Affair With CEO

Affair With CEO
Sabotase



“Apa yang terjadi, Ken?” tanya Kirana sesaat setelah panggilan terputus.


“Tiba-tiba kondisi jantung Daddy kembali bermasalah. Sekarang ada di rumah sakit. Aku akan ke sana,” kata Kendrick bergegas mengganti piyama tidurnya.


“Aku ikut!”


“Jangan. Kau di rumah saja,” larang Kendrick membuat Kirana menautkan alisnya. Namun, Kendrick kembali melanjutkan, “Ini sudah malam. Besok pagi saja kalau kamu mau ke rumah sakit.”


Setelah bersiap, Kendrick segera pergi menuju rumah sakit setelah mendapat informasi alamatnya. Tak sampai satu jam mobil yang dikendarai Kendrick tiba di rumah sakit.


“Atas nama Rajendra Rusady!” ujar Kendrick di bagian informasi.


“Ada di ICU, Tuan.”


Setelah mendapatkan informasi, kakinya melangkah dengan langkah lebar. Sesekali matanya mendongak untuk melihat papan arah.


Dari ujung lorong dia bisa melihat Roy, asisten Rajendra berdiri mondar-mandir dengan kedua tangan yang terkepal erat. Kendrick segera berjalan mendekat, membuat pria itu berhenti dan langsung duduk.


“Kenapa tiba-tiba kondisinya memburuk?”


Roy juga tidak tahu kejadian sebelumnya. Pada waktu itu dia masih ada di kantor karena sang tuan memintanya menyelesaikan pekerjaan sebelum semuanya akan dialihkan kepada Kendrick.


“Pelayan mengatakan tuan mengeluhkan dadanya sakit lalu jatuh pingsan. Sebelumnya beliau tak mengatakan apa pun. Hasil pemeriksaan kesehatan bulan lalu juga tak menunjukkan masalah apa-apa,” jelas Roy.


Keduanya kembali terdiam, lalu pintu ruangan terbuka bersamaan dokter keluar sambil melepas jas yang dipakai.


“Bisa bicara dengan keluarganya?”


“Bagaimana kondisinya?”


“Pasien masih dalam masa kritis. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan. Mari ....”


Kendrick mengikuti langkah sang dokter menuju ruangan. Meski tak banyak tanya yang terlontar, dia yakin ada sesuatu yang terjadi pada sang ayah.


Suara tarikan napas panjang terdengar. Dokter itu menatapnya tajam dan penuh selidik sebelum berkata, “Kondisi Tuan Rajendra sangat memperihatinkan.”


“Apa! Bagaimana bisa, Dok? Bulan lalu kondisinya baik-baik saja,” kata Kendrick sedikit keras.


Dokter mendorong map berwarna biru ke hadapannya. Memberi kode untuk melihat isi di dalamnya. Namun, meski telah membacanya berulang kali tetap saja Kendrick tak memahami apa pun. Dia bukan dokter ataupun tenaga kesehatan yang bisa membaca lambang-lambang rumit seperti itu.


“Tolong perjelas saja, Dok!”


“Ginjal dan hati Tuan Rajendra mengalami kerusakan, itu disebabkan karena penggunaan obat yang tidak sesuai resep. Obat jantung yang seharusnya beliau konsumsi juga bukan resep dari rumah sakit ini. Jika dikonsumsi terus menerus, akan menekan kondisi jantung dan membuatnya melemah sedikit demi sedikit seperti saat ini.”


Kendrick membeku. Bagaimana bisa?


“Bagaimana mungkin itu terjadi, Dok? Daddy rutin melakukan check up di sini, itu tandanya obat pun diperoleh dari rumah sakit ini. Seandainya ada kesalahan bukanlah seharusnya rumah sakit ini yang bertanggung jawab?” tegas Kendrick dengan tatapan menghunus tajam.


“Saya sudah memeriksa hasil pemeriksaan terakhir. Benar, kondisi Tuan Rajendra memang tidak mengalami masalah. Saya juga sudah memeriksa obat yang direspkan dan tidak ada kesalahan. Masalahnya adalah obat resep dan obat yang dikonsumsi pasien sangat berbeda.”


Bagaimana mungkin? Pikir Kendrick.


Setelah mendapat informasi berharga itu, Kendrick segera keluar dari ruangan lalu kembali menuju ruang tunggu dan memanggil Roy.


“Periksa CCTV satu bulan terakhir di mansion. Segera kau bawa laporannya sekarang juga!” titah Kendrick.


“Ada masalah, Tuan?”


Kendrick menatap tajam asisten sang ayah. Mungkinkah pria itu yang berniat jahat? Tidak mungkin. Kendrick tahu benar kesetiaan Roy terhadap tuannya. Mustahil pria itu berkhianat.


“Apa kau bisa dipercaya, Roy?” tanya Kendrick berubah dingin. Dia mencengkeram kerah kemaja pria itu dengan erat dan menatapnya penuh selidik.


Roy tampak bingung, tetapi dia menatap mata anak tuannya dengan tenang dan tanpa rasa takut. “Saya bersumpah ... tidak akan mengkhianati Tuan Rajendra. Demi apa pun saya telah berjanji pada mendiang ayah dan ibu untuk mengabdi pada Tuan Rajendra.”


