Affair With CEO

Affair With CEO
Menepati janji



Suara ketukan pintu berulang kali membuat Kendrick yang ada di ruang kerja segera keluar.


“Ada apa?”


“Itu ... Tuan, Nyonya Kirana ngamuk dan mengusir suami dan mertuanya.”


Deg!


Kendrick tersentak kaget dengan tubuh yang menegang. Segera dia membawa langkahnya keluar dan di depan rumah wanita itu sudah berkerumun beberapa orang yang menyaksikan.


Mereka hanya menonton tanpa mau melerai atau menghentikan. Pun dengan dirinya yang hanya berdiam menonton bagaimana marahnya Kirana, bahkan wanita itu terlihat lepas kendali dan tak peduli bahwasanya saat ini dirinya sedang menjadi tontonan.


“Keterlaluan kamu!” Pria yang menjadi suami Kirana membentak keras sebelum mengajak keluarganya pergi dengan menyeret sebuah koper di tangannya.


Brak!


Bantingan pintu terdengar keras ketika Kirana masuk ke rumah dan kerumunan tetangga mulai berlalu.


Setelah menunggu beberapa saat, Kendrick menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum berjalan menuju rumah Kirana.


“Ngapain lagi kamu ke sini! Pergi jauh-jauh sana,” teriak Kirana tanpa melihat bahwa dirinya yang saat ini berdiri di depannya.


“Kirana,” panggilnya pelan, mendengar suaranya wanita itu mendongak dan langsung menghambur ke pelukan.


Melihat respon Kirana, dia segera masuk dan menutup pintu. Takut jika ada yang melihat kedekatan mereka.


Keadaan wanita itu benar-benar kacau. Wajahnya terlihat begitu tertekan dengan napas yang tak beraturan. Tangannya mengusap lembut punggung Kirana yang bergetar.


“Sudah tenangkan dirimu. Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Aku muak, lelah dan udah nggak sanggup lagi, Ken.”


“It's okey, semuanya akan baik-baik saja.”


Kendrick dengan sabar terus mengusap punggung wanita itu sampai terlihat tenang. Menyadari rumah sepi dia segera bertanya tentang kehadiran anaknya.


“Mereka lagi pergi sama Mbak Wina ke kedai es krim yang ada di ujung jalan,” jawab Kirana.


Baru Kendrick bisa bernapas dengan lega karena anak-anaknya tak sampai melihat perdebatan orang tuanya.


“Lebih baik tenangkan dirimu. Aku janji semuanya tetap akan sesuai keinginanmu.”


“Benarkah?”


Kendrick mengangguk yakin.


“Aku pulang dulu, takut ada orang yang lihat nanti bakal timbul masalah. Sudah, kamu jangan murung semuanya sudah berakhir,” ujarnya menenangkan.


Sebelum pergi Kendrick kembali memberikan pelukan dan kecupan singkat di kening.


Tak lama setelah kembali ke rumah, terlihat pria itu sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon, terlihat sangat serius melihat raut wajahnya yang tampak tegang.


Beberapa menit kemudian setelah panggilan terputus, Kendrick segera melempar ponselnya asal dan menghembuskan napas dalam-dalam.


“Aku akan menepati janjiku, Kirana.”


...✿✿✿...


Kirana membuka mata dan menatap dalam kegelapan. Sakit kepala sudah menghilang dan tubuhnya terasa ringan. Sembari turun dari tempat tidur, dia mendapati kekuatannya belum sepenuhnya pulih. Dengan susah payah dia berjalan menuju jendela dan membuka tirai hingga sinar mentari menerobos masuk melalui jendela kaca.


Memorinya kembali berputar pada kejadian kemarin. Lalu, semalam ia habiskan waktu dengan tangisan sampai tertidur tanpa sadar.


Semalam dia boleh bersedih dan meratapi nasib buruk yang menimpa rumah tangganya, tetapi hari ini sudah tak akan ada lagi air mata atau kesedihan yang akan dilakukan.


Ini dunia baru ... dan kehidupan yang baru telah dimulai. Dia harus menyambutnya dengan kebahagiaan.


Namun ternyata tak mudah lepas dari bayang-bayang mertua jahat dan ipar yang penindas. Buktinya baru saja dia membuka pagar rumah untuk mengeluarkan mobil, kedatangan dua wanita itu kembali membuat keributan yang memancing para tetangga.


Kirana memilih abai dan tak meladeni mereka. Percuma saja, toh mereka bukan orang yang bisa diajak bicara.


“Berani menginjakkan kakimu di rumah ini, aku tak segan menyeret dan melemparkan kalian ke tengah jalan,” ancamnya sebelum masuk ke rumah untuk sarapan bersama dengan kedua anaknya.


Tiga puluh menit seusai sarapan, dia segera mengajak anaknya berangkat ke sekolah. Beberapa kali Rina bertanya mengapa ada nenek dan tantenya di rumah tetangga, tetapi dia hanya menjawab sekenanya.


Tentu saja kabar tentang apa yang dilakukan jelas sudah menyebar ke mana-mana melihat ibu dan iparnya suka mendramatisir keadaan. Mereka berdua pasti menjelekkan dan menyudutkan seolah-olah dia yang paling bersalah. Kirana tak akan terkejut lagi, itulah perangai mereka.


Namun dia sudah kebal untuk tetap melawan.


“Di sekolah jangan nakal. Nanti mbak Wina yang jemput,” ujar Kirana mengingatkan.


“Kalau papa jemput juga nggak boleh ikut, Ma?”


“Enggak. Selain sama mbak Wina jangan pernah ikut, kalau perlu kalian tunggu di pos satpam aja ya.” Keduanya mengangguk patuh.


Selama dua minggu menghabiskan waktu di rumah orang tuanya. Rina—anak pertamanya mulai mengerti tentang percekcokan antara kedua orang tuanya. Rahma menjelaskannya dengan begitu sederhana hingga jawaban gadis kecil itu membuat siapa pun pasti akan terharu.


“Kalau memang mama udah nggak sayang papa, nggak apa-apa kalau udah nggak sama-sama lagi asal mama tetap akan bahagia dan sayang sama kami.”


Mendengar jawaban tersebut, Kirana langsung menangis penuh haru bercampur pilu.


To Be Continue ....