Affair With CEO

Affair With CEO
Sadar?



Siang harinya, Kirana mengernyit heran saat ada panggilan berulang kali dari nomor yang sama sejak beberapa menit yang lalu.


Dia mencoba mengabaikannya, tetapi panggilan itu mengganggu dan membuatnya kesal. Dia mengambil ponsel dan menjawab panggilan dengan sedikit memaksa suara ramah.


Keningnya berkerut mendengar suara yang ada di seberang sana. Awalnya dia ingin memaki orang tersebut, tetapi urung saat pria itu mengatakan sesuatu.


Awalnya dia ragu, tetapi rasa penasaran mengalahkan logikanya. Setelah panggilan terputus, dia segera bergegas mengganti pakaian dan pergi mengendarai mobil sendiri.


Sesampainya di restoran yang dituju, matanya mengedar mencari seseorang yang ingin ditemuinya. Langkah kaki membawanya mendekat saat melihat sosok yang dicari.


“Katakan apa yang ingin kamu katakan!” ucap Kirana setelah mendaratkan tubuhnya di kursi, di hadapan pria itu.


“Bagaimana kabarmu, Kiran?” tanya pria itu dengan senyum tipis.


“Baik, bahkan jauh lebih baik dibandingkan hidup denganmu,” sahut Kirana sinis. Ia tersenyum remeh ke arah mantan suaminya, apalagi ketika melihat penampilan pria itu, benar-benar sangat jauh berbeda. Tidak ada lagi pakaian mahal atau jam tangan branded yang menempel di tubuhnya. Bahkan parasnya sudah bukan seperti Zidan Pranadipa yang dulu memesona.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Kirana serius.


Pria itu mengangguk mengerti, dia tahu bahwa mantan istrinya terlihat tidak nyaman dengan pertemuan ini. Namun, Zidan terpaksa melakukannya. Niat awalnya ingin melancarkan aksi seperti yang diperintahkan, tetapi setelah merenung semalam penuh, dia sadar bahwa Kirana tak memiliki kesalahan apa pun padanya. Awal semua masalahnya bermula darinya sendiri, tidak salah jika wanita itu mengubah sikapnya.


Kebencian ibunya pada Kirana sudah mendarah daging hingga membutakan matanya. Setelah ditahan, Zidan banyak belajar tentang pentingnya sebuah keluarga. Selama ini sang ibu hanya peduli dengan semua keinginan dan ambisinya, tanpa peduli dengan anak-anaknya.


Ajeng sendiri yang mendorong kedua anaknya dalam jurang yang menenggelamkan. Zidan harus masuk penjara, sementara Nina harus gila karena semua yang terjadi. Namun, tak sedikitpun wanita tua itu pernah bertanya tentang kabar atau perasaan yang dialami. Bahkan mereka mengeluarkannya juga demi tujuan tertentu.


Kali ini dia tidak ingin mengambil langkah yang salah. Kirana adalah ibu dari dua anaknya, wanita yang selama sepuluh tahun pernah menjadi belahan jiwanya. Dia tak mau mengacaukan kehidupan wanita itu lagi dan membuatnya bersalah seumur hidup.


“Kamu kenal dengan Tuan Andrean?” tanya Zidan, membuat Kirana segera berpikir dan mengingat.


“Sepertinya enggak. Nama itu cukup asing di telingaku. Memangnya kenapa?” tanya Kirana melemparkan pertanyaan, tatapan matanya bahkan memicing curiga.


“Nyonya Sisil Rajendra?”


Jantung Kirana langsung berhenti berdetak selama beberapa detik mendengar nama itu. Dia langsung mengangguk ketika kesadarannya kembali.


“Ya, dia mertuaku. Bagaimana kau bisa tahu, Mas?” tanya Kirana semakin curiga.


“Karena mereka yang telah membuatku bebas dari penjara. Demi tujuan tertentu. Kamu tahu apa yang mereka inginkan, Kiran?” jelas Zidan dengan helaan napas panjang, dia menatap mantan istrinya dalam-dalam. “Mereka ingin menghancurkan kamu dan suamimu. Membuat suamimu benar-benar dibuang dari keluarganya karena memilihmu dan Tuan Andrean akan datang sebagai pewaris tunggal.”


Kirana tampak bingung. “Andrean siapa?”


“Dia anaknya Nyonya Sisil,” jawab Zidan yakin.


