ekspresi marah. Saat matanya bersitatap dengan suaminya, pria itu hanya menatap dingin tanpa ekspresi seperti bisa menebak tujuannya datang.
“Kau ingin membicarakan tentang Andrean, kan?” ucap Rajendra dingin.
“Ya,” sahut Sisil tanpa mengelak. “Kenapa kau tega membuat Andrean menjadi bagian pegawai rendahan! Dia itu juga putramu! Kau tidak bisa melakukan itu padanya!”
Rajendra tersenyum miring, pria itu sudah hidup lama dengan istrinya. Sudah tahu tabiat istrinya seperti apa dan bagaimana. Jadi saat wanita itu mengatakan ingin membawa Andrean bekerja di perusahaan, pasti ada yang direncakan.
“Jangan lupa aku juga pemegang saham di RD Group!” tekan Sisil mengingatkan.
Sisil termasuk pemegang saham dalam perusahaan. Dia memiliki lima belas persen saham. Sementara Rajendra pemegang saham tertinggi yaitu enam puluh persen
“Tapi semua keputusan tetap ada padaku, Sisil. Jangan lupa aku pemegang saham prioritas!” sahut Rajendra semakin dingin.
“Kau bisa membuat Andrean memiliki posisi manager, direktur keuangan atau bahkan staf biasa. Kenapa kau membuatnya menjadi pegawai lapangan! Kau selalu bersikap tidak adil padanya, padaku dan selalu mengutamakan Kendrick, Kendrick dan Kendrick terus.”
Rahang tegas Rajendra mengeras. Pria tua itu menatap istrinya dengan sorot mata yang semakin tidak bersahabat.
“Kau pikir Kendrick bisa menjadi pemimpin begitu saja? Kendrick juga memulai semuanya dari bawah. Dia belajar memulai semuanya dari nol sebelum ada di atas. Dia selalu belajar untuk menjadi pemimpin, sementara Andrean, anakmu itu tidak pernah belajar apa pun. Kau selalu memanjakannya. Kau yang membuat putramu menjadi tidak berguna!” sentak Rajendra dengan marah. Emosinya membumbung tinggi mendengar sang istri membandingkan keduanya. “Kau juga jangan lupa bahwa Andrean bukan anakku. Dia hanya anak yang kau bawa saat kau menikah denganku. Entah pria brengsek mana yang menghamili lalu meninggalkanmu,” lanjut Rajendra mengingatkan masa lalu istrinya.
Andrean memang menempuh pendidikan tinggi, tetapi otaknya memang tidak secerdas Kendrick.
Andrean terbiasa hidup mewah meskipun dalam pengasingan. Semua yang diinginkan selalu diberikan oleh Sisil. Sementara Kendrick, sejak usia dini dia telah diajarkan untuk hidup sebagai seorang pemimpin.
Dia tidak bisa bermanja-manja, tidak bisa bermain bersama teman-teman sebayanya, bahkan saat usianya menginjak dewasa, dia hanya akan terus belajar dan belajar hingga akhirnya bisa berada di puncak kepemimpinan.
“Rajendra! Kau keterlaluan!” teriak Sisil dengan marah. Dia mendekati suaminya dan melampiaskan amarahnya pada pria tua itu. Sisil memukuli dada Rajendra dengan kepalan tangan.
“Kau terlalu memandang tinggi dirimu Sisil. Kau bahkan tak ubahnya seorang ****** yang rela melakukan apa pun,” ujar Rajendra menangkap tangan sang istri.
Brak!
To Be Continue ....