Affair With CEO

Affair With CEO
Sadar



“Kendrick benar-benar telah berubah. Dia bahkan berani menyumpah mati padamu. Keterlaluan!” desis Sisil semakin membuat emosi Rajendra memuncak. Pria tua itu tak segan mencengkeram leher istrinya dengan kasar.


“Tutup mulutmu atau aku yang akan menutupnya, Sisil,” desis Rajendra dengan suara dingin dan aura yang mengerikan.


Sisil menggoyangkan tangan suaminya, berharap tangan itu segera lepas dari leher yang mulai terasa mencekik.


“Sa-kit,” ucap Sisil terbata dengan napas yang mulai sesak.


“Aku bisa melakukan apa pun padamu. Jadi tutup mulutmu yang tidak berguna itu,” ancam Rajendra melepaskan leher istrinya dan kembali duduk di dengan tenang.


Pria tua itu benar-benar merasa marah, bahkan sangat marah dengan sikap Kendrick yang tak menyerah dan mengalah. Justru yang terjadi jarak yang membentang semakin tampak jauh.


Rajendra sudah tahu tentang keberadaan Andrean yang juga ada di Jakarta. Namun, pria itu memilih tak mengatakan apa pun. Karena baginya yang bisa mewarisi seluruh kekayaannya hanya keturunannya, yaitu Kendrick.


“Jangan mencoba menghasutku untuk membenci Kendrick demi bisa membawa Andrean kembali dan menjadikannya pewaris. Dalam mimpi sekalipun itu tidak akan terjadi.” Rajendra seperti bisa menebak apa yang ada di kepala sang istri. Selama puluhan tahun menikah pria tua itu paham perangai sang istri. Namun, memilih abai karena sejak dulu pernikahan mereka hanya berlandaskan kesepakatan bisnis. Saling menguntungkan dan demi mencapai tujuan yang sama.


Sejujurnya Rajendra pernah menaruh perasaan pada Denisha. Wanita mandiri yang mampu mengusik hari-harinya. Wanita lembut dengan hati seluas samudra itu tak pernah menuntutnya banyak hal. Sangat berbeda dengan Sisil yang ambisius.


Namun, Rajendra di masa muda terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya. Terlalu berambisi dengan kekuasaan sampai buta mata dan hatinya.


Saat dia kehilangan anaknya dari Sisil, dia baru mencari Denisha. Namun, takdir seolah mempermainkan kehidupannya. Saat ada kelahiran, ada pula kematian.


Kendrick lahir, tetapi Denisha pergi untuk selamanya. Meninggalkan Rajendra dengan perasaan yang belum dikatakan.


Itulah penyesalan terbesar Rajendra hingga detik ini.


Saat melihat wajah Kendrick saat bayi, wajahnya mirip sekali dengan ibunya. Itu menyakitkan, membuat Rajendra tidak mau merawat bayi yang tak berdosa itu.


Karena wajah itu selalu mengingatkannya pada Denisha. Namun, seiring waktu berjalan semakin dewasa Kendrick, anak itu mulai memiliki kemiripan dengannya.


Membawanya kembali ke Keluarga Rusady untuk menjadikannya pewaris.


Namun, harapan hanya tinggal angan saat pria itu justru menikah dengan wanita yang tak diharapkan.


Dia ingin Kendrick meneruskan jejaknya menikah dengan Yemima. Wanita yang jelas asal usul keluarga dan latar belakangnya. Pantas mendukung Kendrick dalam menjalankan perusahaan.


Namun, Rajendra lupa bahwa lebih dari itu dia juga harus memikirkan kebahagiaan sang anak.


Seharusnya pria tua itu cukup mendukung apa pun keputusan anaknya, maka semuanya tidak akan serumit ini.


Dia pikir setelah membekukan seluruh aset dan tabungan, Kendrick akan kembali dan memohon. Namun, semuanya salah. Anaknya telah memiliki bisnis sendiri dan mampu hidup dengan baik tanpa dukungannya.


Kendrick menuruni sikap keras kepala dan tak mudah menyerah. Maka sudah dipastikan jika keduanya tidak ada yang mau mengalah, maka kehancuran adalah imbalan yang akan diterima.


Setelah kepergian Rajendra, Sisil mengepalkan tangan dan berjalan ke arah meja rias. Tangannya menyentuh permukaan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan mata berkilat penuh amarah.


Suara benda jatuh disusul setelahnya saat tangan tua itu menghempaskan peralatan make up yang ada di meja rias.


