
“Kenapa melamun, Kiran?” Suara itu membuat Kirana tersadar dan menoleh ke belakang. Diah berdiri di gawang pintu sambil menggendong baby Ricky.
Saat ini Kirana tengah menyendiri duduk di area dekat kolam renang.
Wanita paruh baya itu berjalan menghampirinya dan duduk di sebelahnya. “Ada apa?” tanya Diah lagi. “Kamu terlihat banyak pikiran,” sambungnya sambil menatap intens.
“Aku nggak melamun, Mama.” Kirana terkekeh kemudian mengusap pipi baby Ricky yang tengah terlelap.
“Kamu nggak dengar mama panggil-panggil. Jelas sekali pikiranmu tengah berada di tempat lain.” Sejak tadi Diah sudah memanggil Kirana beberapa kali. Namun, wanita itunbaru menyahut saat panggilan terakhir yang cukup keras.
Kirana mengalihkan pandangan ke arah lain. Jelas sekali bahwa Diah memang tidak tahu dengan kedatangan Yemima, karena memang sejak tadi pagi Diah dan Hanin sudah meninggalkan rumah. Mereka berdua baru kembali saat hari menjelang siang.
“Jika butuh teman ngobrol kamu bisa cari mama. Katakan apa pun agar membuatmu lega, walau mungkin mama nggak bisa membantu.”
Kirana mengangguk senang. Setidaknya meskipun banyak masalah silih berganti datang menghampiri keluarga kecil mereka, masih ada orang-orang yang dengan tulus selalu mendukungnya. Ada orang tua dan suami yang tak pernah meninggalkannya dalam keadaan apa pun. Kirana bersyukur untuk satu hal itu mengingat pernikahan pertamanya yang tak berjalan dengan baik.
Kirana menatap punggung Diah yang menjauh. Dia segera bangkit dan berjalan ke kamarnya. Ada sesuatu hal yang harus diurus dan dia berniat pergi sebentar.
Setelah berganti pakaian, dia berjalan menghampiri kamar mertuanya.
“Ma, aku titip Ricky sebentar ya. Aku mau keluar sekaligus jemput anak-anak.”
“Kamu mau ke mana? Jangan lupa bilang sama Kendrick supaya nggak ada salah paham.”
Kirana mengangguk. “Nanti kalau mama kerepotan, panggil Wina saja.” Sebelum pergi dia menyempatkan mencium putranya.
Baby Ricky sudah mempunyai stok ASI di dalam kulkas. Lumayan banyak karena sumbernya memang melimpah sejak Diah mengatur pola makan yang bisa memperlancar ASI.
Mobil yang dikendarai melaju meninggalkan rumah. Tanpa sopir pribadi, dia sudah lama tak pernah mengemudi sendiri. Hidupnya benar-benar berubah semenjak menikahi Kendrick. Bujang kaya raya yang selalu memanjakannya.
Mengingat awal pertemuan mereka hingga perjalanan yang dilalui hingga sampai di titik ini, membuat senyum Kirana semakin lebar.
Dulu Kendrick yang harus bersabar untuk mendapatkan Kirana jadi miliknya, kini semuanya berbalik sebagai ujian pernikahan mereka saat Kirana yang harus berjuang mendapatkan restu dari orang tua Kendrick.
Mobil Kirana sampai di sebuah bangunan tiga lantai yang tidak terlalu besar, dia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam sana.
“Tuan Edgar Dale,” ucap Kirana pelan.
“Silakan.” Wanita itu mempersilakan Kirana menuju ke ruangan seseorang yang dicari.
Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan jawaban untuk masuk, Kirana melangkahkan kakinya ke dalam. Disambut dengan senyum sopan pria berwajah tampan.
“Kirana, silakan duduk,” ucap pria itu.
“Terima kasih, Edgar.”
Pria bernama Edgar itu segera mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari laci kerjanya dan berjalan menghampiri Kirana.
Sebelum duduk, pria itu juga menawarkan minuman, tetapi Kirana menolaknya karena dia tidak bisa lama-lama.
Segera dia bertanya intinya. Apa yang didapatkan dan apa informasi penting yang bisa digunakan sebagai senjata.
Pria itu tersenyum melihat ketidaksabaran dari Kirana. Mereka adalah teman lama. Dia sudah mengenal Kirana jauh sebelum wanita itu menikah dengan Zidan. Sebelumnya dia telah mendengar cerita Kirana tentang pernikahan keduanya, wanita itu meminta jasanya untuk mencari tahu tentang siapa dalang dari konspirasi yang menyeret nama suaminya.
Sungguh orang-orang kaya itu sangat mengerikan. Bisa melakukan segala cara untuk mencapai tujuan.
“Informasinya sudah lengkap di dalam sana. Kau bisa melihatnya sendiri.”
Kirana mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih Edgar.”
...✿✿✿...
