
Pagi-pagi sekali Sisil sudah berkunjung ke penthouse Andrean. Namun, putranya itu ternyata masih tidur. Dia sudah meminta pelayan untuk membangunkan Andrean, tetapi pelayan itu menolak dengan takut.
Alhasil, kini Sisil berdiri di depan pintu kamar putranya dan mengetuknya keras berulang kali hingga terdengar sahutan dari dalam.
“Apa sih, mengganggu saja!” teriak Andrean tanpa menatap siapa pelaku yang ada di depan pintu.
“Andrean!” bentak Sisil tak kalah keras. Wanita tua itu menatap putranya yang hanya mengenakan boxer tanpa atasan. Namun, yang membuatnya marah adalah jejak kemerahan bekas bibir bercampur lipstik yang memenuhi dadanya.
Jelas saja Sisil bisa menebak apa yang telah dilakukan putranya.
“Pelacur mana lagi kali ini yang kau bawa, hah?!” teriak Sisil dengan wajah merah padam.
“Ayolah, Mom. Ini masih pagi, jangan berteriak,” balas Andrean acuh tak acuh.
Terdengar suara manja dari dalam kamar, tak lama sosok wanita hanya mengenakan pakaian dalam keluar dan bergelayut di lengan Andrean.
“Cepat keluar dari tempat ini, ******!” ucap Sisil dengan penuh amarah.
“Siapa dia Sayang?” tanya sang wanita pada Andrean.
“Ibuku,” jawab Andrean dengan tatapan yang mulai berkabut penuh gairah melihat pemandangan indah di depan mata.
“Kau menginginkannya lagi?” bisik sang wanita tanpa tahu malu.
“Of course yes,” balas Andrean menarik tengkuk wanita itu dan memperdalam ciuman. Tanpa peduli dengan kehadiran sang ibu yang tengah menyaksikan adegan tak senonoh mereka.
Brak!
Andrean menarik sang wanita masuk dan menutup pintu dengan kasar. Mengabaikan kehadiran sang ibu dan memilih menuntaskan kegiatan pagi yang menyenangkan.
Sementara Sisil menahan amarah dan memilih pergi ke ruang tamu. Daripada dia memilih tetap menunggu di depan pintu kamar, mendengar suara laknat yang membuatnya nampak seperti orang bodoh.
“Anda ingin minum apa, Nyonya?” tanya pelayan menunduk takut. Tidak anak atau ibu, mereka berdua sama-sama mengerikan.
“Buatkan apa saja yang bisa mendinginkan kepalaku,” sahut Sisil datar.
Dalam hati pelayan itu ingin menjawab, “Mungkin Anda perlu es batu untuk mengompres kepala.” Namun, memilih menahan diri dan pergi ke dapur membuatkan minum.
Pelayan kembali membawa secangkir teh hijau yang memiliki aroma melati yang menenangkan. Setelah meletakkannya dia langsung mengambil langkah seribu untuk menghilang dari pandangan.
Sisil menghela napas berkali-kali. Dia memejamkan mata sambil menghirup aroma melati dari cangkir teh yang dipegang sebelum menyesapnya.
Empat puluh menit kemudian Sisil mulai bosan dan kembali dilingkupi kemarahan karena harus menunggu. Wanita tua itu bangkit, siap menghampiri kamar putranya, tetapi diurungkan saat mendengar suara pintu kamar terbuka.
Sosok wanita tadi keluar dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah Sisil. Sepuluh menit kemudian Andrean keluar dan duduk di sampingnya.
“Ada apa mommy datang pagi-pagi sekali?” tanya Andrean tanpa rasa bersalah.
“Sampai kapan kau akan bermain-main dengan para pelacur itu, Andrean? Sudah mommy bilang berhenti bermain-main dengan duniamu!” bentak Sisil dengan tatapan nyalang.
“Mommy tidak bisa melarang kesenanganku,” bantah Andrean tidak terima.
“Kau terlalu sibuk dengan para pelacur itu sampai tidak melakukan apa pun.”
“Aku melakukan apa yang mommy suruh.”
“Mana hasilnya? Tidak ada! Kau terlalu sibuk dengan klub malam, wanita dan ranjang tanpa peduli bahwa Kendrick telah merebut tempatmu.”
Andrean menghela napas lelah, lalu menjawab, “Lalu aku harus apa, Mom? Aku sudah berusaha meluluhkan hati pria tua itu tapi mana hasilnya? Tidak pernah ada. Suamimu itu tidak pernah melihatku sebagai anaknya.”
“Berhenti bermain-main dengan para wanita dan mulailah mengambil tempat di perusahaan. Buat daddy kagum dengan pekerjaanmu agar kau bisa mengambil tempat di hatinya.”
“Mommy sudah dengar sendiri bahwa dia tidak akan menyerahkan perusahaan padaku. Dia bahkan memilih kembali bergelut dengan setumpuk pekerjaan daripada menyerahkannya padaku.”
“Mommy akan berusaha membuatmu menjadi bagian dari perusahaan. Tidak masalah kau menjadi apa pun, kau harus bisa mengambil kesempatan dan menarik perhatian semua petinggi.”