Setelah itu Roy pergi ke mansion untuk melakukan apa yang diperintahkan Kendrick. Saat memasuki mansion, kepala pelayan langsung bertanya tentang kondisi sang tuan. Meski sudah tengah malam, kepala pelayan itu masih tetap terjaga dengan duduk di ruang tamu.


“Istirahatlah. Tuan akan baik-baik saja,” ujar Roy sambil memperlihatkan sekitar.


Setelah kepala pelayan itu pergi, Roy menyusul di belakang dengan mata yang awas mengamati sekitar. Sedikit waspada mengingat putra tuannya bertanya sesuatu hal yang tak wajar.


Tangannya bergerak lincah bermain di atas keyboard untuk melihat rekaman satu bulan terakhir. Pada bagian tertentu, Roy terus mengulang-ulang adegan yang membuat matanya terfokus pada satu obyek.


...✿⁠✿⁠✿⁠ ...


Kedua tangan Kendrick terkepal kuat saat melihat rekaman CCTV saat satu pelayan membawa nampan berisi obat menuju kamar Rajendra. Namun, sebelum sampai wanita muda itu tampak mengeluarkan sesuatu bungkusan dari dalam baju pelayannya dan menukar obat yang ada di dalam botol. Lalu membawanya ke kamar Rajendra dan meletakkannya di atas nakas.


Setelah tahu pelayan itu berkhianat, Roy segera mencari data diri pelayan itu. Ternyata dia pelayan baru, yang bekerja baru empat bulan terkahir.


Sebenarnya Roy ingin meringkusnya malam itu juga, tetapi saat bertanya pada kepala pelayan, prediksinya tepat sasaran.


Pelayan itu sudah tak lagi bekerja dengan alasan mengundurkan diri karena orang tuanya tengah sakit dan harus kembali ke kampung halaman.


“Cari dia dan seret dia ke hadapanku, Roy. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan!” ujar Kendrick dingin.


“Baik, Tuan.”


Segera tanpa menunggu waktu lama, Roy langsung mengerahkan pasukannya untuk menuju lokasi tempat tinggal pelayan itu. Namun, sayang seribu sayang pelayan itu telah melarikan diri.


“Bahkan ke ujung dunia sekalipun, aku pasti akan memburumu, Nona Pengkhianat!”


...✿✿✿...


Keesokan paginya Kirana segera memberi kabar pada Diah dan Hanin tentang kondisi Rajendra. Setelah mengantarkan kedua anaknya berangkat ke sekolah, Kirana bersama Diah berniat ke rumah sakit.


Sementara sang anak bungsu sengaja dia titipan pada Wina. Tak mungkin dia membawa Ricky ke rumah sakit mengingat di rumah sakit banyak orang sakit. Kondisi imun bayi berbeda dengan orang dewasa.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kirana sengaja menyetir sendiri karena sang sopir diminta stand by di rumah, takut jika ada hal mendesak yang diperlukan.


“Kayaknya Rajendra sudah dekat dengan sang penciptanya,” gumam Diah yang masih terdengar di telinga Kirana.


“Jangan ngomong kayak gitu, Ma. Doakan saja beliau cepat sembuh,” kata Kirana.


Jika ucapan itu didengar Kendrick, pria itu pasti akan sedih. Hubungan mereka baru saja membaik akhir-akhir ini. Rajendra sering datang ke rumah hanya untuk bermain dengan anak-anak.


Awalnya Rajendra yang dingin membuat Rina dan Lina sedikit takut. Namun, Kendrick meyakinkan jika pria tua itu sangat baik. Terbukti saat Rajendra selalu datang dengan banyak hadiah untuk mereka. Lama-lama kedua putrinya mulai terbiasa dan hubungan mereka terjalin seperti kakek dan cucu yang saling menyayangi.


Ada sesal di hati Rajendra. Seandainya sedari awal dia menerima dengan tangan terbuka, mungkin hidupnya tak akan kesepian. Sikap Rina dan Lina mampu membuat hidupnya berwarna. Tingkah polos mereka tanpa sadar mampu menarik perhatian.


Meski terlambat Rajendra bersyukur masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


Sesampainya di rumah sakit, Kirana dan Diah langsung menuju ICU. Di depan ruang tunggu tampak Kendrick duduk bersandar dengan kedua mata terpejam.


“Ken,” panggil Kirana pelan seraya menyentuh bahu suaminya.


Perlahan mata Kendrick terbuka, dia menoleh dan tersenyum tipis. Kedua matanya memerah karena kantuk, tangannya mengusap mata beberapa kali sambil menguap.


“Bagaimana keadaan Rajendra?” tanya Diah. Matanya melirik ke arah ruangan kaca yang tembus pandang. Dia bisa melihat tubuh Rajendra terbaring lemah dengan berbagai alat bantu menempel di tubuh.


“Masih kritis, Ma.”


“Sebenarnya apa yang terjadi?”


Kendrick terdiam cukup lama. Menimbang apakah akan memberitahu kebenarannya atau tidak.


“Ada yang menyabotase obat-obatan Daddy.”


“Apa!” pekik Diah terkejut.


Sekali lagi Kendrick mengangguk. “Sepertinya ada yang ingin melenyapkan nyawanya.”


Jelas rasa terkejut tak bisa disembunyikan baik oleh Diah maupun Kirana. Dalam benak Kirana berpikir, bagaimana bisa? Penjagaan di mansion itu lumayan ketat, tidak semua bisa keluar masuk dengan mudah.


“Siapa pelakunya?”


To Be Continue ....