
“You are beautiful,” bisik Kendrick.
Mata pria itu menyorot penuh kekaguman penampilan Kirana yang sangat berbeda dari biasanya. Ketika di kantor, pakaian formal, di rumah, tak jauh-jauh dari daster longgar. Paling tidak, biasanya pakaian wanita itu selalu terkesan sopan.
Mengenakan dress bodycon yang sangat ketat hingga bentuk tubuh terlihat jelas, dengan panjang di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjang yang putih mulus. Bagian tubuh menonjol dengan bentuk yang menggiurkan. Bahu dan punggung terekspos dengan sempurna, membuatnya harus menelan saliva susah payah.
Wajah polos, tanpa riasan atau pewarna bibir, rambut tergerai indah. Di matanya, Kirana terlihat seksi dan menggoda.
“Mengapa malam ini begitu cantik?”
“Mana ada cantik, aku bahkan tak merias diri,” sangkal Kirana. Menunduk melihat kakinya, yang bahkan hanya memakai sandal hotel.
Kirana juga mengakui, malam ini dia memang berpenampilan terbuka. Seharusnya bukan masalah, lagipula ini Bali. Mungkin bagi Kendrick, ini pertama kali, tetapi baginya ini biasa. Dia hanya menempatkan diri sebagaimana diperlukan.
Kendrick merengkuh pinggangnya erat.
Sesampainya di bar yang terletak di lantai teratas hotel, mereka disambut alunan musik yang menghentak. Ini bar hotel, bukan klub malam yang menyediakan banyak jenis alkohol. Di sini hanya tersedia beberapa jenis alkohol dengan kadar rendah.
“Wine or beer?”
“Bir dan vodka saja, kalau ada,” sahut Kirana.
Mereka duduk di ujung ruangan yang tersedia setelah memesan beberapa minuman. Bar ini buka full time, tetapi hanya di malam hari saja ada pertunjukan. Sementara jika siang hari, mereka hanya bisa menikmati alunan musik dari band pengiring.
“Ken, boleh aku bertanya sesuatu?” Kirana bersuara.
“Tanyakan saja.”
“Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku? Aku akan bercerai dan sebentar lagi menyandang status janda, apa kata orang nanti?”
Kendrick menggenggam tangannya semakin erat. “Aku tidak peduli penilaian orang terhadapmu. Ini hidupku,” sahutnya. “Tentang perasaan, apa kamu masih tidak percaya denganku? Jika kamu pikir hanya bermain-main, maka tidak akan ada aku di sini.”
Kirana merasakan perasaan hangat menjalar di hatinya. “Aku takut kamu penasaran.”
“Aku memang brengsek, tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi.” Kendrick mencium tangan Kirana, membuat wanita itu menunduk malu. “Aku benar-benar menyukaimu sejak pandangan pertama, kupikir ini hanya sebatas rasa kagum, tapi kebersamaan kita sudah cukup meyakinkanku. Bahwa perasaan ini, bukan hanya sekedar kagum semata.”
Kirana mendongak hanya untuk menatap wajah Kendrick, mencari kebohongan dari raut wajah pria itu. Namun tak ada, pria itu terlihat sangat serius dengan sorot mata penuh keyakinan.
“Aku mencintaimu.” Kirana menelengkan kepala, memastikan bahwa pendengarannya tak salah. Namun justru sorot mata jernih itu menghipnotis.
“Aku mencintaimu, Aiza Kirana Mirabelle.”
Kendrick menarik tengkuk wanita itu dan menciumnya, sebuah kecupan lembut yang penuh cinta. Hanya untuk beberapa detik sebelum ciuman terlepas, ketika pelayan mengantarkan pesanan.
Sambil menyesap minuman, mata Kirana tak lepas menatap sosok pria di sampingnya. Bahkan kebahagiaan akan ungkapan perasaan cinta dari Kendrick menutupi segala pikiran tentang proses perceraian yang sedang dilakukan.
Tiga orang wanita itu meliukkan badan dengan penuh semangat, hingga suara sorak penuh gairah meluncur dari bibir beberapa pria yang kini justru mendekat ke arah panggung.
Boleh dilihat, tak boleh dipegang. Itu peraturannya.
Saat Kirana menoleh, justru tatapannya beradu dengan tatapan tajam milik pria itu. Dia pikir, pria di sampingnya ikut menyaksikan penari yang mencuri perhatian banyak orang, nyatanya pria itu hanya menatapnya dalam-dalam.
Saat ingin melontarkan pertanyaan, justru pria itu menjawab dengan cepat, “Aku sudah bosan melihat mereka.”
“You are bastard,” bisik Kirana.
“Yes, I am. Jika tidak, aku tak akan mungkin berani memercikkan api asmara pada istri orang,” sahut Kendrick dengan suara rendah.
Tangan Kendrick membelai punggung telanjangnya hingga membuat Kirana bergerak tak nyaman.
“Tolong tangannya dikondisikan, Sayang.”
“Bibirmu semakin manis saat mengucapkan kata itu.”
Kendrick kembali mencium Kirana, kali ini tak ada lagi kelembutan. Ciuman itu begitu menuntut, bahkan suara decakan terdengar beberapa kali ketika lidah pria itu bermain dengan liar, menyesap, bahkan mengigit lembut.
Tangannya turun, membelai paha sampai ke betis, kemudian mengusapnya dengan gerakan sensual.
Ketika suara hentakan musik terdengar penuh semangat, Kendrick melepaskan ciuman dan mencumbu leher yang menguarkan harum kayu manis.
Kirana tak menolak apa pun, dia justru memejamkan mata dengan napas memburu. Menikmati setiap sentuhan bibir dan tangan Kendrick yang tengah berselancar di tubuhnya.
“Ken,” ******* itu lolos ketika tangan pria itu berada di perutnya.
Kendrick menghentikan aksinya. Dia kembali mendongak ketika mata jernih milik wanita itu menatapnya polos.
Kini tidak ada lagi yang Kendrick inginkan, selain ... bercinta.
To Be Continue ....
...___________...
...Yang belom masuk group chat, yok masuk. Minggu depan, aku adakan game buat meramaikan group. Hadiah pulsa 25k untuk 4 orang dan 10k untuk 10 orang....
...Caranya, follow akun NovelToon dan Instagram. Memang nggak banyak, ini untuk meramaikan GC aja biar kita bisa saling kenal....
...Salam sayang, Memey ❤️...