
Rajendra ditemani Roy datang ke rumah sakit berniat melihat anak Kendrick yang tak lain adalah cucunya. Namun, Rajendra tetaplah sosok keras yang memiliki harga diri setinggi langit. Dia tidak menampilkan ekspresi apa pun, tetapi dalam hatinya dia penasaran dan cukup bahagia mendengar kabar tersebut.
Laki-laki yang akan menjadi penerus selanjutnya.
Hanya darah murninya yang bisa menjadi penerus RD Group. Bukan yang lain.
Kedatangan Rajendra dan Roy menarik perhatian. Salah satunya karena mereka dikelilingi banyak pengawal yang menyeramkan.
“Apa saya perlu menghubungi putra Anda, Tuan?”
Rajendra menoleh dan menatap tajam asistennya. “Kau ingin kukirim ke mana, Roy?” tanyanya dengan nada mengancam membuat asisten itu bungkam.
Roy menuju resepsionis untuk bertanya, lalu diarahkan ke ruangan bayi oleh salah satu suster yang kebetulan lewat.
Dengan dinding kaca yang tembus pandang mereka bisa melihat ke dalam ruangan di mana bayi-bayi dirawat.
Suster yang mengantarnya tadi pamit undur diri setelah suster jaga yang ada di ruangan bayi keluar. Suster itu menanyakan siapa mereka dan dari keluarga mana. Roy langsung menjawabnya, “Tuan Kendrick dan Nyonya Kirana.”
“Bayi Nyonya Kirana yang berada di ujung sana,” ujar suster itu menunjuk ke satu arah.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Rajendra pelan.
“Sejauh ini sudah lebih baik menunjukkan perubahan yang signifikan.”
Diam-diam Rajendra mengulum senyum. Hatinya terasa menghangat. Mengingatkannya pada Kendrick saat bayi, sangat mirip sekali.
Namun, bersamaan dengan itu juga ada kilasan balik yang mengerikan sehingga membuatnya pernah membenci kehadiran Kendrick dalam hidupnya.
Kehadiran Kendrick telah merebut Denisha dari sisinya. Kelahiran sang putra justru membuatnya harus kehilangan sosok lembut yang mampu mengusik hati dan hidupnya.
“Siapa nama bayi Tuan Kendrick dan Nyonya Kirana?” tanya Roy mewakili sang tuan.
“Ricky Alesandro.”
Wajah Rajendra seketika menegang dengan rahang yang mengeras. Urat-urat di lehernya sampai menonjol dan membuat wajahnya tampak menyeramkan.
“Terima kasih, Suster.” Wanita itu kembali ke ruang rawat, meninggalkan dua pria yang telah membuat bulu kuduknya berdiri dengan aura yang dibawa.
Rajendra mengepalkan tangan marah, dia bergumam pelan, “Kenapa Kendrick tidak menyematkan nama Rusady?” Namun, ucapan itu mampu didengar oleh sang asisten.
“Karena Anda telah mengusir dan tidak mengakui Tuan Kendrick, maka ada atau tidak nama Rusady sebagai nama belakangnya, tidak akan mempengaruhi apa pun,” jawab Roy memaparkan.
Rajendra lupa akan kenyataan bahwa Kendrick telah membencinya, membuat wajah pria tua itu semakin kelam.
“Aku tidak mengakui wanita itu sebagai menantuku, tapi jelas aku akan mengakui putra Kendrick sebagai cucuku!”
Bagaimana konsepnya. Menolak wanita yang telah melahirkan cucunya, tetapi mau mengakui bayi merah itu keturunannya.
Roy mengangkat bahu. Tidak mengerti dengan jalan pikiran sang tuan yang tidak bisa ditebak.
Ibu dan anak itu satu paket. Jika menerima anaknya harus terima juga dengan ibunya, bahkan keluarganya.
“Lebih baik Anda berdamai dengan Tuan Kendrick supaya bisa mengakui bayi itu sebagai cucu Anda.”
“Tidak berdamai pun, bayi itu tetap cucuku, keturunanku. Itu tidak akan mengubah kenyataan.”
Roy mengangguk dan menjawab, “Sama dengan pemikiran Anda. Diakui atau tidak, Nyonya Kirana tetap sah menjadi istri Tuan Kendrick dan ibu dari anak itu. Anda mengakuinya atau tidak, dia tetap menantu Anda.”
Rajendra menatap asistennya dengan tatapan mengerikan. Dia pergi begitu saja dengan langkah lebar tanpa menimpali. Semua ucapannya dipatahkan oleh pria itu dengan kenyataan.
Diakui atau tidak, itu tidak akan mengubah apa pun kenyataan yang telah ada.
Sepeninggal Rajendra dari rumah sakit, Kirana dan Kendrick datang. Setiap hari keduanya selalu menyempatkan datang untuk melihat kondisi putranya.
