Affair With CEO

Affair With CEO
Nyonya rumah



Seminggu lalu, dia resmi mengundurkan diri dari kantor sesuai permintaan Kendrick. Katanya, cukup jadi nyonya rumah saja, tak perlu sibuk bekerja karena itu adalah tugasnya.


Tiga hari lalu, mereka sibuk packing untuk pindah ke rumah baru. Kendrick hanya memintanya untuk membawa barang yang diperlukan. Alhasil tiga hari berkemas, hanya barang printilan yang dibawa. Semua furniture di rumah dibiarkan tetap di sana karena pria itu sudah memenuhi semuanya di rumah baru.


Yang lebih mengejutkan adalah, pria itu mengisi seluruh furniture rumah baru dari toko miliknya. Membayar dengan harga lebih mahal dari yang seharusnya, membuatnya justru merasa tidak enak.


“Ngapain merasa nggak enak, bisnis tetap bisnis.”


“Tapi kan ini juga buatku dan anak-anak. Kamu nggak ngomong.”


“Udah deh, masalah sepele nggak perlu diributkan. Lagipula itu bisnismu, usahamu. Jadi aku akan tetap ambil dan bayar sesuai harga.”


“Bahkan kamu membayarnya dua kali lipat,” gerutu Kirana pelan, dihadiahi kecupan singkat di pipi oleh pria itu.


“Udah, jangan marah. Uangmu adalah milikmu. Selama jadi istriku, aku nggak mau kamu mengeluarkan uangmu. Mengerti, Kiran?”


“Sama aja, kan.”


“Beda, pokoknya selama kamu jadi istriku, aku nggak mau kamu memakai uangmu barang cuma seribu. Kamu dan anak-anak udah jadi tanggung jawabku, jadi semua urusanku.”


Kirana hanya mengangguk karena tak sanggup menjawab. Sebenarnya yang dikatakan Kendrick adalah hal biasa, tetapi dia merasakan sesuatu yang luar biasa.


Atau memang jatuh cinta membuat semua yang awalnya biasa jadi luar biasa?


“Gimana proses hukum Zidan?”


Tiba-tiba pertanyaan itu membuatnya menoleh. Ia mengangkat bahu acuh tak acuh. “Kata Syarif, bulan depan sidang putusan. Aku ingin tahu, selanjutnya apa yang bakal dilakukan Ajeng. Karena wanita itu nggak bakal terima gitu aja setelah aku membuat kekacauan di keluarga mereka.”


“Jika dia buat salah, masukkan ke penjara sekalian.”


Kirana menggeleng. “Inginku dia memang masuk penjara, tapi bukan karena masalah baru. Melainkan tentang rencana jahatnya dulu ... bisakah kamu membantuku untuk membuat Ajeng buka mulut dan mengakui kesalahannya?” tanyanya sedikit ragu, “dia yang menyebabkan aku kecelakaan dan bayiku mati.” Bibirnya keluh saat mengatakan itu.


“Nanti, ya. Kita harus pergi ke Berlin dulu. Kita selesaikan satu persatu,” jawab Kendrick seraya mengusap punggungnya yang bergetar.


“Apa boleh aku minta mama datang buat nemenin anak-anak selama kita pergi?”


“Boleh banget, nanti biar sama mama Diah juga.”


Setelah semuanya beres, Kirana mengajak kedua anaknya untuk berkunjung ke rumah tetangga dekat dengan membawa bingkisan sebagai tanda perpisahan.


Awalnya dia tak berniat mengajak Kendrick, tetapi pria itu memilih ikut dan mereka disambut dengan keheranan semua orang yang belum tahu bahwa mereka telah menikah.


“Kami sudah menikah, beberapa minggu yang lalu. Hanya pak RT yang tahu, karena selepas pernikahan, kami lapor ke sana,” jelas Kendrick ketika pertanyaan memberondong.


“Pinter ya Bu Kirana, buang yang ono dapat ganti yang tajir melintir ....”


“Awas Pak Ken. Janda memang menggoda, tapi juga bisa menghancurkan.”


Ucapan sumbang bernada sindiran tersirat tersebut terdengar dari beberapa tetangga yang dikunjungi. Itu sudah biasa, namanya juga hidup bertetangga. Ada yang suka dan tidak itu memang biasa, karena kita tak bisa meminta semua orang untuk memiliki pilihan yang sama.


Beberapa kali Kirana harus menggenggam tangan Kendrick untuk membuat emosi pria itu mereda.


“Nggak perlu dimasukkan ke dalam hati,” bisik lirih.


“Mereka merendahkan kamu, Kiran.”


“Direndahkan tak akan mengurangi apa pun. Biarkan saja. Lagipula kita sudah tak akan tinggal di sini.”


Setelah urusan pindahan beres. Mereka segera bergegas menuju rumah baru.


...✿✿✿...


Rumah baru mereka sibuk dengan lalu lalang orang-orang yang masih membereskan beberapa sudut.


Di rumah ini, ada asisten rumah tangga Kendrick sendiri lima orang. Sudah memiliki bagian sendiri, sementara Wina hanya akan mengurus kedua anaknya. Belum termasuk satpam, tukang kebun, dan sopir. Sebenarnya ini terlalu berlebihan, lagipula dia juga bisa membersihkan rumah ini juga tanpa perlu asisten rumah tangga sebanyak itu.


Namun jawaban Kendrick selalu membuatnya terpanah.


“Aku minta kamu jadi istriku, bukan jadi pembantu rumah tangga. Selagi aku mampu bayar orang, kamu cukup jadi nyonya rumah.”


“Tapi aku harus apa? Aku nggak mau jadi pemalas.”


“Kamu bisa shopping, salon, perawatan, habisin uangku. Buat apa aku nyari uang kalau bukan buat menyenangkan anak istri.”


Cukup ... Kirana bisa meleleh jika pria itu terus memanjakannya. Bukan hanya soal materi, tetapi juga sikap yang manis.


“Apa ini yang namanya keberuntungan?”


Kendrick langsung merengkuh pinggangnya erat sambil berbisik. “Aku yang lebih beruntung dapet istri cantik, langsung dapet bonusnya dua.”


Seketika pipi Kirana bersemu merah, tawa kecil lolos begitu saja ketika pria itu kembali melanjutkan ucapannya, “Ini yang namanya nggak dapet gadisnya, dapet janda juga nggak apa-apa.”


To Be Continue ....