
Angin dingin masuk melalui pintu geser kaca yang terbuka menuju ke arah balkon. Matahari mulai muncul sedikit, tertutupi oleh awan mendung yang pagi ini sudah cukup tebal.
Kirana mulai menatap tubuhnya yang remuk redam. Suaminya itu benar-benar menghabisinya tanpa ampun. Semalam pria itu berjanji hanya akan melakukannya sekali, tetapi nyatanya mereka melakukannya hingga hari menjelang pagi.
Namun, Kirana tak bisa menolak ajakan suaminya untuk menyelami nirwana yang indah. Kini saat bangun tubuhnya seperti dipukuli orang sekampung.
Matanya melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Kirana mengutuk dirinya, dia melupakan tugasnya.
“Ken,” panggilnya dengan sedikit keras.
Tak lama Kendrick yang tengah merokok di balkon segera masuk dan menghampiri Kirana. “Ada apa?”
“Kenapa nggak bangunin aku! Rina dan Lina sudah berangkat? Ricky sudah mandi?”
“Sudah,” jawab Kendrick singkat.
“Anak-anak pasti cari aku.”
“Enggak. Mereka sudah dewasa dan sudah mulai mandiri, Kiran. Kamu jangan terlalu berlebihan,” kata Kendrick.
Kirana tahu bahwa kedua putrinya memang sudah mandiri. Mereka tak lagi perlu bantuannya dalam melakukan tugas sehari-hari. Namun, sejak kelahiran baby Ricky dia merasa suaminya itu sedikit berubah menyikapi kedua putrinya.
Entah itu hanya perasaannya saja atau memang benar adanya bahwa suaminya itu mulai membedakan kasih sayangnya.
“Kamu nggak kerja?” tanya Kiran mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tak mampu menyembunyikan matanya yang kini tampak berkaca-kaca.
“Nanti siang saja. Mandilah, aku sudah siapkan air panas dalam bathtub. Berendam lah sebentar supaya tubuhmu rileks,” kata Kendrick berdiri, lalu memakai kaosnya. “Aku akan ke bawah. Ada Mario dan papa.” Sebelum keluar kamar dia mengecup puncak kepala istrinya.
Kirana segera masuk kamar mandi, dia merendam tubuhnya. Sensasi air hangat menyapu kulitnya, membuat otot-otot tubuhnya mulai melemas.
Setelah hampir empat puluh menit berlalu, Kirana sudah cantik dan wangi dengan memakai dress santai. Dia memakai riasan tipis di wajahnya, tak lupa memakaikan foundation di lehernya yang merah bekas jejak percintaan semalam.
Saat turun dan berniat ke dapur, dia melihat Diah dan Massayu ada di ruang keluarga bersama dengan baby Ricky yang tampil dengan bedak tebal yang memenuhi wajahnya.
“Astaga! Kamu mirip seperti donat gula,” kata Kirana masuk ke ruang keluarga, membuat kedua wanita itu menoleh dan tersenyum malu-malu.
“Wah, mama baru bangun, ya. Dede Ricky bakal punya adik nih,” kata Massayu dengan bibir tersenyum lebar.
“Massayu!” Kirana tersenyum dengan kedua pipi merona.
Usai melahirkan, luka luar mungkin akan sembuh dalam waktu singkat, yakni kurang dari 4-12 minggu. Akan tetapi, rahim butuh waktu lebih lama untuk bisa pulih dan kembali siap mengandung janin yang baru. Menurut beragam literatur, waktu yang disarankan bagi wanita yang habis bersalin untuk hamil kembali adalah tidak kurang dari dua tahun, tetapi juga tidak lebih dari lima tahun.
Hal tersebut berlaku baik bagi wanita yang melahirkan secara normal ataupun sesar.
Hanya saja, wanita yang habis melahirkan secara sesar, jika kembali hamil dalam jarak yang terlalu dekat, akan jauh lebih berisiko harus melahirkan kembali secara sesar.
Kirana menggeleng pelan. “Tapi aku sama sekali belum memikirkannya.”
“Daripada kamu sibuk mengomentari adik iparmu untuk punya bayi, kenapa kamu nggak buat sendiri saja,” komentar Diah pada Massayu yang langsung mencebikkan bibirnya kesal.
Massayu suka melihat bayi-bayi yang menggemaskan, tetapi untuk hamil lagi sepertinya tidak, karena Mario masih trauma pada kelahiran terakhirnya.
