
Seperti hari-hari sebelumnya, setiap hari Kirana akan duduk dan menemani kedua anaknya. Entah itu menemani mereka belajar atau sekadar ngobrol santai.
“Ma, papa udah enggak bakal pulang ke sini lagi ya?” tanya Rina di suatu sore saat mereka tengah menikmati quality time.
“Enggak, tapi kalau adek sama kakak kangen nanti mama antar ke rumah nenek. Kalian masih boleh ketemu sama papa, kok.”
“Papa lupa ya sama kami?” Pertanyaan polos itu lolos begitu saja dari Lina.
“Siapa bilang? Enggak dong, papa nggak mungkin lupa sama adek dan kakak. Walaupun nggak ada di sini tapi papa sayang sama kalian dan nggak akan lupain anak-anak cantiknya.” Kirana mencoba menghibur walaupun tak tahu bagaimana perasaan Zidan pada anak-anaknya.
Rina terlihat murung. “Tapi buktinya papa lupa sama kita. Masa antar Radit ke sekolah tapi lihat aku sama adek diam aja,” ungkapnya pelan.
“Mungkin papa lagi terburu-buru, Kak.” Alasan yang klasik sebenarnya, tetapi mau bagaimana lagi. “Emang papa atau nenek nggak pernah nemuin kakak di sekolah?”
“Enggak tuh. Malahan aku lihat kemarin nenek bawa Radit jalan-jalan katanya. Padahal kami aja nggak pernah diajak jalan-jalan. Radit bilang dibelikan nenek mainan robot yang mahal, aku minta uang dua puluh ribu aja nenek marah-marah katanya kami boros.” Cerita Rina dengan mata yang berkaca-kaca membuatnya menahan pilu.
“Iya deh, Radit aja cerita katanya sering diajak nenek sama tante jalan-jalan,” terang Lina polos. “Aku bilang aja, nggak diajak papa juga masih ada mama yang setiap minggu ajak jalan-jalan.”
“Iya dong, nggak apa-apa. Kan ada mama,” sahut Kirana dengan senyum yang dipaksakan.
Sebegitu benci kamu dengan cucumu sendiri hingga berbuat seperti ini, Bu? Di mana hati nurani dan sikap seorang yang seharusnya dipanggil nenek? Tega kamu, Bu. Kamu boleh membenciku sebanyak apa pun, tapi mereka nggak salah apa-apa.
Kirana hanya mampu memeluk dan mengusap bahu mereka dengan pelan untuk memberinya ketenangan bahwa masih ada dirinya yang akan selalu ada untuk mereka.
“Kakak sama adek kalau mau apa-apa bilang sama mama atau mbak Wina.”
“Tapi kan kasihan mama kerja tiap hari, capek. Jangan beli barang yang nggak diperlukan, beli apa pun dalam batas wajar dan nggak boleh berlebihan. Karena jika kita rajin bekerja dan rajin menabung nanti uangnya banyak. Kalau mau beli sesuatu yang mahal harus menabung dulu, itu kan kata mama.”
Kirana mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca dan mencium puncak kepala Rina berkali-kali.
“Tapi sesekali boleh. Kan mama kerja juga buat kalian,” sahutnya pilu.
“Sayang mama.” Rina semakin mengeratkan pelukan di tubuhnya.
Mama lebih menyayangi kalian. Sayang banget sampai nggak rela jika ada yang menyakiti kalian walau hanya sekedar sebuah kata.
Kirana menarik nafas panjang dan menggigit bibir yang mulai bergetar. Cairan bening kembali meleleh dari Bali pelupuk mata mengalir tanpa jeda membasahi pipi.
...✿✿✿...
Jumat pagi, Kirana datang ke kantor lebih awal karena ingin menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Bahkan saat dia datang suasana masih begitu sepi karena hanya ada beberapa OB yang berlalu-lalang membersihkan setiap sudut gedung ini.
Tanpa terasa dua jam berlalu dan dia sudah selesai memeriksa dua dokumen hingga saat sadar waktu sudah menunjukkan pukul delapan, segera menuju pantry dan membuat kopi untuk sang atasan.
Saat akan kembali, mereka berpapasan di lorong saat pria itu baru saja datang.
“Aku ada kabar baik.”
Kendrick membisikkan kalimat yang membuat Kirana terbelalak lebar.
“Ini pasti bercanda. Kamu yakin?”
“Yakin, Sayang.”
“Ada buktinya nggak?”
“Ada dong. Bicara tanpa bukti itu hoax, bisa jadi jatuhnya fitnah. Tapi ini terbukti dan akurat seratus persen terkonfirmasi.” Kendrick sudah seperti pembawa acara berita yang menyampaikan fakta yang aktual dan terpercaya.
“Bagaimana caranya? Kok kamu tahu?”
“Uang yang berbicara,” sahut Kendrick, terkekeh pelan.
“Sebentar lagi,” gumam Kirana pelan.
“Aku tidak sabar menunggu.”
Hubungan mereka semakin dekat, semakin intens dan mulai membuka diri dalam obrolan-obrolan yang serius.
Kendrick dan Kirana sepertinya sedang mendalami karakter. Keduanya mulai bersikap terbuka satu sama lain.
...✿✿✿...
Waktu terus berlalu dengan begitu cepat. Kirana hidup sendiri hanya berteman dengan kedua anaknya dan Wina.
Walaupun waktu terus berlalu dengan begitu cepat, tetapi dia tak pernah lupa untuk mengirimkan hak Zidan setiap bulan. Dia menyadari bahwa di dalam uang yang didapat ada hak pria itu dan dia tak mau mengambilnya.
Dari yang awalnya masih risih hingga mulai terbiasa, setiap hari selalu saja ada drama yang dilakukan mertua dan ipar juga madunya yang mengusik harinya.
Di suatu sore, Nina datang mengantarkan sebuah undangan yang tak lain adalah perayaan tiga bulan lahirnya putra Zidan dan Luna.
Ini memang sudah menjadi kebiasaan. Tiap tiga bulan kelahiran seseorang mereka akan mengadakan suatu perayaan untuk mengenalkan calon keluarga baru.
“Aku masih diundang ya? Bukannya aku udah bukan lagi keluarga kalian?”
“Kamu datang aja sebagai tamu bukan sebagai keluarga. Lalu di sana kamu bisa lihat bagaimana bahagianya kami tanpa kamu. Sekalian biar kamu bisa nangis darah di sana,” jawab Nina sinis dan segera pergi begitu saja.
Kirana terkekeh sinis. Inilah yang ditunggu, apalagi melihat gaya bicara Nina yang masih saja sombong sepertinya bukan dia yang akan menangis darah melainkan adik iparnya ketika mengetahui rahasia besar yang akan dikeluarkan nanti.
“Aku tidak sabar menunggu esok hari,” gumamnya dengan bibir yang menyeringai.
To Be Continue ....