Affair With CEO

Affair With CEO
Satu kenyataan terungkap



Sesampainya di kantor, Kirana disambut dengan berbagai tanya yang dilontarkan pria itu.


Tentang kedatangan mantan mertua yang sudah memulai keributan di pagi hari.


“Biasalah, apalagi yang diributkan kalau bukan soal harta,” jawab acuh Kirana.


“Mereka sampai merusak kaca rumah. Itu sudah kriminal,” sahut Kendrick dengan rahang mengeras. “Sebaiknya kamu pindah saja.”


“Pindah juga butuh waktu. Aku perlu cari rumah yang pas dan sesuai budget.” Tertawa ringan, seolah ucapannya hanya candaan.


Mungkin dia memiliki banyak uang, tetapi wanita itu selalu berpikir dua kali jika harus membeli sesuatu dengan harga mahal. Selalu menimbang keperluan dan kepentingan lebih dulu sebelum setuju.


“Aku serius, Kiran! Lingkungan itu sudah nggak sehat buat kamu dan anak-anak, bisa saja sewaktu-waktu mereka datang dan melukai kalian. Nothing impossible!”


“I know, seperti yang kukatakan untuk cari rumah lebih dulu.”


“Kamu bisa pindah ke rumahku. Itu juga akan jadi rumah kita.” Wanita itu sama sekali tak terkejut, mengetahui bahwa pria itu pemilik perusahaan sudah membuatnya takjub, jika pria itu memiliki banyak properti yang tersebar di beberapa daerah itu bukan hal yang mengejutkan lagi.


Kirana menggeleng pelan. “Selama kita belum resmi menikah, aku nggak bisa terima apa pun darimu.”


“Why?”


“Tidak ada, hanya tidak ingin saja.”


“Kamu masih belum selesai dengan mereka?”


Kirana mengangguk lagi. “Aku ingin Ajeng mengakui dosanya karena telah membuatku kehilangan anak. Itu bukan semata karena takdir, itu salah mereka yang berencana jahat. Mereka harus memohon di kakiku untuk sebuah pengampunan,” desisnya dengan mata yang berair.


Kendrick langsung merengkuh tubuh yang bergetar itu dengan erat, memberikan kecupan di seluruh wajah sebelum akhirnya mereka kembali pada aktivitas yang telah menunggu.


...✿✿✿...


Sementara di rumah Ajeng, wanita paruh baya itu sudah mengatakan banyak hal pada sang anak tentang sikap mantan istri yang menghina di depan umum. Juga mengatakan banyak kebohongan untuk semakin membuat pria itu murka dan memberikan pembalasan yang setimpal.


Tanpa tahu bahwa apa yang akan dilakukan Zidan akan berdampak lebih buruk.


...✿✿✿...


Waktu makan siang, Kirana bersama dengan Kendrick memilih makan di luar kantor. Di sana mereka tak sengaja bertemu dengan Alfred dan Sean yang juga baru saja tiba.


Mereka bersalaman ala pria dewasa, kemudian bicara sejenak sebelum Kendrick meminta kedua sahabatnya bergabung dalam satu meja. Sementara Kirana hanya mampu menunduk, karena dia mengenal Sean sebagai mantan bosnya terdahulu. Ada perasaan sedikit sungkan yang merasuk dan menggerogoti hati.


“Santai saja, Kiran. Nggak perlu sungkan, kami sahabat lama.” Sean berbicara seolah tahu apa yang dirasakan oleh wanita itu.


Kirana mengangguk, tetapi masih menunduk.


“Hi, Kirana,” sapa Alfred, berniat mencium pipi wanita itu, tetapi tatapan tajam dari pria di sebelahnya mampu membuat apa yang akan dilakukan terhenti dan menguap begitu saja.


“Posesif banget,” gerutunya pelan.


Kirana yang menjadi wanita satu-satunya hanya bisa mendengarkan obrolan para pria dewasa yang isinya tak jauh-jauh dari kenikmatan dunia.


Bahkan setelah makan, mereka kembali melanjutkan obrolan tentang itu-itu lagi. Klub malam, wanita cantik, taruhan, private party. Semua yang dibahas hanya menunjukkan seberapa brengsek mereka.


Membuat Kirana meragu tentang kesungguhan Kendrick padanya.


“Apa yang kamu pikirkan? Jangan berpikir yang macam-macam, aku sudah benar-benar berhenti.”


“Lho, Pak Sean sama Pak Alfred mana?”


“Mereka sudah balik dulu, kamu melamun. Apa yang ada di kepalamu?”


Kirana menggeleng, membuat pria itu menghela napas berat. “Aku benar-benar sudah berhenti. Trust me!”


“Dengan kehidupanmu yang sangat berbanding terbalik denganku, mungkinkah kita bisa bersama?”


“Kenapa harus ragu? Kita saling mencintai dan itu saja sudah cukup,” sahut Kendrick, menggenggam tangan Kirana erat.


“Takut keluargamu tak merestui hubungan kita. Aku hanya seorang janda dengan dua orang putri, sementara statusmu bahkan masih melajang dan status sosial kita juga berbeda. Aku ragu ini akan berhasil.”


Entah mengapa ketakutan itu menyergap di dada. Melunturkan seluruh kepercayaan diri yang dimiliki. Apalagi bicara soal status sosial yang jelas berbeda, dia hanya wanita sederhana sementara Kendrick pria sejuta pesona.


“Kamu ragu padaku?”


“Bukan padamu, tapi pada hubungan kita.”


Kendrick mendengus pelan sebelum menjawab, “Sebenarnya banyak hal yang ingin kukatakan, tapi tak bisa sekarang.”


“Kenapa?”


“Aku harus meyakinkan seseorang lebih dulu.”


“Orang tuamu?”


Kendrick mengangguk singkat. Membicarakan hal tersebut pria itu tiba-tiba terlihat murung dan kurang bersemangat.


“Pak Hanin dan Bu Diah orang yang baik.”


“Mereka memang orang baik, tapi mereka bukan orang tuaku, Kiran.”


Kirana yang tadinya menunduk segera mengangkat kepala. Sedikit terkejut dengan pengakuan tersebut, saat matanya bersitabrak dengan pria itu, ada secercah luka yang melintang.


Bibirnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi semuanya hanya bisa ditahan ketika melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan Kendrick.


“Kamu tidak salah dengar, Papa Hanin dan Mama Diah memang bukan orang tuaku. Mereka ....”


To Be Continue ....