Affair With CEO

Affair With CEO
Menyalakan sumbu



“Kau mengancamku, Dad?” tanya Kendrick dengan gaya angkuh.


Kedua pria itu sama-sama memiliki sikap keras, yang membuat pembicaraan tersebut berujung pada debat tanpa ujung, membuat wanita paruh baya itu segera melerai.


“Sudah. Ken, bersikap sopan dengan daddy!” Sisil melerai, wanita paruh baya itu menatap dengan penuh peringatan.


“Katakan itu pada daddy, Mom,” sahut Kendrick.


“Kurang ajar! Kamu sudah semakin berani melawan, ya.” Rajendra yang tak suka dibantah terlihat semakin emosi mendengar ucapan sang anak.


Suasana terlihat tegang, bahkan hanya untuk bernapas saja Kirana rasanya sangat sulit. Dia memejamkan mata sejenak, walau tak tahu dengan apa yang dibicarakan, tetapi dari suasana yang terjadi di antara mereka, dia sudah bisa menebaknya.


“Aku hanya sedang menjelaskan, Dad. Tidak ada dari ucapakanku yang ingin melawan.”


“Aku tidak akan membiarkanmu membuat keluarga kita malu!” Rajendra pergi begitu saja dengan masih diliputi amarah.


“Maafkan mommy, Ken.” Sisil menyentuh bahu putra tirinya lembut.


“Istirahatlah dulu, menginap saja di sini. Jangan kembali ke hotel,” ucap Sisil dengan bahasa Inggris. “Selamat datang di Berlin,” lanjutnya menoleh sekilas ke arah menantunya.


“Terima kasih, Nyonya,” sahut Kirana dengan seulas senyum tipis.


“Nikmati waktu kalian di sini.” Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, wanita paruh baya itu menyusul pergi.


Tidak ada sambutan yang istimewa, tidak ada kehangatan yang diterima. Sisil memang tidak sekeras Rajendra, tetapi sikapnya tak jauh berbeda dengan suaminya.


Ditinggalkan berdua membuat sepasang suami istri tersebut akhirnya saling pandang dalam diam. Sebelum Kirana mengatakan apa pun, Kendrick segera mengajaknya ke kamar. Lagipula bicara di ruang terbuka seperti ini, tidak aman. Karena tembok saja bahkan memiliki telinga.


Kendrick menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan mata yang terpejam. Diikuti Kirana yang menyusul dan merebahkan kepalanya di dada pria itu. Mereka sama-sama berbaring dalam diam, belum ada sepatah kata yang terucap.


“Apa yang kalian bicarakan tadi, Ken?”


“Bukan apa-apa.”


“Kita akan lama tinggal di sini?” tanya Kirana hati-hati.


“Seminggu. Paling lama seminggu kita di sini.”


“Oke.”


“Pinjam hape dong. Mau telpon anak-anak, udah kangen banget.”


Kendrick segera menyerahkan ponselnya ke arah sang istri yang saat ini tengah mengutak-atik benda pipih tersebut. Mereka melakukan video call dengan wajah penuh kerinduan. Celotehan Rina dan Lina membuat sepasang suami istri itu tertawa lepas. Bahkan sedikit banyak sudah mengangkat beban pikiran yang ada di kepala.


“Aku boleh jalan-jalan nggak di sekitar sini?” Awalnya Kendrick ragu, tetapi akhirnya mengangguk juga. “Apa pun yang kamu dengar, kamu hanya harus percaya padaku. Jangan percaya pada orang lain termasuk kedua orang tuaku.”


Dia masih saja takut jika Kirana masih menaruh keraguan. Dibumbui ancaman Rajendra, cukup membuatnya takut bahwa ada rencana yang telah disiapkan oleh pria itu untuk mengacaukan hubungan mereka.


Ditemani satu pelayan, Kirana mulai mengeksplor mansion mewah ini. Di sayap sebelah kiri terdapat banyak pintu dengan warna yang berbeda, pelayan yang menemani menjelaskan ada apa di dalamnya, tetapi dia tak berani untuk melihat walau sudah dipersilakan.


