Affair With CEO

Affair With CEO
Liburan



Setelah kejadian tempo lalu, Kirana sudah tak lagi mendengar kabar tentang Zidan dan keluarganya. Juga tak ingin tahu apa pun yang terjadi pada mereka.


Namun gosip yang diterima dari Wina selalu ada saja. Katanya, Ajeng saat ini tengah di rawat di rumah sakit sebab terlalu syok karena ternyata, selama beberapa bulan terakhir ini, Zidan telah menjual beberapa properti dan aset yang dimiliki. Termasuk rumah yang saat ini ditempati oleh Nina, yang saat ini tengah mengalami depresi akibat ditinggalkan oleh suaminya.


Kemudian Diana, dari kabar yang beredar wanita itu diberikan pilihan oleh suaminya, untuk bertahan atau bercerai dengan menerima istri keduanya. Namun ternyata wanita itu memilih bertahan dan kini menjadi bulan-bulanan ibu-ibu yang pernah dihina.


The real karma.


Saat ini proses perceraiannya bersama dengan Zidan sudah dalam proses. Bukti-bukti pengkhianatan pria itu sudah diserahkan dan pengacara yang akan mengabarkan informasi selanjutnya.


...✿✿✿...


Pagi ini Kirana beserta dengan Wina dan kedua anaknya akan berlibur untuk menenangkan diri. Dua koper besar sudah menampung barang-barang mereka.


Berangkat menggunakan taksi, sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, mereka segera melakukan cek in.


Setelah melewati penerbangan sekitar satu setengah jam, akhirnya pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai-Bali. Menumpangi taksi bandara, mereka segera menuju hotel tempat menginap.


Saat masih menunggu cek in kamar, tiba-tiba kedua anaknya berseru senang ketika sesosok pria menghampiri.


“Om Ken!” Mereka berdua menghampiri pria itu dan memeluknya.


Kirana membeku melihat pemandangan di depan mata. Sejak kapan Rina dan Lina mengenal pria itu? Mengapa hubungan mereka terlihat sangat akrab, seolah sudah pernah bertemu sebelumnya.


Kendrick mengangkat Lina ke dalam gendongannya dan menuntun Rina menuju arah sofa.


“Hai, Kirana.”


“Hai, Ken,” ucapnya gugup. “Kebetulan kita bertemu di sini, sedang apa kamu?” Mendadak perasaan cemas menghampiri.


“Tidak ada kebetulan, Kirana. Aku di sini karena sudah berjanji dengan Rina dan Lina.”


“A-pa?”


“Kami memang sudah janjian, Ma. Om Kendrick berjanji akan menyusul, ternyata nggak bohong, lho.” Rina menyahut.


“Maksudnya?” tanya Kirana linglung.


Kendrick menceritakan segalanya. Mereka sudah bertemu beberapa kali, bahkan terakhir kali, mereka bertemu saat dia menyelesaikan misi terakhirnya pada keluarga Zidan. Pada waktu itu ternyata pria itu yang justru menemani hari-hari kedua anaknya. Sudah beberapa kali, mereka menghabiskan waktu bersama. Sengaja Wina diam karena ingin memberikan kejutan.


“Kalian menipuku,” gumam Kirana, matanya berkaca-kaca.


“Om Kendrick baik, lho, Ma.”


“Iya-iya, benar tuh.”


Kedua anaknya kompak memuji Kendrick yang hanya tersenyum.


“Kalau mau dapatkan ibunya, harus bisa ambil hati anaknya,” bisik Kendrick membuat pipi wanita itu merona.


Mereka memesan tiga kamar, Kirana bersama dengan kedua anaknya, Wina dan Kendrick. Kamar mereka saling bersebalahan.


“Ma, om baik ya.”


“Baik. Memangnya kenapa?”


“Cuma bilang aja.”


“Andai om itu papa kita,” ucap Rina.


“Om Kendrick udah bilang mau, katanya disuruh tanya mama, mau nggak?”


“Mau aja, Ma,” sahut Lina. “Om baik hati, mama jangan marah, ya. Sebenarnya hadiah di kamar itu dikasih sama om,” lanjutnya.


“Hadiah apa?”


“Banyak. Hadiahnya disembunyikan, takut mama marah,” sahut Rina dengan bibir yang tersenyum lebar.


Kirana bergeming, tetapi tangannya mengusap puncak kepala kedua anaknya bergantian.


...✿✿✿...


Pukul sebelas, mereka semua sudah duduk di restoran yang ada di lantai dasar. Menyantap makanan tanpa sepatah kata, sebelum akhirnya sepakat untuk berkeliling mengunakan fasilitas mobil dari hotel.


“Kenapa nggak pernah bilang kalau kamu udah kenal sama mereka?”


“Memangnya harus?” tanya balik Kendrick.


Kirana tak menjawab, justru membuang muka ke arah lain. Di kursi penumpang celotehan Rina dan Lina terdengar saling bersahutan. Wajah keduanya nampak berbinar bahagia.


Mereka menghabiskan waktu beberapa jam di GWK sebelum lanjut ke Pura Besakih. Pura yang sangat luas, arsitektur megah dan area yang asri. Dari area ini, juga dapat melihat pemandangan area sawah, dan bukit yang menyejukkan mata.


Sekitar pukul tiga sore, mereka melanjutkan trip terakhir ke Pura Uluwatu, yang terletak di atas sebuah tebing yang menjorok ke laut. Untuk memasuki area tersebut, mereka diharuskan untuk menggunakan sarung dan selendang yang merupakan simbol hormat kepada kesucian Pura Uluwatu.


Sepanjang perjalanan mereka, Kendrick nampak begitu antusias menjawab semua pertanyaan kedua anaknya. Dari hal-hal yang tak terlalu penting hingga berbagai candaan lainnya.


Kirana bahkan tak pernah menyangka bahwa Kendrick menyukai anak-anak. Bahkan sorot matanya sama sekali enggan berpaling saat pria itu berinteraksi dengan anaknya.


Sekitar pukul delapan malam, mereka baru saja tiba di hotel setelah makan malam di salah satu restoran yang sedang hits.


“Nanti malam ke bar, ya.” Kendrick berbisik.


“Oke,” sahut Kirana dengan mengedipkan mata.


Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Kirana menemani kedua anaknya tidur sebelum menemui Kendrick.


Sambil rebahan di kasur, Kirana memainkan ponsel dan berkirim pesan dengan pria yang ada di kamar sebelah.


“Mama.”


“Tidur, Kak. Ini udah malam.” Kepalanya menoleh, mendapati Rina juga menatapnya.


“Mau ngomong dong, Ma.”


“Ngomong aja, mama dengar, kok.”


“Mau kalau om jadi papa baru.”


Seketika itu Kirana menoleh, tersenyum dan memeluk anaknya.


“Mau ya, Ma?” Sepertinya Rina masih menuntut jawaban.


“Ma!”


“Mau, kan?”


To Be Continue ....