Affair With CEO

Affair With CEO
Welcome back



“Aih, kamu mengagetkan saja,” sahut Sean dengan wajah sedikit gugup.


“Dia siapa?” ulang Kirana dengan mata memicing curiga.


“Apa sih kamu ini. Lihat itu berita!” Tunjuk Alfred pada siaran televisi yang masih menyala.


“Bukankah itu ....” Bibir Kirana tercekat saat ingin mengeluarkan kalimat.


Alfred mengangguk membenarkan isi kepala Kirana.


“Kami curiga bahwa kematian itu memang sudah direncanakan, Kiran. Kami curiga pria tua dan Sisil sudah bergerak karena takut kebusukannya terbongkar.”


“Tapi aku nggak yakin jika Tuan Axel yang melakukan itu. Bagaimanapun Nyonya Hera itu istrinya, mereka sudah hidup bersama selama puluhan tahun.”


Sean terkekeh sinis. “Kau terlalu naif, Kiran!” cibirnya.


“Nggak ada yang nggak mungkin. Buktinya selama puluhan tahun mereka bersama, tapi pria tua itu masih bisa berhubungan dengan mertuamu. Mereka sama-sama punya ambisi untuk sebuah tujuan. Kalau hati dan pikiran sudah dikuasai nafsu, apa pun bisa dilakukan.”


“Apa mungkin Nyonya Sisil juga yang menjadi dalang dibalik tragedi yang menimpa Kendrick?” Akhirnya pikiran itu menyulut bibir Kirana untuk mengungkapkan kemungkinan yang coba disangkal.


“Bisa jadi,” sahut Sean dengan bahu terangkat.


“Apa menurutmu mungkin? Seburuk-buruknya Nyonya Sisil, dia telah membersamai Kendrick puluhan tahun. Akankah dia tidak memiliki sedikit saja perasaan?”


“Semua jawabannya sudah kamu dapatkan sejak lama, Kiran.” Sean tersenyum dan bangkit diikuti Alfred. “Kami mau pergi, kamu kalau mau keluar kabari salah satu dari kami. Jangan pernah pergi sendirian. Kamu mengerti?” Tekan Sean pada setiap kalimatnya.


“Aku mengerti. Thanks,” balas Kirana sambil tersenyum. Sungguh beruntung dia dikelilingi orang-orang yang peduli dan menyayangi keluarganya.


Kirana menjatuhkan tubuhnya di sofa dan menatap layar datar yang menampilkan berita kematian istri dari Axel. Dalam benaknya bertanya-tanya, mungkinkah jika apa yang telah terjadi pada Kendrick juga ada sangkut pautnya dengan Sisil.


“Tidak mungkin, kan?” gumamnya pelan.


Dia mencoba mengumpulkan seluruh potongan memori tentang ucapan Diah dan Sean. Meskipun tak mengatakannya langsung, ada suatu yang tersirat yang coba disampaikan.


Diah pernah mengatakan bahwa kematian ibu kandung Kendrick juga ada sangkut pautnya dengan wanita itu. Namun, Diah tak pernah menjelaskan secara rinci.


...✿✿✿...


Malam itu Sisil dan Axel tengah berpesta berdua merayakan suka cita atas kematian Hera yang ternyata sangat muda. Bahkan Axel menyesal, mengapa tak melakukannya dari dulu saja.


Sejak kematian Hera, semuanya menjadi lebih muda. Axel tak perlu lagi berpura-pura mencintai wanita itu dan membuang waktunya percuma.


“Bagaimana dengan putrimu?” tanya Sisil sambil menggoyang gelas yang dipengang.


“Dia sudah kembali ke luar negeri.”


Putrinya bersama dengan Hera, sudah ia ungsikan ke luar negeri dua minggu pasca kematian ibunya. Tidak ada yang curiga tentang kematian mendadak itu, karena sebelumnya kondisi Hera memang sudah kritis dan hampir tak tertolong.


