
Kirana menatap pintu ruangan yang masih tertutup, tetapi dia sedikit mendengar kala mendapati suara teriakan Kendrick yang lantang.
Dalam benaknya berpikir apa yang sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya wanita itu.
Benarkah dia calon istri Kendrick?
Lamunannya buyar ketika mendengar suara bantingan pintu yang membuatnya menoleh. Wanita berambut pirang tersebut keluar dengan wajah merah padam, sedikit melirik ke arahnya dengan sinis tetapi tak mengatakan apa pun.
“Kirana, masuk ke ruangan. Ada yang perlu kukatakan.”
“Baik, Pak.”
Segera Kirana menanggalkan meja menuju ruangan sang big bos. Baru saja masuk, dia disambut dengan pemandangan yang mengejutkan.
Ruangan yang tadinya rapi, bersih kini berantakan dengan banyak dokumen yang berserakan. Juga pecahan gelas ada di beberapa sudut yang membuatnya mengernyit heran.
“Kenapa ruangan ini bisa seperti kapal pecah? Astaga ... apa yang terjadi Pak Ken?”
“Jangan memancing emosiku, Kirana.” Suara Kendrick amat dingin, nada ucapannya penuh ancaman.
“Kenapa aku? Salahku apa?”
“Berhenti berpura-pura. Kamu tak bisa menyembunyikan bahwa kamu penasaran siapa sebenarnya wanita itu.”
“Jadi mau jelasin apa cuma mau marah-marah? Masalahmu sama dia, bukan samaku jadi jangan jadikan aku sarana pelampiasan emosimu,” sahut Kirana sinis.
Mendengar nada suara Kirana yang tak bersahabat, Kendrick segera menarik Kirana dan mengajaknya duduk.
“Aku tak bermaksud marah padamu.”
Kirana tetap diam dan tak menanggapi.
“Kamu cemburu karena wanita itu mengaku calon istriku?”
Kirana menggeleng pelan. Cemburu? Itu terlalu berlebihan, dia hanya penasaran saja. Tidak lebih.
“Jangan membohongi hatimu.”
“Jangan berbelit-belit dan berputar pada perasaan yang kurasakan. Kamu juga nggak akan tahu rasanya, jadi cukup bicara apa yang kamu inginkan.”
“Akan jadi urusanku karena itu menyangkut dirimu!” Kendrick menghela napas berat. “Aku peduli denganmu dan segala yang kamu rasakan.”
“Aku mau kembali jika nggak ada yang mau kamu sampaikan.” Kirana malas memperpanjang masalah, dia segera bangkit dan melepaskan tangan Kendrick.
“Dia bukan siapa-siapaku, Kirana! Aku bahkan tak memiliki hubungan lebih dengannya,” ucap Kendrick sebelum sosok wanitanya menghilang dibalik pintu.
“Aku sulit percaya, tapi jika kepercayaan yang kuberi kamu patahkan, mungkin nggak akan ada lagi kita. Hanya ada aku dan kamu ... sebagai orang asing.”
Kendrick membeku dengan jantung yang berdebar keras. Tangannya mengepal kuat dan menumbuk meja kaca hingga retak.
“Damn it,” umpatnya dengan suara berat tertahan.
...✿✿✿...
“Tadi Pak Zidan datang dan bawa barang-barang ini dari kantornya, Bu. Katanya beliau dipecat,” kata Wina membuatnya terkejut.
“Mas Zidan dipecat?” ulangnya yang langsung dijawab anggukan oleh Wina.
Bukannya turut prihatin, wanita itu malah menyunggingkan senyum sinis. Tanpa bertanya keberadaan pria itu dia memilih masuk ke dalam kamar.
Jika tak ada mobilnya sudah dipastikan pria itu ada di rumah orang tuanya. Apalagi sekarang dia pasti semakin betah karena memiliki bayi laki-laki yang selalu diidamkan.
Namun dalam pikirnya bertanya-tanya, sebab apa apa yang dilakukan hingga pria itu sampai dipecat.
Atau, mungkinkah ini kejutan yang dikatakan Kendrick padanya?
Tengah malam Kirana yang sudah terlelap merasakan ranjang di sampingnya bergerak pelan. Dia menggeliat pelan sebelum menoleh dengan mata melebar ketika menyadari siapa yang ada di sebelahnya.
Kirana segera bangun dan menggeser posisinya, memberikan jarak di antara mereka.
“Ada yang mau aku omongin,” kata Zidan.
“Ya udah ngomong aja, aku mendengarkan,” sahut Kirana tanpa berbalik, tubuhnya memunggungi pria itu.
“Aku dipecat dari kantor.”
“Lalu?”
“Bisakah bulan ini uang dari toko dan resto kupakai dulu. Aku membutuhakannya.” Kirana yang semula terlihat malas, segera duduk dengan tegak.
Uang dari toko dan restoran yang dimiliki sekarang sepenuhnya dikelola oleh Kirana. Setiap bulan ia akan mentransfer tiga puluh persen hasilnya pada Zidan.
“Kamu udah nggak kasih aku uang. Sekarang hak anak-anakmu mau kamu ambil juga? Keterlaluan!” Dua bulan terakhir semenjak keuangan dipegang oleh Kirana, sepeserpun gaji dari kantor Zidan tak diberikan untuknya. Menurut pria itu, uang yang dihasilkan dari bisnis mereka lebih banyak dibandingkan uang dari kantor yang hanya dua digit.
“Tiga puluh persen yang kuberikan setiap bulan, gaji dari kantor, apa itu masih kurang juga untuk memenuhi kebutuhan istri muda dan keluargamu?”
Zidan menghela napas kasar, yang dikatakan Kirana memang benar. Keluarga dan istri mudanya begitu boros hingga uang puluhan juta bisa habis dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
Namun ini bukan masalah itu. Ada yang lebih penting lagi yang harus diselesaikan.
“Kamu mau cari kerja silakan, mau jadi pengangguran juga terserah. Tapi aku tidak akan memberikan hak anak-anakmu untuk dipakai.”
“Aku meminjamnya!” seru Zidan yang mulai jenggah dengan penolakan yang dilakukan.
“Jaminan apa yang bisa kamu berikan? Kamu sekarang hanya pengangguran, Mas!” sahut Kirana sinis.
Harga diri Zidan tercabik-cabik mendengar ucapan penuh penekanan tersebut.
“Jaga bicaramu Kirana!”
Kirana tak peduli, dia kembali berbaring memunggungi dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Jangan menyeret kami yang tak tahu apa pun akibat ulahmu.”
To Be Continue ....