Sangat luas, bahkan belum apa-apa saja kakinya sudah terasa lelah karena jarak dari satu ruangan ke ruangan lain cukup jauh.


Pelayan juga menjelaskan bahwa lantai tiga dan empat, hampir tak pernah dipakai. Mereka lebih sering ke kamar yang ada di lantai dua dan menghabiskan waktu di bawah.


Pikir Kirana, orang kaya memang berbeda. Bangun rumah sebesar ini, tetapi hanya beberapa ruangan saja yang benar-benar dipakai.


Berada di lantai empat yang ternyata hanya diisi ruang santai, studio, gym dan salon kecantikan. Dia berdecak kagum dalam hati, semua fasilitas tersedia tanpa harus keluar rumah.


Menuju balkon, ada sebuah kursi santai dengan banyak tanaman mahal yang dirawat dengan sangat baik. Dari lantai empat, pemandangan terlihat jelas.


“Kiran!” Suara tegas itu membuat wanita itu menoleh. Dia nampak terkejut melihat mertuanya menghampiri.


“Selamat sore, Nyonya. Maaf, aku hanya ingin berkeliling dan melihat-lihat saja.” Kepalanya menunduk dengan jari yang saling bertautan dengan gugup. Aura wanita paruh baya tersebut begitu kuat, dia tak tahu apa yang ada di pikirannya, tak juga bisa menebak apa pun.


“Tidak masalah. Ngobrol santai ditemani secangkir teh madu?”


Kirana mengangguk.


Beberapa menit kemudian, pelayan datang dan membawa dua gelas teh madu. Setelah itu Sisil memerintahkan pelayan itu pergi.


“Bahagia menjadi istri Kendrick?” Awalan pertanyaan yang biasa.


“Siapa pun yang mendapatkannya pasti akan bahagia, Nyonya.” Membayangkan hal-hal manis yang dilakukan pria itu membuatnya tersenyum.


“Tentu saja kau bahagia. Setelah dikhianati suami dan diperlakukan buruk oleh mertua, mendapatkan Kendrick adalah pencapaian besar.” Ucapan Sisil sedikit membuat Kirana tersinggung.


“Maaf, Nyonya. Jika yang Anda maksud adalah karena Kendrick memiliki segalanya, jelas itu salah besar. Karena aku lebih tertarik pada sikapnya, dibandingkan dari harta yang dimiliki,” sahut Kirana sedikit kurang nyaman. Apa definisi bahagia itu hanya diukur dari sebuah materi dan apa yang dimiliki saja?


“Semua wanita berlomba-lomba menarik perhatiannya, itu memang kenyataan. Bahkan banyak jalaang yang ditiduri saja, berharap bahwa mereka bisa menjadi sesuatu yang berharga.”


Kirana tersinggung, apa saat ini wanita paruh baya ini sedang menyamakannya dengan seorang wanita jalaang yang begitu rendah.


“Tapi itu hanya masa lalu, Nyonya. Semua orang bisa berubah dan aku lihat Kendrick memang sudah berubah.”


Sisil tersenyum tipis. Sebenarnya dia ini baik atau tidak. Sikapnya tak seperti Rajendra yang meledak-ledak, tetapi ucapannya bahkan lebih tajam dibandingkan pisau yang baru diasah.


“Apa yang bisa membuatmu meninggalkan Kendrick. Katakan saja tidak perlu sungkan!” ucapnya lembut, tetapi begitu menohok.


Kirana mengepalkan kedua tangan menahan amarah. Apa semuanya hanya dihargai dengan sebuah materi saja? Bahkan pikiran mereka jauh lebih rendah dibandingkan seseorang yang tak berpendidikan.


“Wanita yang mendekati Kendrick memang menginginkan status nyonya, itu hal yang biasa. Tapi nyonya rumah yang sebenarnya hanya akan ada satu, dia pilihan kami yang sangat berharga.”


To Be Continue ....