Affair With CEO

Affair With CEO
Benarkah berkhianat?



“Mama sama papa pulang saja ke rumah. Istirahat, biar Kiran aku yang jaga.”


Kendrick menoleh pada kedua mertuanya dan meminta mereka pulang saja bersama dengan Diah dan Hanin.


“Mama tinggal gak apa-apa, Nak?” tanya Rahma pada putrinya. Wanita paruh baya itu seperti tahu ada yang tidak beres. Sikap anaknya pada sang suami sedikit lebih dingin dari biasanya.


“Enggak apa-apa, Ma. Ada Kendrick yang jaga aku,” sahut Kirana pelan.


“Besok mama ke sini lagi bareng sama anak-anak,” ujar Diah kemudian mengajak besannya pergi.


Keheningan membentang selama beberapa saat setelah kepergian orang tua. Kirana tak mau menatap sang suami sama sekali, membuat pria itu mencari-cari kesalahan apa yang dilakukan hingga sang istri mendiamkannya.


Namun, nihil, Kendrick sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Dia menyentuh tangan sang istri, tetapi wanita itu langsung menghindar dengan kasar.


“Ada apa denganmu, Kiran? Kenapa sikapmu aneh dan terus menghindar dariku?” tanya Kendrick langsung pada intinya. Dia tidak bisa berbasa-basi dan membiarkannya menebak apa yang terjadi.


“Perasaanmu saja mungkin,” sahut Kirana datar.


“Katakan apa kesalahanku jika memang aku ada salah. Jangan diamkan aku dan bersikap kayak gini,” ujar Kendrick dengan helaan napas pelan.


“Aku kenapa? Aku biasa saja kok.”


“Sikapmu aneh, Kiran. Kamu terus menghindar dan menyembunyikan sesuatu.”


“Oh, ya? Bukannya kamu yang menyembunyikan sesuatu di belakangku?” desis Kirana, menatap suaminya tajam.


“Aku tidak menyembunyikan apa pun!”


“Ya, teruslah berbohong. Maka jangan pernah tanyakan apa pun lagi padaku,” bentak Kirana.


“Jangan meninggikan suaramu, Kiran!” ucap Kendrick dengan tegas.


Suasana di antara sepasang suami istri itu terlihat tegang. Kirana semakin diliputi amarah saat sang suami memilih bungkam. Sementara Kendrick tidak terima saat sang istri meninggikan suara saat ditanya baik-baik.


Kendrick bangun dari tempat duduk dan memilih keluar mencari udara segar.


Keduanya memang memiliki sikap keras yang sama. Maka jika salah satunya tidak ada yang mau mengalah, maka pertengkaran mungkin tak dapat dihindari.


Setelah kepergian sang suami, tangis Kirana kembali pecah. Hatinya benar-benar terluka, kepercayaannya dipatahkan begitu saja. Kini bukan hanya luka bekas sayatan operasi saja yang rasanya nyeri, hatinya seperti ditikam sebuah belati tajam yang membuatnya sakit, tetapi tak berdarah.


Sejak awal Kirana tahu sepak terjang seorang Aska Kendrick Rusady yang sering bermain dengan wanita. Namun, pria itu telah berjanji untuk bersumpah setia padanya, tetapi janji hanya tinggal janji.


Pria itu mengkhianatinya.


Membuatnya meragu tentang ungkapan cinta dan perasaan yang selama ini selalu dikatakan.


Benarkah itu cinta atau hanya ambisi sesaat?


...✿✿✿...


Sisil memaki, mengumpat dan mengutuk Rajendra karena telah mengurungnya di ruangan pengap yang lebih mirip seperti gudang.


Dia terus memukul kepalan tangannya di pintu yang terkunci rapat. Banyak pelayan berlalu lalang melewati ruangan, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka pintu.


“Aku bersumpah akan membunuhmu, Rajendra!”


“Akan kukirim kau menemui pelacurmu!”


Sisil terus berteriak marah. Dadanya naik turun menahan sesak akibat amarah yang meluap di dada.