Kendrick meminta orang-orangnya mengawasi Rajendra, tetapi tidak dengan ibu tirinya. Karena baginya yang berpotensi menghancurkan adalah Rajendra, bukan Sisil. Dia tahu seburuk apa tabiat ayahnya dan perlakuan buruk pria itu pada istrinya.
Namun, dia lupa bahwa Sisil adalah sosok wanita berkepala dua yang bisa menjelma menjadi ular.
Sebenarnya Kendrick memegang data penting RD Group. Dia berniat menghancurkan perusahaan itu andaikata Rajendra kembali membuat ulah. Namun, sampai detik ini belum ditemukan keterlibatan pria itu.
Dia sudah memastikan bahwa dalang dari penyebaran video itu bukan pria tua itu. Kendrick bukannya diam saja, beberapa kali dia menghubungi Yemima untuk meminta waktu bertemu. Namun, wanita itu seperti menghindarinya.
Namun, orang-orang Kendrick sudah menemukan alamat tinggal wanita itu. Dia berniat mendatanginya bersama dengan Indra dan dua sahabatnya, Alfred dan Sean.
“Nona Yemima ada di apartemen.” Lapor seseorang dari seberang panggilan.
Setelah memastikan wanita itu ada di tempat, ketiga pria itu segera bergegas ke alamat.
“Aku yakin Yemima lah pelaku yang mengirimkan itu pada istrimu,” ucap Alfred.
“Aku juga yakin, dari ceritamu itu sebenarnya bukan hal kebetulan dia berada di tempat yang sama.” Sean mengangguk membenarkan.
“Dia masih sakit hati karena kau menolaknya. Itu salah satu alasan yang paling masuk akal,” kata Alfred.
“Dari sikapnya yang terus menghindar, aku sudah yakin. Itu sama sekali bukan dirinya,” kata Kendrick menghela napas pelan. “Kau tahu sendiri bagaimana sikap Yemima Sandrez yang seperti ulat bulu. Dia akan selalu menempel padaku,” lanjutnya lagi membuat tawa kedua sahabatnya pecah.
Alfred mengangguk setuju. “Andai Sarah tahu apa yang dilakukan Yemima, mereka berdua pasti sudah baku hantam.”
Sean menjadi orang pertama yang terbahak-bahak mendengar ucapan Alfred. Benar, sejak awal kedua wanita yang memperebutkan Kendrick itu tidak pernah benar-benar akur. Keduanya saling menyerobot dengan menjelekkan nama satu sama lain. Jika boleh jujur keduanya tidak jauh berbeda. Hanya saja mungkin Sarah lebih waras dengan tidak melakukan tindakan di luar batas seperti yang dilakukan Yemima.
Tak lama ketiga pria itu sampai di salah satu apartemen mewah berharga puluhan milyaran yang ada di tengah kota. Sean lebih dulu masuk dan bertanya pada resepsionis di mana unit milik Yemima. Awalnya tidak mudah mendapatkan bocoran tempat tinggal wanita itu, tetapi rayuan maut Sean mampu membuat resepsionis itu buka mulut.
“Oke, antar aku ke sana dan kamu akan dapatkan tas keluaran terbaru itu sore nanti,” ujar Sean mengedipkan matanya menggoda.
Sebab ini apartemen mewah, maka privasi dan keamanan di tempat ini lumayan terjaga. Untuk naik menggunakan lift dibutuhkan kartu akses yang hanya dimiliki penghuni apartemen.
Sean mengajak kedua sahabatnya untuk segera mengikuti. Sang resepsionis itu tampak gugup karena diapit oleh tiga pria berwajah tampan yang menggoda sisi wanitanya.
Resepsionis itu menunjuk pintu bernomor 8C. Segera Kendrick dan Alfred berjalan mendahului, sementara Sean justru tengah menggoda wanita itu.
“Catat nomormu di sini, aku akan menghubungimu nanti,” bisik Sean, mengusap lembut pipi wanita itu.
Setelah mendapatkan nomornya Sean mengikuti kedua sahabatnya, meninggalkan wanita resepsionis itu yang mematung karena mendapatkan kecupan singkat di pipi secara tiba-tiba.
Kendrick menekan bel beberapa kali. Dia menampakkan diri sementara kedua sahabatnya sedikit bersembunyi agar tak terlihat di layar CCTV.
Wanita yang mendapatkan tamu seseorang yang tak disangka itu tampak gugup. Dia tak langsung membuka pintu dan bertanya melalui interkom. “Apa yang kau lakukan di sini, Ken?”
Kendrick tersenyum manis dan menjawab, “Ada yang perlu aku katakan. Buka pintunya!”
Wanita itu segera menuruti perintah Kendrick dan membuka pintu apartemennya. Berharap bahwa kedatangan pria itu membawa kabar yang akan membahagiakan.
Namun, matanya tertuju pada dua pria lain yang kini berdiri di sisi kanan dan kiri Kendrick dengan senyum menyebalkan.
“Kalian!”
To Be Continue ....