
Dua hari mereka berada di rumah megah ini. Mereka hanya akan bertemu dengan pemilik rumah di waktu makan bersama. Belum ada pembicaraan santai yang benar-benar terjadi.
Terakhir kali Sisil bicara dengan Kirana, wanita paruh baya itu justru membicarakan sesuatu hal yang buruk tentang sikap Kendrick di masa lalu. Sebenarnya dia tidak mau ambil pusing, toh itu hanya masa lalu. Tak bisa diputar ulang atau dihapus dari cerita hidup.
Namun yang membuatnya tersinggung justru ketika wanita paruh baya itu menilai semuanya dari uang dan membicarakan masa lalu orang tua yang memiliki kehidupan yang sama dengannya. Sama-sama kacau, katanya. Akan tetapi sebisa mungkin dia menanggapi semuanya dengan tenang dan tak terpancing emosi.
Mengatakan bahwa dulu dia memiliki mertua jahat, lalu apa bedanya dengan yang sekarang? Tutur kata Sisil memang lembut, tetapi ada sesuatu tersirat dirasakan.
Rajendra yang selalu bicara menggunakan bahasa Jerman, cukup membuat Kirana sadar diri bahwa dia memang tak dianggap di sini. Namun, demi Kendrick dia berpura-pura tidak merasakan apa pun. Walau sejujurnya, ada yang perih di hati.
Setelah makan malam, Kendrick meminta sang istri untuk naik ke kamar lebih dulu, sebab ada yang perlu dibicarakan dengan orang tuanya. Walaupun Kirana memang tak mengetahui apa yang dibicarakan, tetapi dia tak mau membuat wanita itu berada di antara ketegangan.
Dua pria berbeda generasi tersebut duduk dengan tenang dengan raut wajah yang terlihat amat sangat serius.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Dad? Aku dan Kirana sudah menikah, kau tak bisa melakukan apa pun. Kau tidak mengakuinya, tidak apa-apa, karena semuanya sudah terjadi.”
“Pernikahanmu bisa dibatalkan dan tak akan ada yang tahu, Anakku.”
Rahang Kendrick tampak mengeras, dia pejamkan mata sejenak dengan napas memburu. “Hanya Kirana yang akan menjadi istriku. Terima atau tidak, keputusanku sudah bulat, Dad.”
Pria paruh baya itu terkekeh. “Aku tak melarang, menjadikan wanita itu istrimu. Tapi, tidak di depan publik. Pernikahanmu dan Yemima akan dibicarakan lagi. Bagi dunia, yang pantas bersanding denganmu haruslah wanita yang memiliki strata yang sama. Sementara wanita itu sama sekali tak pantas bersanding denganmu.”
“Jangan macam-macam, Dad!” Nada suara Kendrick sudah tak setenang tadi. Dia dan Yemima memang sudah dijodohkan sejak mereka masih berusia belasan tahun. Namun berkali-kali dia sudah menolaknya. Mungkin untuk partner ranjang, Yemima adalah pilihan yang bagus, tetapi jika untuk teman hidup, wanita itu sama sekali bukan kandidat calon istri impiannya.
“Jangan membuat semuanya menjadi rumit.”
“Bodoh! Kau terlalu tergila-gila dengan janda itu, Ken.”
“Namanya Kirana, jangan menyebutnya seperti itu. Dia punya nama.”
“Sejak menikah dengannya, kau sudah banyak melawan kami.”
“Aku hanya memperjuangkan apa yang seharusnya, Dad.”
“Seharusnya kamu tahu wanita seperti apa yang pantas kau nikahi. Seseorang yang bisa masuk ke keluarga kita bukan seperti istrimu yang memiliki kehidupan memalukan.”
Kendrick tak tahan dengan hinaan yang diucapkan Rajendra. Dia segera bangun dan berlalu, baru lima langkah, kakinya berhenti.
“Tolong, jangan membuatku untuk melawanmu, Dad.”
Pria itu segera bergegas melangkah menuju kamar, di sana dia melihat Kirana tengah terlelap di atas ranjang dengan tubuh yang sudah berbalut selimut. Mendekat dan mengusap bahu wanita itu pelan.
Dengan mata sayu wanita itu segara bangun. “Ada apa, Ken?”
“Ayo kita kembali ke hotel.”
Deg!
Kirana yang baru tersadar merasa linglung, dia terkejut, syok sekaligus gemetar. Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa tiba-tiba sekali.
“Tapi ini sudah malam, Ken.”
“Ayo.” Tanpa peduli komentarnya, Kendrick segera membantu sang istri bangun, kemudian membereskan koper sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Walaupun agak sedikit bingung, Kirana memilih menurut saja. Namun belum benar-benar menuruni tangga, Sisil datang dari arah berlawanan menghentikan mereka.
“Kau mau ke mana malam-malam begini, Ken? Apa yang sebenarnya terjadi.” Sisil bicara dalam bahasa Inggris.
“Maaf, Mom. Aku tak bisa melakukan apa yang diperintahkan daddy.” Genggaman tangan pria itu semakin erat.
“Kamu bisa bicarakan baik-baik dengannya. Jangan seperti ini, Ken. Ini sudah malam, tidak sopan keluar dari rumah tengah malam tanpa izin.” Sisil menyentuh bahu Kendrick, mencekal bahu sang anak untuk menghentikan apa pun yang akan dilakukan pria dewasa itu.
“Aku lelah bicara tanpa menemukan titik terang dan berujung dengan debat tanpa dasar.”
Wajah wanita paruh baya itu memohon, matanya berkaca-kaca dengan bulir bening yang lolos setetes, begitu matanya berkedip.
“Mommy mohon, Ken. Jangan seperti ini.” Sisil menatap Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan. Aneh, memang. Di depan Kendrick, wanita paruh baya itu selalu bersikap memihak, tetapi di belakang, wanita itu justru selalu menyudutkan dengan membicarakan sesuatu yang tak sepantasnya seorang ibu bicarakan. Membuka aib anaknya sendiri.
“Kiran, mommy mohon, hentikan Kendrick. Jangan tinggalkan rumah ini dengan cara seperti ini.” Kini beralih wanita paruh baya itu berbicara padanya.
“Kita bisa duduk bersama dan bicarakan ini baik-baik.”
Keduanya masih tak bergeming. Kirana tak berharap apa pun, dia hanya mau yang terbaik untuk hubungan mereka.
“Mommy mohon.”
Karena tak tega, akhirnya Kendrick putuskan untuk mengalah lebih dulu. Menuruti ucapan Sisil untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Jika memang tak menemukan penyelesaian, maka jangan salahkan dirinya yang harus memilih melawan.
To Be Continue ....