
“Maafkan mama yang nggak pengertian.” Rahma menghampiri Kirana yang duduk di halaman belakang.
“Nggak masalah. Itu mungkin juga hal buruk yang memang nggak seharusnya dikenang.”
Rahma mendekat dan langsung memeluknya erat. Isak tangis wanita paruh baya tersebut terdengar menyesakkan.
“Nggak semua perpisahan akan berakhir buruk, lepaskan jika kamu memang tak kuat lagi. Mama dan papa akan selalu mendukungmu.”
“Makasih, Ma. Aku juga minta tolong selama di sini anak-anak dikasih pengertian ya. Aku bingung harus jelasin mulai darimana.”
Setelah Rahma pamit pergi, Kirana kembali terdiam. Sampai dering ponsel membuatnya mengalihkan pandangan pada benda pipih yang ada di saku pakaian.
Nama ‘My Bos’ tertera sebagai pemanggil.
“Ya, Ken.”
“Kamu di mana? Pagi sore kulihat pagar rumahmu terkunci dan seperti tak ada orang.”
“Aku di rumah orang tuaku. Nganter anak-anak yang mau liburan di sini katanya. Besok pagi aku pulang langsung ke kantor.”
“Kamu baik-baik saja?” Kirana tertawa. Pertanyaan macam apa itu. Jelas dia baik-baik saja saat ini.
“Baik, Ken. Kakiku udah sembuh.”
“Aku tak bertanya soal kakimu. Tapi tentang perasaanmu!”
Mata Kirana berkaca-kaca. “Sangat baik, Ken.”
“Aku merindukanmu.”
“Sama.”
“Kamu sudah bilang pada orang tuamu?”
“Udah, mereka menyerahkan semuanya samaku. Apa pun yang terjadi mereka akan tetap mendukungku karena tahu yang sebenarnya.”
“Baguslah. Aku ada hadiah untukmu.”
“Apa?”
“Besok saat pulang kamu akan tahu.”
“Aku penasaran.”
“Cepatlah kembali. Aku sangat merindukanmu, Kirana.”
“Aku juga merindukanmu, Ken.”
Suara seseorang berdeham membuat Kirana melonjak kaget dan segera mengakhiri panggilan. Kepalanya menoleh dan melihat sang ibu berdiri di gawang pintu.
“Ada apa, Ma?” tanya Kirana gugup.
“Telponan sama siapa?” Pertanyaan tersebut semakin membuat salah tingkah.
“Atasanku di kantor. Tanya kok aku belum masuk kerja, kemarin kan izin cuma seminggu.”
“Mama mendengarnya.” Pipi Kirana bersemu merah. “Memangnya kamu ke mana seminggu, tumben amat libur panjang.”
“Aku kecelakaan, Ma.”
“Apa?!” Suara Rahma meninggi. “Kok kamu nggak ngomong sama kami? Astaga! Kamu anggap apa kami ini, Kirana.” Jelas Rahma terlihat marah. Bahkan mereka sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Kirana tak mengatakan apa pun tentang kecelakaan yang menimpanya.
“Aku nggak apa-apa, cuma kakiku aja yang sakit.”
“Maaf, Ma.” Kirana menunjukkan wajah bersalah. Sebenarnya dia memang memilih merahasiakan semuanya sebab tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.
“Lain kali, kabari kami apa pun yang terjadi, Nak.”
“Iya, Ma.”
“Ada hubungan apa kamu dengan atasanmu itu?” Tiba-tiba pertanyaan tersebut membuat Kirana kembali gugup.
“Hubungan kami ya sebatas karyawan dan atasan, Ma.”
“Masa karyawan dan atasan ngomongnya pakai kangen-kangenan. Mama dengar lho,” sahut Rahma menuntut penjelasan.
“Dia tetanggaku,” jawab Kirana singkat.
“Mama nggak tanya itu. Ada hubungan apa kamu dengan pria itu? Ingat Kirana kamu masih sah berstatus istri orang.”
“Aku nggak lupa. Aku sadar dan paham tentang statusku yang masih dalam ikatan pernikahan,” jawab Kirana yang pada akhirnya terbawa emosi.
“Jadi kamu mengakui bahwa kamu terlibat asmara dengan atasan sekaligus tetanggamu itu?”
“Ya,” jawab Kirana yang tak lagi mau mengelak.
Mendengar jawabannya, sang ibu menoleh dengan cepat. Raut wajahnya terlihat tak bersahabat, ada perasaan kecewa yang sedikit terlihat sorot matanya yang lembut.
Wanita paruh baya itu menghela napas dalam-dalam, menggenggam tangannya lembut.
“Mama enggak ngelarang kamu dekat dengan siapa pun, tapi kamu masih sah berstatus istri orang. Akhiri yang satu, baru mulai dengan yang baru. Jangan dua-duanya kamu gandeng gitu, laki-laki yang punya harga diri tak akan mendekati istri orang, Kirana.”
“Hubungan kami nggak seperti yang mama bayangkan. Aku dan dia tahu batasannya, Ma. Lagipula ini bukan hanya soal dia saja, ini juga salahku yang juga menerimanya.”
“Mama tahu kamu kecewa dengan Zidan. Tapi bukan berarti kamu dengan mudah menerima orang lain.”
“Oke, Ma. Sudah cukup! Aku nggak mau berdebat, ini sudah malam. Selamat malam.” Kirana menghindar dan segera kembali masuk ke rumah.
Meninggalkan Rahma yang hanya bisa menghela napas dalam-dalam sambil menatap nanar kepergian sang anak. Mengapa Kirana harus melalui hal yang serupa dengan dirinya? Mengapa?
“Maaf, Ma. Aku tahu yang kulakukan salah, tapi semuanya terjadi bukan hanya karena kehadiran Kendrick yang menawarkan perhatian. Jika aku tak menerimanya mungkin hubungan terlarang kami tak akan terjadi. Tapi ... aku menginginkannya.”
...✿✿✿...
Pukul delapan pagi Kirana sudah menginjakkan kakinya kembali di kantor. Sapaan ramah dan hangat para karyawan lain yang tahu tentang kecelakaan yang menimpanya terdengar di sepanjang jalan menuju ke lantai atas.
Baru saja keluar dari lift, aroma semerbak kopi hitam yang segar sudah tercium. Saat melewati lorong ia melongok ke arah pantry, Sumini terkejut dengan kehadirannya.
“Bu Kirana, apa kabar? Saya dengar ibu kecelakaan dan harus istirahat total.”
Kirana mengangguk. “Tapi udah baikan, Bu. Buat kopi untuk siapa?” Bertanya saat melihat secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas.
“Pak Kendrick, Bu. Semalam beliau tidak pulang dan menginap di ruangannya.” Kirana sama sekali tak terkejut sebab sudah sedikit banyak mengetahui kebiasaan pria itu. Kendrick lebih suka menghabiskan waktunya di kantor apabila pekerjaannya begitu banyak.
“Oh, ya sudah sini biar aku yang bawa.”
Setelah meletakkan tas dia segera berjalan masuk ke ruangan setelah mengetuk pintu.
“Nanti kalau Kirana datang suruh masuk ke ruangan saya, Bu Sumini.” Pria itu berucap tanpa menoleh.
“Do you miss me, Ken?”
To Be Continue ....