Affair With CEO

Affair With CEO
Hi, Son!



Setelah dirawat hampir seminggu di rumah sakit, akhirnya Kirana bisa bernapas dengan lega karena bisa kembali ke rumah.


“Aku akan menebus obatnya dulu. Kamu mau tunggu di sini atau di mobil?” tanya Alfred.


“Aku akan menunggu di lobby saja.”


“Jangan ke mana-mana dan tunggu sampai aku kembali, oke?”


Kirana mengangguk dan memilih menuju ruang tunggu. Dia tidak akan sanggup berdiri lama-lama sambil menggendong sang putra yang lumayan berat.


Sambil mengajak putranya bicara, Kirana merasa ada yang mengawasinya. Dia mengedarkan pandangan untuk memastikan, tetapi tidak ada yang mencurigakan.


Tiba-tiba Kirana dilanda perasaan waspada. Dia kembali mengedarkan pandangan sembari mengambil ponsel di dalam tas, kepalanya sedikit menunduk untuk mencari nama Alfred dan menekan panggilan dengan cepat.


Sialnya, lama menunggu panggilan sama sekali tak dijawab oleh pria itu hingga dia harus mengulangnya lagi.


Matanya awas mengamati sekitar, tubuhnya menegang saat tak sengaja melihat dua orang pria berpakaian serba hitam menatap ke arahnya dengan wajah menyeramkan.


“Kau lama sekali Alfred,” gerutu Kirana tidak sabar.


Meskipun ini di rumah sakit, bukan berarti tidak akan ada tindak kejahatan di sini. Apalagi dengan masalah yang tengah menghampiri keluarganya, apa pun bisa saja terjadi.


Kirana memeluk putranya dengan erat, menyembunyikan wajah sang anak agar tak terlihat sebagai bentuk perlindungan pertama.


Namun, saat dirinya tengah berperang dengan isi kepalanya tiba-tiba bahunya ditepuk hingga membuat tubuhnya membeku, terkejut sekaligus takut. Namun, suara Alfred menginterupsi, membuatnya menoleh dengan segera.


Wajah tegangnya perlahan mengendur, diiringi ******* napas lega.


“Ada apa?” tanya Alfred kebingungan.


“Ada yang mengawasiku,” kata Kirana menoleh tetapi dua pria itu sudah tidak ada di sana. “Tadi aku benar-benar melihatnya, mereka menatap intens ke arahku.”


“Ya sudah ayo segera kembali.” Alfred ikut mengedarkan pandangan tanpa menuntut penjelasan lebih. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk bertanya banyak hal, lebih baik dia segera mengajak mereka kembali ke rumah lebih dulu.


Di dalam mobil Kirana menceritakan apa yang dialami. Mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa dua pria itu benar-benar mengawasinya.


Tubuh Kirana bahkan masih sedikit bergetar karena takut. Bukan takut pada dirinya, tetapi lebih pada memikirkan keselamatan putranya. Mungkin dia akan lebih rela terluka dibandingkan jika harus melihat putranya yang terluka.


“Tenang, Kiran. Aku akan mengurusnya, kau hanya perlu tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh apa pun yang terjadi di sekitar. Kau percaya, kan jika Kendrick baik-baik saja?”


“Aku selalu percaya pada suamiku,” balas Kirana yakin.


Kirana menoleh dan menatap pria yang tengah fokus mengemudi. “Ada yang kalian sembunyikan?”


Namun, tidak ada jawaban apa pun, Alfred memilih diam dan mengunci mulutnya rapat.


...✿✿✿...


Rajendra tetap tak bergeming saat mendengar suara handle yang terdorong diiringi suara langkah kaki mendekat.


“Kenapa kau masih di sini? Ini sudah larut malam, istirahat lah, tubuhmu juga butuh rehat walau hanya sejenak.”


Kepalanya menoleh saat merasakan sofa di sampingnya sedikit bergerak. Sisil duduk tepat di sampingnya dengan wajah lelah.


“Sejak kapan kau peduli padaku,” balas Rajendra mencibir.


“Aku selalu peduli padamu, hanya saja kau selalu menutup mata dan hatimu untuk melihat ke arahku,” kata Sisil pelan.


“Pergilah jika tidak ada yang ingin kau bicarakan.” Rajendra mengusir wanita itu dengan kasar tanpa memandangnya.


“Kau keterlaluan!”


Sisil mengetatkan rahang dan melangkahkan kakinya pergi sambil membanting pintu dengan keras.


“Di antara aku dan kau tidak pernah ada kita. Hubungan ini terlalu rusak untuk sekadar diperbaiki,” gumam Rajendra pelan, menyahut segelas wine di atas meja dan meneguknya hingga tandas.


Sejak awal dia tahu apa pun yang dilakukan Sisil, tetapi tak berusaha mencegah atau memperbaikinya. Wanita itu terlalu ambisius dan gila jika menginginkan sesuatu.


“Sudah cukup permainan yang kau lakukan, Sisil. Sudah cukup! Kau pasti akan terjerat dan masuk dalam pusaran yang kau buat sendiri.”


Aura di sekitar Rajendra begitu suram. Tangannya mencengkeram gelas dengan begitu kuat, tatapan matanya semakin tajam dan menakutkan.


Tiba-tiba suara dering panggilan dan sebuah getaran membuyarkan lamunan pria itu. Ponsel yang ada di atas meja berkedip dengan layar yang menunjukkan sebuah nomor tak dikenal.


Bibirnya menyeringai, dia segera mengangkat ponsel dan mendekatkan ke telinga.


“Hi, Son ....”


To Be Continue ....