Mereka harus menahan kerinduan dan segala perasaan yang berkecamuk dalam dada.
“Cepat sembuh, Nak. Mama ingin sekali memelukmu,” ujar Kirana menyentuh dinding kaca dengan mata berembun.
Kendrick menemui dokter dan menanyakan kondisi putranya.
“Jantungnya mulai berdetak normal, tetapi akan dilihat beberapa hari ke depan. Jika memang kondisinya semakin membaik, maka bisa dibawa pulang.”
“Putra saya pasti akan baik-baik saja, kan?”
Dokter wanita itu tersenyum, mengerti dengan kekhawatiran yang dirasakan orang tua bayi. “Kami sebagai dokter pasti akan melakukan yang terbaik, Tuan.”
“Terima kasih. Tolong kabarkan apa pun pada saya,” kata Kendrick pergi dari ruangan dokter dan kembali menemui sang istri.
Dia menyentuh bahu istrinya dan merangkul wanita itu. “Kita doakan supaya Ricky cepat sehat dan bisa berkumpul dengan kita.”
Sejak Kendrick menjelaskan kejadian pada malam itu dan meyakinkan bahwa dia tidak berkhianat, sikap Kirana sudah kembali seperti dulu.
Namun, diam-diam tanpa Kendrick ketahui Kirana juga menyelediki kasus yang dialami suaminya.
Konspirasi besar itu jelas dilakukan oleh orang-orang berkuasa yang bisa melakukan apa pun. Buktinya video rekaman CCTV hotel yang diminta Kendrick sudah tidak ada, tetapi video itu bisa sampai di tangannya.
Bukankah itu aneh?
Kirana menduga pihak hotel juga turut terlibat. Termasuk klien baru yang ditemui di hotel tersebut.
Itu bukan kebetulan.
Itu jelas rencana yang telah disusun rapi.
...✿✿✿...
Anak buah Andrean terus meneror keluarga Ajeng yang mencari keberadaan Zidan. Dua wanita tanpa kehadiran seorang pria itu merasa ketakutan setiap saat.
Orang-orang yang datang itu bukan hanya menggeledah rumahnya saja, tetapi selalu menyiksa mereka lebih dulu. Ajeng sudah pernah ingin melaporkan mereka ke polisi, tetapi justru ancaman dan tindakan yang diterima. Hingga membuatnya tidak pernah berani melakukan apa pun selain pasrah.
Pernah Ajeng mengajukan dirinya untuk menggantikan Zidan mengganggu target utama. Namun, mereka sudah tidak percaya lagi dan tidak memberikan kesempatan.
Namun, sampai saat ini Ajeng masih bisa bersyukur karena para pria menyeramkan itu tak pernah meminta uang yang telah diberikan dikembalikan. Karena uang itu sudah hampir habis untuk membayar pengobatan Nina dan sisanya mereka pakai untuk bersenang-senang dengan memanjakan diri.
Setiap hari yang terjadi di rumah hanya pertengkaran antara Ajeng dan Luna yang sama-sama berteriak memaki satu sama lain.
Ajeng sudah mengusir Luna pergi, tetapi menantunya itu tetap tinggal dengan tidak tahu malu.
Bukannya tidak jengah dengan perlakukan ibu mertuanya. Luna hanya belum memiliki sandaran yang tepat untuk saat ini. Dia tidak mau keluar dari rumah ini dan menjadi gembel di luaran sana. Dia harus mencari pengganti Zidan lebih dulu. Yang lebih kaya dan memiliki kuasa tentunya.
“Bu, aku mau pergi dulu. Titip anakku kalau nangis kasih susunya nanti diam sendiri.” Luna menghampiri Ajeng di kamarnya.
“Mau keluar ada urusan,” sahut Luna.
Ajeng menatap penampilan menantunya yang mengenakan pakaian kekurangan bahan dan riasan tebal yang mencolok.
“Jangan bilang kau mau jual diri,” hina Ajeng tanpa peduli bahwa wanita itu adalah menantunya.
“Kalau iya kenapa? Ibu mau ikut? Ayo! Tapi aku gak jamin wanita tua sepertimu akan ada yang mau,” jawab Luna tak kalah kejam. Bibirnya menyeringai ketika mertuanya menatapnya tajam dengan kedua tangan yang mengepal, siap menghantamnya jika saja dia tidak segera pergi dari sana.
Tujuan Luna adalah klub malam. Karena hanya di sana dia bisa mencari pria hidung belang yang butuh kepuasan.
Pada kenyataannya Luna harus kembali ke tempat di mana dirinya berada. Dari wanita malam, menjadi nyonya yang dimanja dan kini harus kembali menjadi wanita malam lagi.
Miris.
Begitulah hidup, tidak pernah bisa ditebak akan seperti apa.
To Be Continue ....