Mario bahkan meminta Massayu untuk tidak hamil lagi dan cukup memiliki dua anak saja.
“Kamu ajak suamimu sarapan dulu. Dia ada di teras depan,” kata Diah.
“Mama dan Massayu sudah sarapan?”
“Sudah!” jawab Diah dan Massayu hampir bersamaan.
Kirana mencium baby Ricky dan keluar menuju teras, memanggil suaminya untuk sarapan bersama. Pria itu selalu menunggunya dalam hal apa pun, termasuk menunggunya bercerai dengan Zidan kala itu.
Bicara tentang Zidan, dia jadi ingat bagaimana kabar pria itu sekarang. Mungkinkah masih hidup atau sudah mati karena frustrasi.
“Melamun saja!”
Kirana tersentak kaget dan menoleh saat suaminya menyentuh bahunya.
“Makan malam nanti ada permintaan khusus nggak? Nanti siang biar aku yang belanja sama Wina.”
“Enggak ada, mereka bisa makan apa pun. Tapi boleh deh dibuatkan sambal cumi pedas. Oh, ya nanti ada yang kirim wine. Tolong bayar sekalian, uangnya nanti aku letakkan di laci nakas.”
“Berapa?”
“Oke.”
Tak lupa setelah sarapan Kirana membuatkan kopi untuk suaminya. Pukul sepuluh pagi pria itu akhirnya berangkat ke kantor.
...✿✿✿...
Pukul dua siang setelah menidurkan baby Ricky, Kirana ditemani Wina pergi ke supermarket untuk berbelanja.
Sebelum pergi ke supermarket, Kendrick telah mentransfer sejumlah uang ke rekening bank pribadinya.
Keduanya berkeliling cukup lama, hampir satu jam lamanya dan satu troli sudah penuh dengan kebutuhan dapur. Kirana sengaja belum berbelanja kebutuhan bulanan untuk mereka, belum waktunya. Mungkin menunggu akhir pekan supaya bisa mengajak Rina dan Lina sekalian.
Setelah membayar mereka pergi.
“Bu, mau mampir ke pasar sebentar nggak?” tanya Wina ragu-ragu.
“Mau beli apa memangnya?” tanya Kirana.
“Mau beli ikan segar, Bu. Tapi kalau Bu Kira keberatan, bisa turunkan saya saja di sana. Nanti Anda bisa langsung pergi,” kata Wina agak sungkan. Wanita di depannya bukan Bu Kiran istri dari Zidan Pranadipa yang hanya seorang pegawai biasa. Kini dia adalah nyonya besar yang mungkin tidak akan mau masuk ke tempat bau dan kotor itu lagi.
Kirana terkekeh pelan. “Apa sih, Mbak? Kamu ini berlebihan sekali. Aku suka belanja di pasar, selain karena harga yang lebih murah, di sana semuanya masih segar dan baru.”
“Kali saja Bu Kira sudah nggak mau,” kata Wina dengan senyum malu. Dia tahu bosnya itu wanita yang baik hati dan rendah diri, tidak pernah membedakan status mereka.
Di persimpangan lampu merah Kirana membelokkan kemudi ke arah kanan. Sepuluh menit kemudian mobil telah sampai di pasar besar.
Kedatangan mobil mewah dengan warna mengkilat menjadi pusat perhatian. Banyak mobil yang berjajar rapi di sana, tetapi tentu saja bukan mobil dengan harga milyaran seperti yang dikendarai.
“Bu, kita jadi pusat perhatian,” bisik Wina.
“Aku lupa nggak ganti mobil,” balas Kirana jujur.
Dia terlalu biasa membawa deretan mobil mewah milik suaminya, suka berganti-ganti tergantung minatnya. Jika dia tahu akan mampir ke pasar tradisional, dia pasti akan membawa mobilnya sendiri yang tidak terlalu mencolok.
Tak sampai setengah jam, setelah selesai membeli yang diperlukan, mereka pulang.
Sepanjang jalan Kirana menyetir dengan tenang dan tak buru-buru. Dia juga mengemudi dengan hati-hati, tetapi saat ingin berbelok ke area perumahan, tiba-tiba ada sebuah mobil Alphard yang melaju dengan sangat kencang hampir menabraknya.
Kirana menatap mobil mewah itu dengan heran, sudah tahu di depan sana banyak persimpangan, tetapi mobil itu sama sekali tak mengurangi lajunya.
Tiba-tiba ....
Brak!
Ckit!
To Be Continue ....