Affair With CEO

Affair With CEO
Kendrick mulai ragu



Empat hari kemudian mereka terbang ke Jerman. Sesampainya di sana mereka tak langsung datang berkunjung ke rumah orang tua Kendrick. Pria itu membawanya untuk istirahat sejenak di hotel karena melihat kondisi Kirana yang lemas dan muntah beberapa kali.


Pria itu sudah menyarankan untuk memanggil dokter, tetapi Kirana menolak dan memilih istirahat saja.


“Kenapa nggak ngomong kalau kondisimu nggak sehat? Kita bisa tunda keberangkatan jika memang kamu sedang nggak enak badan,” omel Kendrick sambil mengusap punggung sang istri yang baru saja memuntahkan isi perutnya.


“Aku nggak apa, mungkin cuma masuk angin biasa aja. Nggak perlu khawatir,” sahut Kirana lemah.


“Mau masuk angin atau apa pun, itu namanya tetep sakit, lihat tubuhmu bahkan sangat lemah.”


Kirana mengusap rahang sang suami pelan, bibirnya yang pucat tersungging senyum tipis. “Jangan marah-marah terus, nanti gantengnya luntur,” candanya dengan senyum hangat.


Tanpa aba-aba Kendrick segera mengangkat tubuh sang istri dan menurunkannya di atas ranjang. Setelah itu mengulurkan segelas air hangat.


“Kita tunda aja dulu ke rumah orang tuaku. Lebih baik kamu fokus dengan kesehatan lebih dulu.”


Kirana tak membantah, dia mengangguk kemudian berbaring dengan mata terpejam. Samar-samar dirasakan ada sesuatu hangat yang menyapu keningnya.


Setelah memastikan sang istri tertidur, dia mengambil ponsel yang sejak tadi bergetar di saku. Kemudian berjalan ke arah balkon dengan kening berkerut saat melihat nomor asing sudah menghubungi beberapa kali.


Tak heran jika Kendrick memiliki nomor khusus yang kapan saja bisa dipakai di negara ini. Dia sudah sering bolak-balik datang ke negara kelahiran.


Belum sempat dia mencoba menghubungi nomor tersebut, nomor yang sama memanggil.


“Halo.”


“Astaga Ken, aku sudah menghubungimu beberapa kali dan kau baru menjawabnya. Kau sudah di rumah?” Suara itu terdengar begitu sangat dikenal, manja dan terdengar mendayu di telinga.


“Ada apa kau menghubungiku, Yemima?” sahut Kendrick dingin.


“Aku merindukanmu, Ken.”


“Sudah kubilang, jangan menghubungiku dan jangan ganggu aku!” sentak Kendrick kasar.


“Uncle dan aunty mengabari jika kau akan pulang.”


Kendrick menghela napas kasar. Sebenarnya apa yang diinginkan orang tuanya. Untuk apa pula mereka harus menghubungi wanita ini.


“Aku sibuk, Yemima. Sudah dulu, ya. Bye.”


Kendrick memilih mematikan panggilan dan mematikan ponselnya. Dia benar-benar tidak tahu, apa yang tengah direncanakan kedua orang tuanya. Kepalanya segera menggeleng pelan, napasnya memburu dengan kedua tangan yang mencengkeram pembatas balkon dengan erat.


Satu jam kemudian Kirana terbangun dengan tubuh yang sudah kembali segar. Dia memilih mandi dan segera membangunkan sang suami yang masih terlelap.


Dia berikan seluruh kecupan di wajah pria itu. Tangannya membelai dada bidang pria itu hingga membuatnya mengerang pelan sebelum membuka mata.


“Bangun, Ken. Aku lapar,” ucap Kirana dengan senyum hangat.


“Jam berapa ini?”


Kendrick bangun dan mencium pipi sang istri. “Udah baikan? Kalau belum lebih baik kita ke dokter aja.”


“Aku baik-baik aja, Ken.”


Kembali Kendrick mendaratkan ciuman singkat sebelum masuk ke kamar mandi.


...✿✿✿...


Pikirannya sedikit memikirkan tentang rencana apa yang dilakukan orang tuanya, hingga membuatnya tak terlalu bernafsu untuk menyantap makanan.


Kendrick tahu, sangat tahu bahwa meskipun dia tak mengatakan tentang pernikahannya, kedua orang tuanya pasti sudah mendengar tentang berita itu dari orang-orang yang mengawasi.


Mungkin bagi orang awam, itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Namun bagi Kendrick itu hal yang biasa, selama ini memang ada orang yang mengawasinya, tetapi kedua orang tuanya tak pernah banyak berkomentar dengan apa yang dilakukan.


Asal dia tidak membuat nama keluarga mereka menjadi taruhan. Asal semuanya baik-baik saja dan tetap di tempat yang seharusnya.


“Kamu sejak tadi melamun. Apa yang kamu pikirkan?” Kirana menyentuh lengan sang suami hingga pria itu tersentak dari lamunan.


“Aku ragu, Kiran,” ucap Kendrick pelan. “Lebih baik kita batalkan aja rencana untuk mengunjungi orang tuaku.”


Kirana tersenyum, tampak jelas keraguan dari wajah sang suami.


“Katakan apa yang membuatmu ragu.”


Kendrick bergeming, dia hanya menggenggam tangan sang istri semakin erat. Ada sesuatu yang sepertinya membuat pria itu gamang. Seperti sebuah ketakutan yang besar.


“Kita udah di sini. Tanggung banget kalau mau pulang, Ken.”


“Aku nggak tahu apa yang direncanakan orang tuaku, Kiran.”


“Kalau kita nggak datang, nggak akan tahu apa yang sebenarnya.” Kirana tersenyum meyakinkan.


“Mereka bisa melakukan apa pun.”


“Dan kamu akan selalu berada di sampingku. What's the problem?”


“Entahlah, aku takut membuatmu dalam masalah.”


“Aku yakin, semuanya akan baik-baik aja. Kita bisa melewati ini sama-sama.”


“Berjanjilah untuk tetap bertahan apa pun yang terjadi.” Kendrick menatap penuh permohonan.


“Aku akan selalu bersamamu, Ken. Jangan pernah lepaskan tanganku.”


Kendrick langsung merengkuh tubuh sang istri dan memberikannya kecupan, kemudian mereka tersenyum bersama.


To Be Continue ....