Affair With CEO

Affair With CEO
Kabar buruk!



Kendrick mendekati sang istri, memaksa wanita itu untuk menatapnya. Dia tidak suka dengan pertengkaran yang berkepanjangan. Karena menurutnya, marahnya seorang istri akan menjadikan rumah tampak suram.


Tak ada canda, tawa bahkan kehangatan.


Semuanya butuh penjelasan, dan dia dengan sukarela akan menjelaskan jika memang sang istri ingin mendengarnya.


“Dengar, jika kamu memang ingin tahu. Aku akan jelaskan, tapi please jangan mengajakku bertengkar. Aku nggak suka melihatmu marah.”


Kirana hanya menatap datar tanpa mau berkomentar sebelum mendengar apa yang seharusnya.


“Sarah menawarkan diri agar terbebas perjodohan gila dengan Yemima, dengan cara aku mau berpura-pura menerimanya dan melangsungkan pernikahan palsu. Tapi aku nggak mau. Karena aku nggak mau kamu salah paham,” ucap Kendrick buka suara.


“Mereka berdua sama gilanya,” gumam Kirana lirih.


“Sarah melakukan itu untuk terbebas dari perjodohan orang tuanya, dia tidak mau dan memilih mengajakku berkerjasama.”


Kirana menggeleng lemah. “Dia melakukan itu karena menyukaimu, Ken.”


“Tapi aku tidak. Tak ada hubungan apa pun yang terjalin selain kami hanya sahabat,” ucap Kendrick serius.


“Kamu menganggapnya sahabat, tapi jangan lupa jika dia menyukaimu. Pasti dia berharap lebih denganmu!” tegas Kirana, menatap dengan tajam sang suami.


“Ayolah, Kiran. Trust me,” mohon Kendrick dengan wajah muram.


“Aku selalu percaya padamu, Ken. Tapi aku nggak percaya dengan wanita bernama Sarah itu. Jangan lakukan apa pun, aku benci harus mengakui jika ini adalah kecemburuan yang berlebihan.”


Kendrick tersenyum, dia mendekat dan memeluk istrinya. Menghadiahi kecupan di kening sebelum akhirnya berkata, “Aku suka melihatmu cemburu. Tandanya kamu mencintaiku dan takut kehilanganku.”


Bugh!


Kirana memukul dada pria itu keras. “Jangan membuat ulah. Jujurlah apa pun yang terjadi, jangan menyembunyikan sesuatu dan menanggungnya sendirian.”


“Aku hanya nggak mau membuatmu kepikiran.”


“Tapi sebagai suami istri, kejujuran dan kepercayaan itu kunci utama. Jika ada sesuatu katakan, aku nggak mau, tiba-tiba kamu seperti Zidan. Diam-diam menyakiti, diam-diam menikahi wanita lain.”


“Heh, enak aja. Aku bukan pria brengsek, ya,” sahut Kendrick dengan sewot, dia tidak terima disamakan dengan pria tukang selingkuh dengan alibi demi keturunan atau yang lainnya.


“Aku memang brengsek, tapi itu ... dulu, sebelum aku bertemu denganmu lagi. Sekarang aku udah jadi pria baik!” lanjut Kendrick tegas, menunjukkan wajah serius.


“Benarkah?”


“Sure!”


“Ceritakan apa pun padaku hingga aku tak perlu bertanya-tanya.”


“Oke,” sahut Kendrick sekenanya.


Setelahnya mereka melewati malam panjang bersama. Penuh kerinduan, gairah dan peluh yang membanjiri.


Ponsel milik Kirana yang ada di atas nakas berbunyi beberapa kali. Bergetar dengan suara yang membuat mata yang baru saja terpejam itu terpaksa bangun.


Tangannya meraih ponsel pintar tersebut dan menjawabnya tanpa melihat siapa yang memanggil.


“Apa?” Seketika itu mata kantuknya terbuka lebar dengan tubuh bergetar. Suara pekikan yang lantang membuat Kendrick tersentak bangun begitu saja.


Kirana membeku, napasnya memburu dengan tubuh yang bergetar. Matanya berkaca-kaca dengan bulir bening yang tumpah begitu saja, membuat Kendrick kebingungan dengan perubahan ekspresinya.


“Ada apa, Kiran?” tanya pria itu mengguncang tubuh istrinya.


“Katakan sesuatu!”


“Toko dan resto kebakaran,” sahut wanita itu lirih.


Deg!


Waktu masih menunjukkan pukul dua pagi, Kirana bersama dengan Kendrick melesat menuju restoran.


Sesampainya di sana, Kirana hanya menatap bangunan yang saat ini masih berkobar dengan si jago merah. Beberapa pemadam kebakaran sudah dikerahkan, kerumunan orang yang ada di sekitar sana turut menonton.


Bahkan bangunan yang di sebelahnya turut terbakar dengan cepat.


Kirana menatap kosong, tubuhnya luruh ke lantai saat dia sendirian, sementara Kendrick tengah bicara dengan beberapa petugas polisi yang berjaga di sana.


Setelah hampir dua jam, akhirnya api bisa dipadamkan. Bangunan itu sudah tak bisa diselamatkan karena sudah terbakar sepenuhnya.


Kabar yang sama juga diterima, bahwa toko furniture miliknya juga dalam keadaan yang sama. Bahkan dua penjaga yang ada di sana tak dapat diselamatkan.


“Kiran!”


Kabar buruk yang diterima membuat wanita hamil itu tertekan. Tubuhnya merosot dengan mata terpejam.


...✿✿✿...


Kendrick segera membawa sang istri ke rumah sakit, wanita hamil itu tak sadarkan diri dengan tubuh yang sedingin es.


“Tolong lakukan yang terbaik untuk istriku,” pintanya pada dokter sebelum dia keluar ruangan.


“Anda tidak perlu khawatir, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik,” sahut dokter wanita dengan senyum menenangkan.


Saat masih menunggu pemeriksaan dari dokter, ponselnya berdering beberapa kali. Kendrick menduga, Diah ingin bertanya mengenai keberadaannya. Kebetulan saat mereka pergi, tidak ada yang tahu kecuali sang penjaga gerbang.


“Ya, Ma,” sahut Kendrick pelan.


“Kamu di mana?”


“Aku lagi di rumah sakit. Toko dan resto kebakaran, kemungkinan dia syok hingga tak sadarkan diri.”


“Kenapa nggak ngomong! Gimana kondisinya?” Terdengar suara Diah dengan lantang bercampur panik.


“Masih diperiksa. Ada apa mama menghubungiku?”


“Gawat, Ken! Saham DD Corp menurun sampai di batas merah,” seru Diah dengan suara tertahan.


“Apa maksud mama?”


“Kami akan datang dalam satu jam.”


“Baik, Ma.”


Kendrick menarik rambutnya kasar, napasnya tampak berat. Kabar yang baru saja disampaikan oleh Diah bukan kabar baik. DD Corp adalah perusahaan milik sang ibu kandung.


Keadaan yang kacau membuat Kendrick tak bisa berpikir jernih.


To Be Continue ....