
“Boleh aku masuk?” tanya wanita itu dengan datar.
Kirana mengangguk. Meski dia penasaran siapa yang mengundang wanita itu, tetapi dia tidak mungkin menolaknya karena itu tidak sopan.
Tidak mungkin Kendrick akan mengundang wanita itu meskipun mereka berteman. Para sahabatnya juga tidak mungkin mengajak wanita itu sementara tahu bahwa pemilik rumah saja tidak menyukainya.
Saat wanita itu masuk, mata para pria tampan itu terbelalak melihat siapa tamu yang tak diundang.
“Sarah!”
Yups, wanita itu adalah Sarah. Saingan berat Yemima dalam mendapatkan cinta Kendrick, tetapi justru Kirana yang menjadi pemenangnya.
Sungguh takdir yang begitu tidak terduga.
Lima pria tampan itu tampak terkejut dengan kehadiran Sarah yang datang seorang diri.
Kendrick menggelengkan kepala seperti mengatakan bukan dia yang mengundang. Pun ke-empat pria itu juga melakukan hal yang sama, mereka tidak tahu apa pun.
“Malam, Tante, Om.”
Sarah menyapa semua orang dengan ramah, seperti biasanya wanita itu bisa langsung akrab dengan siapa pun, apalagi mereka sudah mengenal cukup lama.
Namun, tampak wajah tidak suka yang ditunjukkan Massayu. Kakak iparnya itu bahkan mundur selangkah saat Sarah ingin memeluknya.
“Kamu datang dengan siapa, Sar?” tanya Willy penasaran.
“Aku datang sendiri. Kenapa kalian nggak ngajak aku sih? Kita kan teman, tapi kalian melupakanku!” kata Sarah dengan nada kesal.
“Kamu tahu dari mana kami ada di sini?”
“Sore tadi aku bertemu dengan Sean dan dia nggak sengaja mengatakannya.” Andai Sean tidak mengatakannya, Sarah tidak akan tahu tentang acara ini.
Kini pandangan semua orang mengarah pada Sean yang kembali menjadi tersangka utama. Pandangan tajam dari sepasang suami istri itu membuat pria itu menunduk dan mundur karena merasakan energi jahat yang mendorong tubuhnya.
“Kalau kamu nggak diajak berarti kamu emang nggak diundang!” jawab Massayu sinis. Wanita itu terang-terangan menunjukkan sikap tidak sukanya. Entah apa yang pernah terjadi di antara mereka.
Sarah tampak malu, dia menahan kesal dengan mengepalkan tangan. Wajahnya tampak memerah dengan air muka yang begitu keruh.
“Sudah, sudah, nggak ada gunanya juga kalian berdebat. Sudah di sini semua, ayo kita makan malam dulu,” kata Diah mengintrupsi.
Mereka semua berjalan menuju ruang makan. Sean bahkan berjalan lebih dulu di belakang Diah dan Hanin karena takut mendapat amukan dari Kendrick.
Ayolah, dia tidak sengaja keceplosan saat bertemu dengan Sarah. Dalam pembicaraan mereka pun, tidak ada kalimat Sean meminta, memerintah atau mengajak Sarah untuk datang.
Kendrick yang berjalan di belakang bersama Kirana tampak memeluk pinggang istrinya dengan posesif. Dia berbisik lirih, “Aku nggak tahu apa pun. Jangan marah!”
“Oke,” jawab Kirana singkat dengan lirikan yang tidak oke seperti katanya.
Meja makan sudah dipenuhi banyak aneka menu makanan. Dari masakan dalam dan luar negeri semua tersaji dengan rapi, sungguh menggugah selera.
Untunglah meja makan di rumah ini cukup lebar dengan ukuran memanjang, ada sekitar empat belas kursi.
Kendrick duduk di ujung kanan, Hanin di ujung kiri bersama Diah di sisinya. Saat Kirana akan duduk di sisi suaminya seperti biasa, Sarah lebih dulu mengambil tempat itu.
