Affair With CEO

Affair With CEO
Kasihan deh kamu!



Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Dia sudah tak sabar datang ke sana dan menyaksikan kebahagiaan mereka, atau lebih tepatnya kebahagiaan yang sebentar lagi akan berubah menjadi raungan penuh penyesalan.


Kirana meminta Wina menemani kedua anaknya berjalan-jalan di mall. Dia akan menyusul nanti setelah urusannya sudah selesai bersama dengan keluarga Pranadipa.


Sengaja dia ingin menjauhkan kedua anaknya dari masalah karena tak ingin mereka terlibat dan tertekan.


Pukul sembilan pagi dia sudah terlihat cantik dan penampilannya hari ini benar-benar terlihat maksimal. Mengingat ini adalah hari terakhir mereka, jadi dia ingin memberinya kenangan yang tak akan terlupakan.


Dress berwarna hitam berbentuk off shoulder yang memperlihatkan bahu yang putih mulus, riasan look western ala-ala negara barat menambah kesan seksi, matanya bahkan terlihat semakin tajam. High heels berwarna hitam menjadi pilihannya.


Dari atas sampai bawah semua yang dikenakan berwarna hitam tanpa ada perpaduan warna lain.


Karena hari ini akan menjadi hari duka cinta untuk mereka. Atau mungkin bisa jadi hari terakhir mertuanya juga karena terkena serangan jantung jika mengetahui sebuah fakta yang mencengangkan.


“Perfect,” gumamnya pelan di depan meja rias.


Kirana segera pergi mengendarai mobilnya menuju rumah mertua, beberapa meter dari rumah, sudah tampak begitu ramai oleh beberapa tetangga juga saudara. Dengan langkah tegas, kepala diangkat tinggi, dia siap menghadapi semua orang yang kini justru menatap iba padanya.


Bibirnya tersenyum simpul, silakan menilainya sepuas hati, toh itu tak akan mengurangi kebahagiaannya hari ini.


“Lho, Kirana?” sapa Goreti—saudara Ajeng yang berbeda ibu.


“Apa kabar, Tante?” sapa Kirana sopan.


“Baik. Tante pikir kamu sudah bercerai dengan Zidan.”


“Belum, aku masih istrinya sampai detik ini. Tapi bentar lagi enggak,” sahut Kirana pelan.


“Jadi Zidan poligami?” Kirana mengangguk.


“Udah, Tan. Aku mau ke dalam dulu ya,” pamitnya segera pergi.


Saat memasuki rumah mertuanya, dia disambut dengan tatapan terkejut semua orang termasuk sepasang suami istri yang saat ini riweh dengan bayi yang mulai aktif tersebut.


“Masih punya muka juga ya kamu datang,” ucap Ajeng menghina. Seperti biasa, mulut wanita tua itu tak pernah mengucapkan hal-hal baik.


“Kenapa harus nggak punya muka, Bu? Di sini yang salah bukan aku. Seharusnya ibu malu, mengenalkan seorang perebut suami orang dengan begitu bangga.”


“Jaga mulutmu, Mbak! Aku tidak merebut siapa pun darimu,” bentak Luna mengejutkan bayi yang ada dalam gendongan hingga suara tangisnya seketika pecah.


“Kalau kamu nggak merasa seperti itu, ya nggak usah marah. Lagipula semua orang tahu, bahwa kamu, menikahi suamiku di saat aku masih menjadi istrinya.”


“Kamu selalu saja membuat keributan!” bentak Ajeng yang mulai tak nyaman dengan keluarga mereka yang justru menjadi pusat perhatian.


“Hai, Mas Zidan. Lama tak melihatmu, kupikir kamu sudah mati, ternyata masih hidup toh.” Kirana mulai menampilkan ekspresi yang tak biasa. “Dasar pengecut, berani berbuat nggak berani menghadapi masalahnya.”


Zidan hanya menatapnya dengan mata tajam yang siap membunuh. Tangannya terkepal kuat dengan rahang yang mengeras, tetapi tak satu katapun lolos sebagai sanggahan.


“Lebih baik kamu diam atau silakan pergi dari sini,” hardik Ajeng dengan mulut yang hampir mengeluarkan sumpah serapah.


“Oke, aku duduk. Pertunjukan kan belum dimulai, nggak tenang kalau aku belum lihat sendiri.”


Kirana menarik diri, membiarkan acara dimulai lebih dulu. Dia menyaksikan dengan ekspresi datar tanpa emosi, bahkan terkesan tak peduli.


Memilih duduk di antara ibu-ibu yang cukup dikenal. Dia kembali mendengar tawa sumbang dan ejekan yang menurutnya tak pantas diucapkan sesama wanita. Seharusnya mereka memiliki simpati, justru sebaliknya. Kelemahannya dijadikan lelucon hanya karena tak bisa melahirkan seorang bayi laki-laki.


“Bu Kirana nggak malu ya?” bisik Diana dengan tatapan meremehkan.


“Enggak tuh. Ngapain harus malu, kan aku di sini korban. Daripada kamu sibuk mengasihani diriku, lebih baik kamu simpan energimu untuk nanti,” balas Kirana dengan senyum misterius.


Sekitar lima puluh lima menit menunggu akhirnya rangakaian acara yang digelar telah selesai dengan penutupan Zidan yang menyampaikan banyak kata-kata bijak. Namun, Kirana tak begitu mendengar karena dia lebih fokus pada ponsel yang dipegang.


Setelahnya, dia menyeringai lebar, ketika baru saja Zidan menyelesaikan terima kasih, tiba-tiba layar televisi berukuran 163 inch menampilkan sebuah adegan tak senonoh seorang pria dan wanita yang tengah bergumul dengan penuh gairah. Masih belum nampak siapa sosok tersebut, orang-orang di sekitarnya sudah riuh dengan suara memekik terkejut.


Zidan terlihat panik, pria itu bahkan bergegas mencari remote untuk mematikannya, tetapi itu sia-sia saja.


“Zidan cepat matikan!” teriak Ajeng kesal.


“Nggak bisa mati, Bu.”


“Cabut aja kabelnya.”


Tepat sebelum kabel dicabut, dua orang yang tadinya bergumul mesra tersebut tampak menoleh dengan wajah yang terlihat penuh keringat.


Wajah keduanya tampak jelas hingga suara pecahan sesuatu terdengar diiringi pekikan panjang seorang wanita yang kini menubruk suaminya dengan banyak pukulan.


“Tega kamu, Mas!”


To Be Continue ....