Affair With CEO

Affair With CEO
Bahagia



“Selamat ulang tahun. Kami ucapkan. Selamat panjang umur, sehat sentosa. Selamat sejahtera kita kan doakan.”


Suara itu menggema di dalam sebuah ruangan yang telah dihias dengan sederhana.


Ricky yang berdiri di depan kue ulang tahun bertingkat dua tampak tersenyum. Dia mengangguk saat ibunya meminta untuk meniup lilin.


Sambil memejamkan mata Ricky meniup lilin dengan angka dua seperti jumlah usianya saat ini.


“Semoga bahagia selalu menyertaimu, Nak. Jadilah seseorang yang membanggakan untuk keluarga dan orang-orang di sekitarmu.” Kendrick mencium pipi putranya penuh kasih sayang.


“Macih, Papa,” ucapnya dengan suara yang cukup jelas.


Kirana juga melakukan hal yang sama. Dia mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.


Meski terkadang dia merasakan sesak amat mendalam jika mengingat ayah dari kedua putrinya, yang entah di mana keberadaannya sekarang. Namun, dia meyakini jika Zidan masih hidup.


Sebagai seorang ibu kadang dia merasakan bahwa kedua putrinya juga merindukan ayahnya. Namun, dia bisa apa? Ayahnya sendiri yang meninggalkan dan memilih menjauh. Meski di dalam keluarga ini cinta kasih untuk keduanya tak pernah surut, tetapi dalam hati kecil tentu ada perasaan mengganjal.


Kirana tak pernah mendapati keluarga ini berlaku tak adil pada kedua putrinya. Bahkan Rajendra yang awalnya menentang karena statusnya yang seorang janda, akhirnya luluh juga walau melalui berbagai drama panjang.


“Ini hadiah dari kami” Lamunannya buyar ketika Rina dan Lina maju, memberikan satu kotak hadiah pada adiknya. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat Ricky mengernyit heran dan mungkin bertanya dalam hati, ‘mengapa hadiahnya hanya satu?’


Kedua putrinya menyisihkan sebagaian uang saku mereka untuk membeli mobil remote terbaru sebagai kado ulang tahun. Saat Kirana dan Kendrick menawarkan membantu membelinya, mereka menolak karena seperti yang selalu diajarkan oleh Kirana. Jika ingin membeli sesuatu, menabung dulu untuk mendapatkannya.


Ada haru yang menyeruak dalam dada. Kedua gadis kecilnya tumbuh dengan baik.


“Macih, Kakak.” Ricky maju dan mencium pipi kedua kakaknya.


Ricky berjalan menghampiri seorang pria yang duduk di kursi roda seraya berkata, “Glandpa, diahku mana?”


Pria itu menggeleng pelan dan menjawab, “Tentu saja sudah disiapkan. Nanti ditunjukkan Paman Roy. Oke?”


“Macih, Glandpa. Aku cayang cekali.”


“Berikan Grandpa ciuman.” Seraya menunjuk pipinya.


Dibantu oleh Kendrick, Ricky bisa menjangkau pria yang duduk di kursi roda itu. Ada setitik embun di dalam kedua matanya. Pria itu tersenyum haru dan rasa syukur. Tuhan masih memberinya kesempatan kedua untuk berkumpul dengan anak menantu dan cucunya. Di usianya sekarang harta bukan lagi sesuatu yang penting dan bisa dibanggakan. Kebahagiaan batin lebih utama dari segala hal yang telah ditawarkan dunia.


Rajendra Rusady yang hampir melihat kematian di depannya, ternyata masih bernapas hingga detik ini. Setelah mengalami koma selama hampir satu tahun, akhirnya dia bisa kembali membuka mata. Namun, kondisinya yang telah lama tertidur membuat beberapa anggota tubuhnya kaku dan tak bisa digerakkan secara normal. Walau sudah mengikuti beberapa terapi, tetapi sampai saat ini kakinya belum bisa berfungsi dengan sempurna.


Kebahagiaan melihat anak cucunya bahagia membuat semangat sembuh dalam dirinya semakin kuat. Dia tak bisa membersamai dan melihat tumbuh kembang sang anak, kali ini dia ingin bisa melihat tumbuh kembang cucunya.


Mungkin inilah yang disebut keajaiban Tuhan. Rajendra benar-benar sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk benar-benar bahagia tanpa topeng kepalsuan lagi.


Kirana duduk menatap senja di depannya. Hamparan laut biru membentang sepanjang mata memandang. Keindahan yang disuguhkan memanjakan mata. Langit berwarna keemasan dan air laut yang sesekali terdapat ombak kecil terlihat sangat menyilaukan mata.


Entah sudah berapa lama Kirana duduk termenung di sana. Namun, tak dipungkiri dia sangat menyukai dan terpaku pada keindahan alam yang ditawarkan.


Usapan di bahu membuatnya menoleh. Senyum tipis tersungging dari bibirnya saat mendapati sang suami berdiri dengan pakaian santai.


“Melamun apa?” tanya Kendrick.


“Enggak ada. Hanya mengagumi ciptaan Tuhan yang indah,” jawabnya dengan senyum menggoda.


“Kamu tengah memuji keindahan alam atau keindahan pria di depanmu, Kiran?”


Suara tawa keduanya begitu lebar dan tanpa beban. Meski usia tak lagi muda, tetapi mereka selalu memupuk perasaan di hati agar tak sampai layu.


Kadang kala perasaan bosan itu selalu ada dan menghampiri di tengah kesibukan yang mereka jalani. Namun, mereka selalu memiliki cara tersendiri untuk menghalau rasa yang mulai menyerang.


Salah satunya dengan vacation berdua. Entah untuk yang beberapa kalinya.


“Kalau bosan, cari suasana baru. Bukan cari wanita yang baru.”


Semenjak keadaan membaik, Kirana mulai kembali aktif mengelola restoran yang kini semakin besar karena dimodali oleh Rajendra.


Perusahaan kembali diserahkan pada Kendrick dan showroom mobil kini dipegang sepenuhnya oleh Hanin yang tidak mau duduk diam di rumah.


Jika ditanya apakah keduanya pernah berpikir bahwa apa yang telah terjadi pada mereka dulu mungkin akan terjadi lagi di kemudian hari. Dengan penuh ketegasan Kendrick menjawab, “Tidak akan. Karena yang berani menikung istri orang hanya aku seorang.”


Menganggumkan atau memalukan?


Kirana ingin sekali tertawa saat mengingat hal itu. Sungguh dia tak pernah berpikir hidupnya akan seperti drama di mana dia bisa bersanding dengan atasannya sendiri.


“Aku mencintaimu, Kiran.”


Kirana tersentak dari lamunannya mendengar suara Kendrick tepat di telinganya.


“Ucapan cinta macam apa lagi yang bisa kukatakan, Ken? Aku telah menyerahkan diri dan hidupku padamu. Bukankah itu adalah bukti nyata bahwa kamu adalah segalanya untukku?”


Kendrick menariknya dalam dekapan. Membelai rambutnya lembut dan membasahi wajahnya dengan banyak kecupan. Menimbulkan tawa pelan dari bibir keduanya.


“Jadi Nyonya Kiran, apakah kamu nggak berniat menambah adik untuk ketiga kakaknya?”


...TAMAT!...