Namun, Kirana tak ambil pusing. Dia berjalan ke seberang dan duduk berhadapan dengan Sarah yang tersenyum penuh kemenangan.
Hanin mempersilakan mereka semua makan dan mengambil apa pun yang diinginkan.
Selesai Kirana memenuhi piring suaminya, tiba-tiba Sarah mengambil udang dan meletakkannya di atas piring Kendrick sambil berkata, “Jangan lupa udang kesukaanmu, Ken.”
Kendrick menatap Sarah tajam penuh peringatan, seolah berkata, “Jangan memancing keributan!” Namun, wanita itu acuh tak acuh.
Kejadian itu tentu saja tak luput dari pandangan mata semua orang. Mereka mengutuk sikap Sarah yang tidak tahu malu. Seharusnya dia tidak bersikap seperti itu di depan istrinya.
“Aku sudah lama nggak makan udang sejak istriku alergi dengan makanan itu.” Kendrick menyisihkan udang itu begitu saja, membuat Kirana ingin menertawakan Sarah karena lagi-lagi dia ditolak.
“Kamu sudah banyak berubah,” jawab Sarah.
“Tentu saja. Karena istriku yang terbaik,” puji Kendrick membuat senyum di bibir Kirana tampak semakin lebar.
Sarah yang ingin menunjukkan kedekatannya dengan Kendrick harus menanggung malu dan geram. Sebenarnya niat Sarah adalah membuktikan bahwa dia lebih tahu segalanya dibandingkan istrinya.
Namun, Kendrick yang tahu niatnya ingin mempermalukan istrinya justru selalu membela. Sarah mendengus pelan sambil menatap Kirana benci.
Setelah makan malam, mereka menuju halaman belakang yang telah disulap dengan banyak kursi santai. Hanin dan Diah pamit lebih dulu kembali ke kamar, mereka akan menemani baby Ricky saja tidur. Tidak mau ikut acaranya yang muda-muda, katanya.
Tak lama ada pelayan yang mengatakan ada dua mobil box yang meminta izin masuk untuk mengantarkan barang. Kirana memandang Kendrick, apalagi ini, pikirnya.
“Suruh masuk saja, itu mungkin mobil yang antar hadiah kami,” kata Sean.
“Oke.”
Benar saja dua mobil box itu berisi seperangkat mainan yang langsung dipasang di halaman depan. Belum lagi ternyata ada satu mobil lagi yang ternyata berisi banyak hadiah dari Sarah. Wanita itu sepertinya tidak mau kalah dengan sahabatnya yang lain. Ya, walaupun dia tidak suka dengan Kirana, dia tetap memberikan hadiah itu karena tidak ingin Kendrick menganggapnya buruk.
“Terima kasih hadiah kalian semua, tapi ini benar-benar terlalu berlebihan,” kata Kirana sungkan.
Satu ruangan sudah penuh dengan hadiah dari pengirim yang tak dikenal, lalu sekarang bertambah lagi dari Sarah. Sepertinya mereka ingin menimbun bayinya dengan mainan.
Mereka menikmati wine sambil bercerita banyak hal. Kecuali Kirana yang tidak meminumnya sebab dia masih memberikan ASI pada bayinya.
Satu jam kemudian Massayu dan Mario pamit istirahat, Sebab besok pagi mereka harus kembali ke tempat tinggalnya.
Kirana kembali ke halaman belakang setelah dari kamar mandi dan melihat Sarah duduk mendekati Kendrick yang terus menghindar.
“Ulat bulu itu benar-benar gatal ternyata,” desisnya pelan.
Kirana memilih duduk agak jauh dari mereka dan melihat seberapa jauh Sarah akan mendekati suaminya. Namun, tiba-tiba Sarah berjalan menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
Wanita dengan penampilan lumayan seksi itu menatapnya intens, ada rasa iri dari pancaran matanya. Dia benar-benar merasa istri Kendrick itu tidak ada apa-apanya. Penampilannya biasa saja, tidak terlalu cantik dan tidak juga menarik.
