Affair With CEO

Affair With CEO
Tertipu!



“Aku nggak akan pulang ke rumah dan di rumah ibu selama beberapa hari. Kalau kamu ada perlu langsung hubungi aku atau datang ke rumah aja.” Kirana mengangguk tanpa banyak berkomentar.


Saat ini mereka semua sedang duduk di meja makan, mantap sarapan sebelum melakukan aktivitas.


“Mobilmu masih di kantor, gimana kalau pagi ini aku antar ke kantor?”


“Arah kantor kita berlawanan.”


“Nggak apa-apa. Sekalian antar anak-anak dulu.”


“Oke.”


Kirana tak ingin menyulut perdebatan. Apalagi di depan kedua anaknya, dia cukup sadar akan situasi saat ini.


Seusai sarapan mereka semua berangkat. Pertama menuju ke sekolahan untuk mengantar Rina dan Lina. Betapa bahagianya melihat kedua putrinya berbinar cerah ketika melihat kedua orang tuanya bersama.


“Jangan nakal, belajar yang bener,” ucap Zidan sebelum kedua anaknya turun dari mobil.


Mobil kembali melaju di jalanan yang padat merayap. Sesekali Zidan melirik kearah sang istri yang hanya diam saja.


Tak berapa lama mobil sudah menepi di depan perusahaan. Zidan sedikit terkejut mengetahui bahwa sang istri bekerja di perusahaan nomor satu.


“Kamu bener kerja di sini?”


“Iya.” Kirana menjawab singkat. Dia tahu ada rasa tak percaya dalam benak suaminya.


“Ini alasanmu memilih kerja dibandingkan ngurus anak-anak?”


“Apa maksudmu?”


“Aku mampu mencukupi semua kebutuhan kalian, tapi kamu memilih mengorbankan waktu untuk anakmu demi ambisi.”


“Ambisi apa yang kamu maksud? Aku sama sekali nggak tahu arah pembicaraanmu.”


“Kamu berniat bersaing denganku, kan?”


Kirana terkekeh pelan. Tuduhan itu sama sekali tak terbukti, jika ingin bersaing mungkin sudah dari dulu dilakukan.


“Makasih udah nganter, aku duluan.” Zidan mengunci pintu otomatis dan tak membiarkannya turun. Sepertinya pria itu sedang ingin memulai pertengkaran lagi.


“Kamu itu wanita yang berambisi.”


“Aku hanya mempersiapkan diri buat kemungkinan yang bisa terjadi kapan aja.”


“Kamu nggak pernah mau mengalah.”


“Udahlah, kamu selalu menyulut pertengkaran dan mencari-cari kesalahanku. Jika tak bisa memperbaiki keadaan, berpura-pura aja seolah tak pernah terjadi apa pun, aku pun akan melakukan hal yang sama.”


“Kamu terlalu mendominasi,” cetus Zidan.


“Cepat buka pintunya!”


Bergegas Kirana keluar dan masuk ke kantor. Tanpa tahu bahwa ada sosok pria yang sedari tadi mengamati apa yang terjadi.


Saat masuk ke dalam ruangan dia dikejutkan oleh sosok Kendrick yang juga baru saja datang. Degup jantungnya tiba-tiba tak terkendali. Tubuh pria itu menjulang di depannya, garis wajah tegas dan penuh wibawa. Namun kali ini ada yang berbeda ... pria itu lebih dingin dan tak ada keramahan yang tergambar.


“Pagi, Pak Ken.” Tanpa menjawab pria itu hanya mengangguk singkat.


Dan Kirana mulai merasakan perubahan yang terjadi semenjak kepulangan mereka.


...✿✿✿...


Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa seminggu sudah berlalu begitu saja. Hubungan Kirana dengan Zidan semakin merenggang dan mereka benar-benar bersikap seperti orang asing yang hanya berbicara di saat dibutuhkan. Selebihnya mereka hanya akan diam dan berpura-pura memainkan peran sebagai keluarga yang harmonis.


Sementara dengan Kendrick, pria itu lebih banyak diam dan bersikap profesional. Tak pernah sekalipun ada hal intens yang terjadi di antara mereka.


Entah hanya perasaan saja atau ini benar-benar nyata bahwa Kendrick sedang menjaga jarak dan menjauh darinya.


Saat sedang melamun, Kirana tak menyadari bahwa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Pandangannya lurus, tetapi pikirannya tak benar-benar fokus hingga saat terdengar bunyi klakson mobil, dia seolah tersadar dan memekik terkejut ketika mobilnya tak terkendali.


Demi tak menabrak seseorang di depannya dan membahayakan orang lain, Kirana membanting kemudi ke arah lain hingga mobilnya menabrak sebuah rumah kosong yang tak terpakai.


“Argh,” desahnya pelan, sebelum semuanya gelap.


...✿✿✿...


Kendrick berlari turun dari mobil dan segera menuju IGD. Dia benar-benar khawatir dan takut terjadi sesuatu dengan Kirana ketika mendengar kabar bahwa wanita itu mengalami kecelakaan.


“Di mana pasien yang baru saja mengalami kecelakaan tadi, Sus?”


“Pasien sudah dipindahkan ke kamar mayat. Apa Anda keluarganya?” Tubuh Kendrick benar-benar membeku dan kaku mendengar pernyataan perawat tersebut. Tidak mungkin, itu pasti bohong.


“Jangan bercanda, Sus!”


“Benar, Tuan. Pasien tidak dapat diselamatkan saat perjalanan menuju rumah sakit.”


Kendrick mematung dan benar-benar syok. Dia seperti dijatuhkan ke jurang tanpa dasar yang menghempaskan dirinya hingga hancur.


“Tuan, Ken!” seru Indra sambil mengguncang tubuhnya.


“Kirana ....” suara Kendrick tercekat, lidahnya begitu keluh.


“Beliau —”


“Dia tak boleh pergi begitu saja. Sial, beraninya dia mati dan ninggalin aku dengan perasaan ini sendirian. Ayo ke kamar mayat, tanpa izinku dia tak akan bisa mati lebih dulu sebelum merasakan pedihnya perasaan yang bertepuk sebelah tangan.”


Indra menghela napas pelan. Sepertinya sang atasan salah paham dengan apa yang terjadi.


Saat Kendrick hampir berbalik, suara yang begitu familiar terdengar.


“Ken!”


To Be Continue ....