“Kau harus menyerahkan semuanya pada Andrean.”


Axel mengangguk mengerti. Tentu saja dia akan melakukannya. “Tunggu beberapa bulan, aku akan mengalihkan semuanya.”


“Bagus. Pastikan putrimu itu tidak merusak segalanya atau aku sendiri yang akan melenyapkannya,” kata Sisil tanpa perasaan.


Keduanya menikmati malam sambil menghabiskan beberapa botol wine hingga mabuk. Mereka bercumbu, saling menumpahkan gejolak emosi yang ada dalam benak, bertukar saliva dan menyatukan gairah melembur menjadi sebuah kenikmatan yang melenakan.


Sudah hampir dua jam Sisil dan Axel melakukan pergumalan di atas ranjang. Suara deru napas yang kasar saling bersahutan, pendingin ruangan tak mampu meredam rasa panas yang menjalar di tubuh keduanya. Gejolak gairah yang dirasakan seperti tak kenal lelah.


“Rajendra tidak mencarimu?” tanya Axel dengan suara berat.


Sisil menggeleng malas dan acuh tak acuh. “Dia tidak akan peduli. Aku akan menginap saja,” katanya dengan wajah yang memerah.


Sebelum pergi Sisil memang sudah mengatakan pada Rajendra bahwa dia ada urusan bersama teman sosialitanya. Tak ada apa pun kalimat yang terucap dari bibir Rajendra menanggapi ucapannya. Itu sudah sangat biasa terjadi.


Intinya Rajendra tak pernah peduli apa pun yang dilakukan asal tidak membuatnya malu.


“Apa itu aman?” Axel kembali mendongak untuk memastikan.


Sisil mengangguk dan kembali membenamkan kepala Axel di inti tubuhnya. “Jangan khawatir. Dia tidak akan peduli apa pun tentangku,” ucapnya sambil menggeram pelan.


Mereka berdua menanggalkan masalah yang terjadi sejenak dan hanya berfokus pada kegiatan yang dilakukan. Setelah obrolan singkat itu keduanya kembali terbuai dalam kenikmatan untuk mencapai titik terindah dalam sebuah keintiman.


...✿✿✿...


Suara berisik di depan pintu membuat Sisil mau tak mau harus membuka mata. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, dia baru saja tidur beberapa jam yang lalu. Tubuhnya lelah, tenaganya terkuras habis setelah percintaan panas yang terjadi.


Tangannya menyentuh lengan Axel yang masih tertidur dengan nyaman seolah tak terganggu dengan suara berisik itu.


“Axel!” pekik Sisil mulai waspada saat menyadari pintu kamar mereka yang diketuk.


Mau tak mau Axel segera bangun dan menatap Sisil sambil bertanya, “Ada apa?”


“Ada yang mengetuk pintu.”


“Mungkin kamar sebelah. Sudahlah, kembalilah tidur. Aku masih lelah,” kata Axel kembali merebahkan tubuhnya. Pria itu seperti masih belum sepenuhnya sadar.


“Axel!”


Pada akhirnya Axel kembali membuka mata dan segera menyahut kimono yang berserakan di sofa, memakainya dan menuju pintu. Tidak sampai lima menit dia kembali lagi dengan panik saat menyadari siapa yang datang di waktu seperti ini.


“Cepat pakai pakaianmu, Sisil.” Axel sendiri sibuk memunguti pakaiannya yang tercecer di setiap sudut.


“Ada apa?”


Ketukan di pintu semakin terdengar keras dan tidak sabar. Membuat keduanya menoleh dengan cemas.


“Sebenarnya siapa yang datang?”


Brak!


Pintu terbuka dengan keras dalam sekali tendangan. Sedetik kemudian suara pekikan heboh terdengar diiringi kilatan kamera yang segera menyorot ke arah Sisil dan Axel yang hanya diam membeku.


Terkejut sekaligus syok.


To Be Continue ....