“Nggak sopan memandang orang dengan tatapan seperti itu,” cibir Kirana.
“Aku hanya heran sekaligus penasaran, pelet apa yang kau gunakan pada Kendrick hingga dia bisa memilihmu,” kata Sarah mulai menyuarakan diri.
Kirana terkekeh mendengarnya, ada-ada saja tuduhannya.
“Kamu cantik, berpendidikan, dari keluarga terpandang, tapi pikiranmu dangkal sekali, Nona.”
“Kau tidak cantik dan tidak menarik, hanya wanita rendahan yang berasal dari kelas menengah, apa yang dilihat dari wanita sepertimu? Kendrick benar-benar sudah buta dalam memilih istri.”
Kirana tersenyum, tidak terpengaruh dengan hinaan itu. Justru dia mencibir dalam hati, jika dia disebut rendahan lalu sebutan apa yang pantas untuk dirinya sendiri yang terang-terangan menggoda pria beristri.
“Ucapan seseorang menunjukkan kualitas dirinya, Nona Sarah.”
Sarah menatap sengit ke arah Kirana yang tetap tersenyum dengan tenang.
“Menurutmu aku memang nggak cantik, karena kamu melihatku dengan pandangan nggak suka. Sementara aku di mata Kendrick akan tetap terlihat menarik karena dia mencintaiku.”
“Aku hanya nggak nyangka dan nggak habis pikir dengan pilihan Kendrick. Jika dia memilih Yemima, oke lah aku mengerti. Dia cantik dan memang sangat pantas mendampingnya. Sementara kamu?”
“Jika kecantikan dijadikan tolak ukur sebuah rasa, mungkinkah semuanya akan hilang saat paras tak lagi mempesona?” kata Kirana dengan tatapan lurus ke arah suaminya. “Jika indahnya cinta hanya dilihat dari segi fisik dan materi, lalu jika suatu saat fisik tak lagi menarik, harta tak lagi dimiliki, apa cinta akan terus bertakhta di hati?”
Sarah terdiam.
“Jangan membandingkan dirimu, diriku dan wanita-wanita lain di luar sana. Aku memang nggak cantik, tapi bisa jadi ada sesuatu hal yang aku miliki, tapi nggak kamu atau wanita lain miliki. Begitu pun sebaliknya.”
“Apa lebihnya kamu yang nggak aku miliki, hah?!” Sarah menatap tidak terima.
Kirana menggelengkan kepala. Wanita di depannya ini benar-benar bebal dan susah dijelaskan.
“Cinta itu bukan hanya sekadar hidup bersama saja, Nona Sarah. Memberikan kenyamanan adalah hal yang utama. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki, jika nggak ada rasa nyaman, apa kamu mau melaluinya?”
Kirana menggeleng pelan dan bangkit dari kursinya. Dia berjalan menghampirip suaminya yang masih melanjutkan minum. Tubuhnya lelah, dia ingin istirahat lebih dulu.
Sebelum berbalik Kendrick memeluk dan mengecup bibirnya sekilas, mengusap puncak kepalanya pelan.
Kirana berjalan kembali ke arah Sarah dan memeluknya. Patah hati memang menyakitkan, tetapi lebih menyakitkan jika harus berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
“Hati dan seluruh semesta itu milik Tuhan, jika kamu menyukainya, mencintainya, maka mintalah pada Tuhan untuk membukakan hatinya. Jangan memintaku melepaskan suamiku, karena itu nggak akan terjadi. Kuanggap semua yang telah terjadi dalam hidup adalah takdir yang telah digariskan. Entah yang kamu rasakan adalah kekaguman semata atau benar-benar cinta, kuharap kamu tetap menjadi wanita yang memiliki hati dengan tidak merusak kebahagiaan wanita lainnya.”
Kirana melewati Sarah, tetapi langkahnya kembali terhenti di gawang pintu, dia menoleh dan melemparkan senyum tulus. “Selamat malam, Nona Sarah.”
To Be Continue ....