Sisil telah merencanakan rencana baru. Memasukkan Andrean menjadi bagian dari RD Group dan membuat namanya dikenal secara perlahan menggantikan posisi Kendrick.
“Oke.”
Andrean tidak berniat mendebat, dia percaya saja pada rencana ibunya pasti yang terbaik.
“Bagaimana dengan Zidan dan keluarganya?” tanya Sisil menoleh dengan tatapan meminta penjelasan.
“Orang-orang suruhanku sudah mengikutinya. Dia menjalankan perintah untuk mengusik istri Kendrick.”
Setelah pembicaraannya dengan Andrean usai. Wanita tua itu kembali ke rumah dan menemui sang suami. Berniat membicarakan tentang Andrean.
“Ada apa?” tanya Rajendra datar tanpa menoleh.
“Tidak apa. Pekerjaanmu masih banyak?” tanyanya mengalihkan. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentang Andrean. Suaminya itu seperti sedang dalam suasana hati yang buruk.
“Ya pergilah. Jangan mengganggu!” usir Rajendra tanpa menatap sang istri.
Sisil hanya bisa menahan diri dan mengalah menghadapi sikap Rajendra yang selalu berlaku tidak adil padanya sejak dulu.
...✿✿✿...
Beberapa hari Kirana dilanda perasaan yang tak menentu. Setiap malam dia selalu mengigau dalam tidurnya. Ada perasaan buruk yang terus-menerus menghantui, membuat malam-malamnya tak pernah tenang.
“Ada apa, Bu?” tanya Wina melihatnya melamun.
“Kendrick belum pulang, Mbak?”
“Belum, Bu. Tuan Hanin dan Nyonya Diah pergi ada keperluan. Tadi mau pamit tapi Bu Kiran tidurnya nyenyak jadi cuma titip pesan.”
Kirana mengangguk. Dia tidur sejak sore dan melewatkan makan malam. Pukul sembilan dia bangun karena lapar dan tak melihat siapa pun lagi selain para pelayan yang masih berkeliaran.
“Anak-anak sudah makan?”
“Sudah. Bu Kiran mau makan malam?” tanya Wina memastikan.
Kirana mengangguk dan menjawab, “Ya, tolong buatkan makanan apa saja deh yang nggak terlalu ribet.”
Sambil menunggu makanan yang diminta, dia mencoba mengirimkan pesan pada suaminya. Namun, nihil. Tidak ada respon apa pun selama lima belas menit. Mencoba menghubunginya beberapa kali juga tidak mendapat jawaban.
Kirana beralih mencari nomor ponsel Indra dan menghubunginya. Dalam dering keempat panggilan akhirnya terjawab.
“Indra!”
Namun, belum sempat mendengar suara apa pun tiba-tiba bunyi panggilan berakhir terdengar.
Kirana menatap ponselnya dan kembali menghubungi Indra, tetapi nomor ponsel asisten suaminya itu sudah tidak aktif lagi.
Ponsel Indra dalam keadaan nonaktif. Mungkin kehabisan baterai.
Hati dan pikiran Kirana tengah saling berperang tentang prasangka yang menghampiri, membuatnya tanpa sadar menyenggol gelas hingga jatuh. Bunyi suara gelas dan lantai beradu di keheningan malam, membuat dirinya sendiri berjingkat kaget.
Wina terkejut dan segera menghampiri, lalu bertanya.
“Nggak apa, Mbak. Tadi gak sengaja tersenggol,” ucap Kirana turun dari kursi,. tetapi tiba-tiba dia mengeluh saat kakinya tak sengaja menginjak pecahan gelas.
“Astaga, Bu Kiran!” Wina jadi panik sendiri.
Darah keluar membasahi telapak kakinya. Lukanya memang tidak terlalu lebar, tetapi cukup dalam hingga membuatnya meringis saat rasa perih menyerang.
Wina segera memanggil pelayan dan meminta mereka membereskan kekacauan di dapur. Tak lupa juga untuk menyiapkan makanan yang hampir jadi. Sementara dirinya segera membawa majikannya ke arah ruang keluarga dan segera mengobatinya.
Setelah membersihkan lukanya dengan alkohol, Wina memberikannya obat merah dan salep luka, lalu membungkusnya dengan kain kasa.
Entah Kirana merasakan sakit seperti apa, tiba-tiba air mata menetes membasahi pipinya. Meluncur begitu deras tanpa bisa dihentikan.
“Bu Kiran, ada apa? Yang mana yang sakit? Aku panggil dokter ya, Bu.” Wina panik dan takut sendiri karena dia pikir majikannya kesakitan.
“Enggak, Mbak. Ini gak sakit kok,” jawab Kirana pelan.
“Kok Bu Kiran nangis?” tanya Wina semakin tidak mengerti.
Kirana menghubungi Diah dan meminta mertuanya untuk melihat ke tempat Kendrick, barangkali pria itu memang masih ada pekerjaan.
Dia menggeleng pelan dan terus mencoba berpikir positif tentang sang suami.
“Ini hanya perasaanmu saja, Kiran,” bisiknya pelan mencoba menenangkan diri.
Benarkah itu hanya perasaan biasa atau sebuah pertanda buruk?
To Be Continue ....