
Sudah dua hari baby Ricky dirawat di rumah sakit, kondisinya semakin membaik. Selama itu pula Kirana tak pernah meninggalkan anaknya.
Waktu tidurnya terkuras habis untuk memikirkan suami dan putranya.
Meskipun dia telah mendapatkan kabar dari Sean bahwa jasad yang ditemukan bukanlah Kendrick, tetap saja pikiran buruknya masih menghampiri.
Dua korban itu telah meninggal, ditemukan di aliran sungai. Lalu bagaimana dengan nasib suaminya?
Sean dan Indra juga belum kembali sejak pergi ke Bogor. Menurut Alfred, mereka sedang ada sesuatu yang harus dikerjakan. Kirana paham dan tak banyak bertanya lagi.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi matanya belum juga ingin terpejam. Dia menatap Alfred yang duduk di sofa berpangku dengan laptop, menatapnya intens seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Ada apa, Kiran?” tanya Alfred yang sadar ditatap olehnya.
“Bukan apa-apa. Aku tidur dulu, kamu juga istirahatlah.”
“Ya.”
Kirana membalikkan tubuhnya menatap sang putra. Ranjang rumah sakit ini cukup luas untuk dirinya tiduri bersama dengan sang anak.
Matanya mencoba terpejam hingga bayangan seseorang yang begitu dirindukan muncul dengan senyum terbaiknya.
“Kendrick,” kata Kirana dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tidurlah, Sayang. Aku tahu kamu lelah, lupakan apa yang terjadi. Jangan kamu terus memikirkanku, di sini aku baik-baik saja.”
“Kamu di mana? Kenapa nggak juga pulang jika memang baik-baik saja? Aku butuh kamu, Ken.”
Kendrick tersenyum dan berjalan mendekat. Tangannya terangkat mengusap pipi Kirana lembut.
“Aku akan kembali. Tapi nanti, jika semuanya telah selesai. Aku akan kembali untukmu, Sayang.”
“Kamu bohong!”
“Aku nggak pernah mengingkari janji. Aku mencintaimu dan akan tetap seperti itu. Bersabarlah sebentar lagi.”
Setelah pelukan terlepas, Kendrick berjalan menjauh lagi membuat Kirana berteriak memanggil namanya.
“Bersabarlah, Kiran. Aku tahu istriku itu wanita yang kuat. Kita hanya terpisah beberapa waktu, aku pasti kembali.”
Kirana mengejar Kendrick, tetapi suaminya tak lagi terlihat. Tubuhnya jatuh merosot dengan tangisan yang kembali pecah.
“Kiran!” Alfred yang mendengar Kirana menangis dalam tidurnya segera menghampiri dan menggoyang tubuh itu pelan. “Kiran, bangun!”
“Kendrick!”
...✿✿✿...
Ingatannya kembali berputar tentang mimpinya semalam. Kirana merasa itu bukan hanya sekadar mimpi, itu nyata.
Suaminya baik-baik saja.
Dia yakin dan percaya itu.
Bruk!
Kirana ditabrak oleh seseorang hingga jatuh, tubuhnya menghempas di lantai yang dingin.
“Maaf, saya tidak sengaja,” kata seseorang membantu Kirana memungut obat yang berserakan.
Kirana mendongak saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Dia ingat, pria itu adalah seseorang yang berulang kali ditemuinya tanpa sengaja.
“Terima kasih,” kata Kirana bergegas pergi. Namun, lengan tangannya dicekal pria itu dengan lancang, membuatnya menoleh dengan tatapan tajam. “Ada apa lagi, ya?” Dia sedang tidak ingin berurusan dengan pria ini. Masih ingat dengan pesan suaminya untuk menghindari saudara tirinya itu.
“Kau di sini sedang apa? Siapa yang sakit?” tanyanya penuh ingin tahu. Sikapnya sok akrab sekali.
“Anakku. Tolong, lepaskan tangan Anda.”
