
Beberapa hari sudah berlalu semenjak kejadian tragis yang mengantarkan Zidan pada jeruji besi.
Saat ini proses hukum pria itu masih berjalan dengan bukti-bukti yang akan semakin memberatkan.
Dua hari yang lalu, Ajeng datang dan memakainya habis-habisan. Wanita paruh baya tersebut bersikukuh agar ia mau melepaskan tuntutan terhadap Zidan.
Kirana mencoba untuk bernegoisasi sebagai bentuk pertukaran, walaupun tahu itu hanyalah hal yang sia-sia.
“Aku akan melepaskan tuntutan terhadap Zidan, tapi kamu yang harus menggantikannya, Bu.”
“Apa maksudmu?” tanya Ajeng dengan kening mengkerut.
“Zidan akan bebas setelah kamu mengakui kejahatan karena telah menghilangkan nyawa calon bayiku.”
Justru wanita paruh baya itu terkekeh sinis. “Siapa yang akan percaya. Kejadian itu sudah bertahun yang lalu, lagipula anakmu sudah mati dan nggak akan bisa hidup lagi.”
“Oke, nggak masalah. Kalau gitu biar Zidan membusuk di penjara.”
Setelah itu Kirana tak pernah lagi mendapati tamu siapa pun dari keluarga Pranadipa. Dia juga menutup akses ketika pria itu menghubungi dan mengatakan meminta bertemu. Semua urusan hukum sudah diserahkan pada pengacara.
...✿✿✿...
Pagi itu Kendrick mengajak Kirana untuk mengunjungi sebuah rumah di kawasan pusat kota.
Rumah yang akan menjadi tempat tinggal setelah mereka menikah. Setelah bersiap mereka segera meluncur menuju alamat tujuan.
“Jangan beli yang terlalu mahal.”
“Tidak masalah, uangku banyak.” Kesombongan Kendrick benar-benar membungkam mulut wanita itu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit, mereka tiba di sebuah perumahan mewah yang berada di tengah kota. Rumah yang dituju ada di posisi paling ujung dengan pagar yang menjulang tinggi.
Saat pagar terbuka, mata Kirana seketika terbelalak lebar. Sebelum menuju pintu, ada taman melingkar di bagian depan dengan tumbuhan hijau yang rimbun di kanan dan kiri. Di tengah-tengah ada sebuah air mancur besar dengan kolam ikan hias. Sementara rumah berwarna putih itu berdiri kokoh dengan pilar-pilar besar yang menyanggah.
Rumah ini bisa dikatakan lima kali lipat dari rumah yang sebelumnya. Bahkan halamannya saja, dua kali lipat luas rumah di perumahan tinggalnya.
“Ya ampun ini besar banget, Ken. Astaga! Buat apa beli rumah segede ini,” ucap Kirana, takjub bercampur dengan heran.
“Kita akan memiliki banyak anak, jadi rumah ini diperlukan untuk membangun keluarga besar kita.”
Kendrick segera mengajak Kirana turun dan menemui pemilik rumah sebelumnya. Mereka dituntun untuk melihat-lihat betapa mewahnya rumah bertingkat dua ini. Luas tanah yang cukup, di area belakang ada sebuah kolam renang dan tempat santai yang nyaman.
Bagi Kirana, rumah ini terlalu besar dan mewah. Yang pasti dengan harga yang tentunya menguras kantong.
“Suka?”
“Harga bukan masalah, Kiran. Asal kamu suka, di sini juga nggak jauh dari sekolahan, cocok buat Rina dan Lina.”
“Terserah kamu aja deh. Aku suka, tapi yang beli tetep kamu. Jadi kalau kamu mau bayarin ya, nggak apa-apa.”
Begitulah wanita. Modus sekali, tinggal bilang suka, mau yang ini, gitu aja repot. Kendrick segera menemui pemilik rumah untuk mengatakan bahwa rumah ini akan dibeli dan pengacara yang akan mengurusnya.
Setelah selesai melihat-lihat rumah, mereka pergi makan siang di salah satu restoran. Bagi Kirana, semua yang didapatkan dari Kendrick lebih dari cukup. Jadi, jika dia tak akan menuntut terlalu banyak.
...✿✿✿...
Sore tadi Kendrick kedatangan Diah dan Hanin. Om dan tante rasa orang tua sendiri. Pria itu menceritakan bahwa beberapa minggu lagi, dia meminta mereka datang menemani untuk melamar Kirana pada orang tuanya.
Namun jawaban dari wanita paruh baya yang masih cantik di usia senja itu membuat Kendrick terlihat sedikit frustrasi.
Wanita paruh baya itu memintanya menghubungi Rajendra dan Sisil, ayah kandung dan ibu sambungnya. Namun permintaan tersebut bagaikan hal yang sulit dilakukan, terbukti dari Kendrick yang masih bergeming setelah beberapa kali mengangkat ponsel tetapi diurungkan.
Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya diangkat ponsel pintar tersebut dan segera menekan nomor yang dicari sebelum akhirnya panggilan benar-benar tersambung.
“Apa?” Suara datar, dingin dan tegas tersebut terdengar saat panggilan pertama kali tersambung.
“Aku ingin bicara, Dad.”
“Tentang wanita itu, kan?” Kendrick menghela napas, pria di seberang panggilan itu seolah sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan.
“Ya, hari Selasa di minggu kedua, aku berencana ingin melamarnya ke kedua orang tuanya. Bisakah, you datang dan ikut melamarnya untukku.”
Terdengar suara tawa sumbang dari seberang sana. “You jangan main-main, Ken!”
“I serius, Dad.”
“Bawa dia datang ke Jerman. Tanpa alasan apa pun, Ken.”
“Tapi, Dad.”
“I tunggu!” Setelah itu panggilan diputus sepihak tanpa penjelasan.
Kendrick menghela napas berkali-kali. Dia tahu, akan ada saat seperti ini. Menjadi keluarga mereka cukup membuatnya paham, bagaimana karakter sang ayah yang tegas dan tak bisa dibantah.
Namun kini kekhawatiran yang ada di pikiran berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Apalagi setelah mengutarakan niatnya untuk melangkah ke jenjang yang serius.
“Kumohon kali ini, tetaplah percaya padaku, Kiran. Aku pasti akan berjuang untukmu.”
To Be Continue ....