Wanita itu harus menanggung amukan Rajendra karena berani melawannya. Selama ini Sisil selalu menahan diri dan bersikap baik hanya untuk mengambil tempat penting di sisi Rajendra. Namun, sayang sekali pria tua itu tetap tak pernah menganggapnya teman hidup.


Sampai saat ini Rajendra selalu menganggap hubungan mereka tak lebih dari kesepakatan.


Setelah dirinya lelah, tubuh Sisil merosot jatuh ke lantai.


“Akan kupastikan setelah keluar dari sini, aku tidak akan mengampuni segala perbuatannya padaku dan Andrean.”


Sejak kembalinya Rajendra menjadi pemimpin RD Group banyak spekulasi bermunculan tentang apa yang terjadi dan ke mana perginya Kendrick yang menghilang begitu saja tanpa pemberitahuan.


“Tidak sopan! Kenapa kau tidak mengetuk pintu lebih dulu Roy,” ujar Rajendra dingin saat sang asisten sudah berdiri di gawang pintu.


“Saya sudah melakukannya, Tuan. Tapi Anda tidak mendengarnya sama sekali,” jawab sang asisten dengan kepala menunduk.


Rajendra menghela napas dan menatap tajam. “Ada apa?”


“Nyonya Kirana sudah melahirkan. Kondisinya sempat kritis, itu sebabnya bayi dilahirkan prematur, berjenis kelamin laki-laki. Ibu dan bayinya selamat,” ujar Roy melaporkan.


“Apa yang terjadi?” tanya Rajendra dengan kening berkerut.


“Saat dibawa ke rumah sakit kondisi Nyonya Kirana dalam keadaan tidak sadarkan diri,” balas Roy mengatakan apa yang didengar dari bawahannya.


“Dasar wanita penyakitan,” desis Rajendra menghina.


“Apa Anda ingin menjenguk Nyonya Kirana, Tuan?” tanya Roy yang dibalas tatapan sengit.


Rajendra memutar kursinya membelakangi Roy, membuat asisten itu sadar diri dan keluar setelah menyelesaikan laporan.


Diam-diam pria tua itu melengkungkan bibirnya tipis dan berkata pelan, “Aku menjadi kakek. Grandpa ....”


...✿✿✿...


Sesampainya di rumah, Kirana memilih langsung ke kamar disusul Kendrick yang mengikuti.


Hubungan mereka masih dingin sejak pertengkaran yang terjadi di rumah sakit. Kendrick terus mengalah, tetapi berbeda dengan Kirana yang terus memusuhinya.


“Kamu istirahat saja. Aku mau kerja, ya,” ucap Kendrick menghampiri istrinya.


“Lakukan apa pun sesukamu,” jawab Kirana acuh tak acuh.


“Kenapa ngomong kayak gitu?”


Kirana bungkam, tak lagi menimpali. Dia memilih naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Dia harus menjaga pikirannya agar tidak tertekan. Menjaga kewarasannya agar tidak terkena baby blues pasca melahirkan.


“Kita sudah sama-sama dewasa, Kiran. Jika ada masalah katakan yang sebenarnya, jangan kayak gini. Aku nggak akan tahu salahnya di mana jika kamu saja nggak jujur.”


Kendrick duduk di sisi ranjang, mengusap rambut istrinya dengan lembut. Masih mencoba merendah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Jika ada masalah katakan, kita selesaikan dan cari jalan keluarnya sama-sama. Diam nggak akan membuat semuanya membaik, justru hanya akan membuat pikiran kita semakin jauh dari kata baik.”


Kirana membenarkan ucapan suaminya. Namun, dia masih enggan membicarakan itu dan memilih memejamkan mata hingga terdengar helaan napas dari bibir suaminya.


“Ya sudah, aku mau ke showroom dulu. Kamu jangan banyak pikiran,” kata Kendrick, mengecup puncak kepala istrinya dan keluar dari kamar. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, dia sempat berpesan pada Diah untuk sesekali menengok keadaan istrinya.


Sesampainya di ruang kantornya, Kendrick menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil memijat pelipisnya yang pusing. Tarikan napas panjang dan hembusan kasar menandakan seberapa lelahnya dirinya..