“Brengsek! Kau tidak bisa melakukan ini terus menerus, Rajendra!” teriaknya dengan keras.


“Kau sudah memisahkan aku dan Andrean. Membuang anakku dan kini setelah semua yang kulakukan, kau masih tidak kau menerimanya.”


Sisil meluapkan kemarahan, tangannya bahkan tak segan menumbuk kaca di depannya hingga retak.


“Pelacur itu memang pembawa sial bagi keluarga ini.”


Setelah menumpahkan kemarahan, Sisil terduduk di lantai dengan lemah. Dia marah pada keadaan yang tak pernah memihak padanya.


Dulu Denisha telah merebut perhatian Rajendra yang terkenal tak tersentuh, bahkan tak pernah menoleh ke arahnya sebagai istri. Setelah wanita itu tiada, kini anaknya mengacaukan semuanya dan menjadi penghalang yang sesungguhnya.


Sisil tidak mau usahanya selama belasan tahun mendampingi Rajendra tidak membuahkan hasil yang manis.


Dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan hak Andrean. Tak terkecuali harus menyingkirkan Kendrick seperti yang dia lakukan pada Denisha.


Kendrick datang dan memantau semuanya dari ruang kantornya yang ada di lantai dua. Senyum terbit di bibirnya. Walaupun hasil yang diterima tidak sebesar mengelola perusahaan, tetapi dia tetap bersyukur atas apa yang didapatkan.


...✿✿✿...


Pagi itu Kirana mendapatkan kabar bahwa Zidan akan berkunjung menemui kedua putrinya. Sebelum mengizinkan, dia bertanya pada sang suami lebih dulu.


“Boleh saja. Asal kamu minta temani mama atau Wina,” balas Kendrick setuju. Bagaimana pun dia tidak mau memisahkan seorang anak dengan ayahnya. Walaupun sebenarnya ada perasaan tidak rela mengingat perlakuan pria brengsek itu.


“Nanti aku ajak mama saja, ya.”


“Oke.”


Setelah sarapan dan Kendrick berangkat. Setengah jam kemudian Kirana ditemani Diah membawa kedua anaknya ke tempat yang telah ditentukan Zidan.


“Makasih sudah mau bawa Lina dan Rina menemuiku,” ucap Zidan dengan penampilan rapi. Sangat jauh berbeda dengan pertama kali dia bertemu.


“Mereka anakmu,” sahut Kirana datar.


Zidan mempersilakan Kirana dan Diah duduk. Sementara kedua anaknya menatap sang ayah dengan tatapan berkaca-kaca.


“Papa rindu kalian, Nak,” ucap Zidan dengan tatapan penuh penyesalan.


“Aku nggak mau di sini, Ma. Ayo pulang!” Rina menatap sang ibu dengan tatapan terluka.


“Papa pengen ketemu.”


“Tapi dia sudah jahat sama kita,” jawab Rina hampir menangis.


Zidan lupa atas apa yang telah dilakukan. Sikapnya di masa lalu memang sangat jahat, bahkan dia rela menelantarkan kedua anaknya.


“Papa minta maaf.”


“Aku mau pulang, Mama.” Tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Tidak mudah Rina melupakan apa yang telah dilakukan sang ayah. Ada rindu di hatinya, tetapi perasaan sakitnya lebih besar.


“Maafkan papa, Rina. Papa menyesal,” ucap Zidan bersimpuh menyamakan tinggi putrinya.


Tangis Rina semakin keras, membuat mereka menjadi pusat perhatian.


“Nak, papa sudah menyesal dan ingin minta maaf.” Kirana mencoba memberikan pengertian.


“Ayo pulang, Mama.”


Rina keluar dari restoran lebih dulu, disusul Diah yang mengejarnya bersama dengan Lina.


“Aku sangat rindu, tapi aku juga sadar salahku terlalu banyak,” ucap Zidan dengan kepala menunduk penuh penyesalan.


“Aku akan bicara dan beri mereka pengertian.”


“Makasih, Kira.”


Kirana mengangguk dan berlalu menyusul. Sesekali dia menoleh ke belakang, menatap Zidan yang diam-diam mengusap sudut matanya.


Dia tahu bahwa pria itu benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki semuanya. Selama ini Zidan hanya tertekan dengan desakan ibunya yang selalu bertolak belakang dengan keinginannya.


Namun, semuanya telah terjadi.


Penyesalan memang selalu ada di akhir cerita.


To Be Continue ....