“Huh.” Kirana tampak benar-benar terkejut, dia bahkan sampai tersedak karena tak menyangka. “Kamu tahu darimana, Mas? Jangan sembarangan, ya, kamu!”


“Aku serius, Kirana. Mereka yang telah membuatku bebas dengan perjanjian aku mau mengusik kehidupan kalian,” jelas Zidan, “ini bukan keinginanku, semua rencana ibu dan Luna.”


“Jika begitu kenapa kamu justru mengatakannya padaku! Apa yang sedang kamu rencanakan, Mas? Berhenti mengusik hidupku, biarkan aku bahagia bersama dengan anak-anak.”


Dia sadar, perbuatannya di masa lalu telah menyakiti wanita ini. Itulah sebabnya dia ingin menebusnya, mungkin inilah cara yang bisa dilakukan.


“Maafkan kesalahanku di masa lalu, Kirana. Aku nggak bisa memperbaiki masa lalu, yang bisa kulakukan hanya memperbaiki masa depan. Harapanku hanya untuk kebahagiaanmu dan anak-anak,” ucap Zidan dengan kepala menunduk penuh penyesalan.


Kirana tertawa sinis, dia tidak langsung begitu saja percaya. Secepat itukah Zidan berubah hanya karena baru ditahan bahkan kurang dari satu tahun?


“Kamu boleh percaya dan tidak, tapi itu kenyataannya, Kirana. Aku menyesali semua yang terjadi di antara kita,” lanjut Zidan.


“Entahlah, aku nggak tahu harus ngomong gimana. Tapi, terima kasih banyak atas informasinya. Aku harap kamu juga bahagia dengan apa pun pilihanmu ke depan.”


“Masihkah kamu mengizinkan aku menemui Rina dan Lina?” tanya Zidan penuh harap.


“Boleh, tapi aku harus tetap meminta izin pada suamiku.”


“Aku mengerti.”


Kirana segera pamit pergi setelah urusannya dengan Zidan selesai. Pria itu memintanya menemani makan siang sekalian, tetapi dengan tegas Kirana menolak.


Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, kepalanya dipenuhi pertanyaan tentang siapa itu Andrean. Bagaimana bisa dia menjadi anak Sisil, sementara yang diketahui, wanita itu sudah tidak memiliki rahim untuk mengandung.


Lebih baik dia bertanya dengan Diah atau Kendrick nanti. Namun, tiba-tiba dia teringat akan seseorang pria muda yang bersama dengan Sisil kala itu. Wajahnya mirip sekali, dia juga pernah bertemu dengan pria itu beberapa kali.


“Rahasia apa yang kau sembunyikan, Nyonya Rajendra,” gumamnya pelan.


Sesampainya di rumah, Kirana terkejut dengan sosok sang suami yang sudah duduk di ruang tamu. Pria itu seperti sudah menunggu kepulangannya. Tatapan matanya tajam dengan rahang mengeras, bahkan dari sorot matanya ada pancaran kemarahan yang coba ditahan.


“Tumben kamu sudah pulang,” ujar Kirana mendekat, menjatuhkan tubuhnya di samping sang suami yang belum bereaksi sama sekali.


“Ada masalah, Sayang?” lanjutnya dengan panggilan kesayangan, biasanya dapat membantu meredakan emosi pria itu.


“Darimana kamu?” tanya Kendrick dingin, tetapi segera diralat saat menyadari ada yang salah dengan pertanyaannya. “Bukan, maksudku, kenapa kau pergi nggak pamit dan mengendarai mobil sendirian? Bertemu dengan mantan suami, berniat merajut cinta lama yang belum selesai,” ucapnya dengan dingin, bahkan bahu tegap itu terlihat kaku, urat lehernya sampai terlihat dengan jelas.


Kirana menggeleng. “Aku bisa jelaskan!”


“Apa yang bisa kau jelaskan, saat dengan mata kepalaku sendiri, aku melihatmu bersama dengannya!” sentak Kendrick emosi.


“Jangan meninggikan suaramu, Kendrick!” balas Kirana tak kalah keras.


Keduanya sama-sama menatap dengan datar, ada kemarahan, perasaan cemburu, semuanya bercampur menjadi satu. Tatapan keduanya seolah melumpuhkan waktu, membuat udara di sekitar menjadi sangat dingin.


“Hentikan!”


To Be Continue ....