“Apa yang Anda pikirkan, Tuan?” tanya Indra dengan iba.


“Banyak hal,” ujar Kendrick.


“Anda masih memikirkan kejadian malam itu?”


“Ya dan tidak.”


Indra tampak bingung dengan jawabannya, lalu menjelaskan, “Aku lebih pusing dengan sikap Kirana yang tiba-tiba berubah. Dia seperti memusuhiku dan bersikap sangat dingin.”


“Jangan-jangan nyonya sudah tahu, Tuan?”


Kendrick menggeleng dan menjawab, “Aku nggak tahu, tapi sepertinya enggak. Jika dia tahu sudah pasti dia akan marah dan meminta penjelasan.”


“Apa tidak sebaiknya tuan jelaskan saja dulu sebelum nyonya tahu dari orang lain?” Indra berkata dengan hati-hati. Tidak mau dikata menggurui.


“Dia baru saja melahirkan. Aku nggak mau buat dia jadi kepikiran dan mempengaruhi kesehatannya.” Kendrick menghela napas. “Kau sudah cari tahu siapa yang melakukannya?”


“Sudah, Tuan. Saya sudah mengarahkan beberapa orang untuk menyelidikinya. Belum ada kabar terbaru,” sahut Indra dengan pelan. Ruang geraknya tak seperti dulu saat Kendrick memegang RD Group.


“Bagaimana penjualan minggu ini?”


“Mencapai target yang Anda inginkan, Tuan.”


“Terima kasih untuk kerja kerasmu, Indra.”


Jarang ada orang setia seperti Indra. Pria itu tetap berada di sisinya walaupun dia tidak berkuasa seperti dulu. Bahkan Kendrick tidak akan melupakan saat asistennya itu menolak gaji yang diberikan saat dirinya menjadi pengangguran. Gaji yang diberikan sekarang pun tak lagi sebesar dulu yang bisa mencapai puluhan juta setiap bulan.


“Sama-sama, Tuan. Saya permisi jika tidak ada yang Anda perlukan.”


Kendrick mengangguk dan memilih kembali ke kursi kerjanya. Ada banyak laporan yang harus diperiksa karena beberapa hari tidak datang.


Bergelut dengan lembaran kertas membuat Kendrick semakin bosan dan memilih pulang.


Sesampainya di rumah dia melihat istri dan anak-anaknya berkumpul. Dia mendekat dan mencium istri dan kedua putrinya.


“Kapan adek bayi bisa pulang, Pa?” tanya Rina.


“Nanti tunggu adek bayinya sehat dulu,” jawab Kendrick duduk di antara kedua putrinya.


“Nama adek bayinya siapa, Pa?” tanya Lina dengan mata bulatnya yang bersinar.


“Ricky Alesandro,” sahut Kendrick dengan senyum lebar.


“Wah, nama adek bayinya bagus ya Ma.”


Kirana mengangguk. Itu nama yang memang sempat mereka diskusikan berdua. Kendrick tidak memberikan nama belakangnya sebab tidak mau membuat kedua anak tirinya merasa berbeda.


Ada ataupun tidak nama belakangnya, anak itu akan tetap dikenal sebagai putra Aska Kendrick Rusady dan Aiza Kirana Mirabelle.


Setelah menghabiskan tiga puluh menit di sana, Kirana mengikuti sang suami menuju kamar. Menyiapkan pakaian ganti dan duduk bersandar di ranjang sambil menonton televisi.


Bukan Kirana yang menonton televisi, lebih tepatnya televisi itu yang sedang menyaksikan Kirana tengah melamun. Sampai tak menyadari bahwa Kendrick telah memanggilnya beberapa kali.


Kendrick mendekat dan menyentuh bahu istrinya sambil bertanya, “Ada apa Kiran?”


Saat matanya menoleh menatap sang istri, air mata wanita itu mengalir dengan deras tanpa bisa dicegah. Tatapan mata itu terlihat terluka.


“Kenapa kau mengkhianati pernikahan kita?”


To Be Continue ....