“Ayolah, aku ini saudara suamimu. Tidak perlu terlalu formal padaku,” kata pria itu lagi dengan senyuman.
Andrean tampak menatap wajah cantik Kirana dengan intens. Meskipun sudah memiliki tiga anak, wanita itu masih seperti gadis yang memiliki bentuk tubuh sempurna.
“Maaf, kita tidak sedekat itu.” Kirana menghempas tangan pria itu sedikit kasar.
Andrean benar-benar dibuat tertarik dengan sikap wanita yang mengabaikannya. Biasanya para wanita akan dengan sukarela mendekatinya dengan berbagai cara, tetapi wanita di depannya benar-benar tidak tersentuh sama sekali.
“Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi dengan Kendrick.”
Kirana hanya mengangguk. Dia tak melihat sedikitpun simpati dari wajah pria itu, justru sebaliknya. Seperti ada rasa puas dan bahagia yang coba disembunyikan.
“Kau tidak datang ke rumah?”
“Untuk apa?” tanya Kirana balik dengan acuh tak acuh. Jangankan di mana mereka tinggal, alamatnya saja tidak tahu.
Andrean menatap Kirana dengan senyum tipis di bibirnya. “Mommy dan daddy akan mengadakan acara doa untuk Kendrick. Juga untuk melepaskan jiwanya kembali pada Tuhan,” katanya, seperti pemberitahuan yang mengatakan bahwa Kendrick telah mati.
Seketika itu juga Kirana terhenyak, dia mendongak untuk menatap pria di depannya. Manik matanya berkilat penuh kemarahan dan pancaran yang tak biasa. Kedua tangannya terkepal erat hingga baku jarinya memutih. “Apa!” katanya dengan ekspresi tidak percaya. Meskipun dia tahu orang tua Kendrick tak menyukainya, mungkinkah mereka secepat itu akan melepaskan anaknya. Bahkan sebelum tubuhnya ditemukan.
“Mommy dan daddy akan mengadakan acara untuk melepaskan kematian suamimu!” kata Andrean lagi semakin tegas.
Tanpa menunggu penjelasan apa pun lagi Kirana segera berbalik pergi. Saat Andrean mengikutinya, wanita yang tengah dikuasai amarah itu justru memaki dan mengumpatinya hingga mereka menjadi pusat perhatian.
“Berhenti mengikutiku atau kau akan tahu akibatnya!” ancam Kirana dengan wajah merah padam, lalu berbalik dan pergi begitu saja.
Kirana segera berlari ke arah ruang rawat putranya. Tubuhnya gemetar hebat, bisa-bisanya mereka melakukan ini pada putranya sendiri. Kirana benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang seperti mereka.
Di ruang rawat ada Diah dan Alfred. Mereka berdua menatapnya dengan khawatir. Dia memaksakan senyum untuk menutupi semuanya dari Diah, Kirana tidak ingin wanita paruh baya itu jatuh sakit lagi.
“Aku nggak apa, Ma. Ada yang perlu aku bicarakan dengan Alfred,” kata Kirana memberikan kode yang langsung diangguki.
Alfred keluar lebih dulu disusul Kirana kemudian setelah menjawab berbagai pertanyaan dari Diah.
“Ada apa, Kiran?” tanya Alfred dengan wajah khawatir.
“Kamu tahu rumah Tuan Rajendra?”
Alfred mengangguk, masih belum mengerti apa yang sebenarnya diinginkan wanita di depannya.
“Kau punya pistol atau senjata lainnya?”
Alfred kembali mengangguk. “Punya. Aku menyimpannya di dasbor mobil.” Wajahnya semakin bingung karena hanya pertanyaan yang diajukan tanpa memberinya penjelasan.
Kirana tersenyum puas. “Antar aku ke sana. Aku akan membunuh mereka berdua!”
Deg!
Perasaan Alfred langsung tidak enak. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
To Be Continue ....