
“Kiran, bangun.”
Kendrick mengecup seluruh wajah sang istri. Dia bahkan bisa melihat mata yang tengah terpejam itu sedikit bengkak di bagian bawah.
“Kiran, bangun dulu.”
Perlahan mata jernih itu terbuka, tubuhnya menggeliat pelan. Dia tersenyum melihat wajah sang suami di depannya.
“Udah lama? Maaf aku ketiduran,” ucap Kirana dengan suara serak.
“Kamu belum makan. Ayo bangun.”
Kirana menggeleng. “Aku nggak lapar.”
“Nggak perlu nunggu lapar buat makan. Ingat, kamu nggak sendirian. Bayi butuh asupan yang bergizi, kamu harus makan.”
“Kamu makan aja, aku temenin.” Kirana segera bangun, mengambil asal rambutnya yang berantakan dan mengikatnya tinggi-tinggi.
“Kamu harus makan, Kiran. Jangan membantah!” ujar Kendrick dingin. Matanya menatap tajam ke arah sang istri yang terkejut dengan nada bicaranya.
“Mau makan apa?”
“Wina udah panaskan makanan saat aku pulang.”
Keduanya berjalan menuju ruang makan. Di meja sudah ada beberapa menu makanan yang tersedia.
Kendrick segera mengisi piring makannya dengan berbagai menu. Sementara Kirana hanya menatapnya tanpa mau berkomentar.
“Buka mulutmu,” perintah pria itu tegas.
“Aku bisa makan sendiri.”
“Jangan membantah, Kiran!”
Entah mengapa mendengar nada suara Kendrick yang dingin, membuat Kirana langsung menurut.
“Kamu juga makan, Ken. Jangan menyuapiku aja.”
Kendrick hanya mengangguk tanpa membalas.
Setelah sepiring berdua telah tandas, Kendrick segera bangkit dan membuatkan segelas susu hamil untuk sang istri.
“Habiskan.”
“Udah.”
Kendrick mengecup puncak kepala sang istri lembut. Dia tidak marah dengan wanita itu, sama sekali tidak. Hanya saja dia terlalu khawatir saat baru sampai di rumah, Diah mengatakan bahwa sang istri mengurung diri di kamar tanpa makan apa pun.
Dia marah, tetapi bukan dengan sang istri. Dia marah dengan sesuatu yang menjadi penyebab istrinya seperti ini.
Setelah makan malam, keduanya kembali ke kamar. Duduk bersandar di ranjang dengan tubuh yang menempel satu sama lain.
“Kiran.”
“Bersabarlah lagi untuk menghadapi orang tuaku.”
“Sampai kapan?” tanya Kirana lirih lebih mirip bisikan.
“Aku tahu kamu kuat dan bisa melakukannya lagi.”
Kirana tersenyum miris. “Aku memang nggak mengatakannya, tapi di sini, rasanya sakit sekali.” Dia menunjuk dadanya sendiri. “Lebih sakit ketika mereka menghina orang tuaku. Apa ini harga mahal yang kita dapatkan karena semuanya bermula dari sesuatu yang nggak baik?”
“Maaf,” sahut Kendrick lemah.
“Jika memang seperti ini, mengapa dulu kamu mengajakku menikah, Ken? Seharusnya kamu tahu bahwa ini akan terjadi.”
“Pernikahan bukan akhir dari hubungan, Kiran. Pernikahan adalah babak baru dalam menjalani hubungan. Berjanjilah apa pun yang terjadi, tetaplah bertahan dan kita bisa melewatinya sama-sama.”
Pernikahan mereka bahkan baru berjalan seumur jagung, tetapi Kirana mulai meragu. Dia ragu pada hubungan yang dijalani, dia ragu dengan kesungguhan Kendrick padanya.
Jika tahu bahwa orang tuanya akan menolak, seharusnya dia bisa meyakinkan orang tuanya lebih dulu sebelum membawa pada pernikahan. Namun justru yang dilakukan sebaliknya, pria itu dengan tergesa membawanya pada sebuah ikatan.
Ikatan sakral yang justru membawanya kembali pada jurang permasalahan yang tak berkesudahan.
“Aku mau tidur. Selamat malam, Ken.”
Kirana menurunkan tubuhnya, menarik selimut dan memunggungi sang suami. Matanya terpejam, tetapi pikirannya justru berkelana jauh.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kendrick masih terjaga, bahkan saat ini pria itu tengah berdiri di balkon dengan rokok yang terus sambung menyambung tanpa jeda.
Pikirannya resah.
Sebenarnya dia tahu bahwa saat ini istrinya terlalu sensitif untuk menanggapi banyak hal. Bahkan wanita itu mulai bimbang dan ragu, membuatnya takut jika suatu nanti sang istri akan menyerah.
...✿✿✿...
Rajendra membaca sesuatu yang dibawakan oleh Roy. Pria tua itu tampak terkejut ketika mengetahui ternyata sang anak memiliki bisnis sendiri.
Bisnis itu diketahui dikelola Massayu, tetapi yang memegang kendali penuh adalah Kendrick sendiri sebagai pemilik. Selama ini dia berhasil menyembunyikannya dengan baik.
“Sialan!” umpat Rajendra meremas kuat kertas tersebut dan melemparnya asal.
“Tuan muda berhasil membangun bisnisnya tanpa campur tangan nama Rusady,” jelas Roy mengatakan kejujuran.
Namun ucapan sang asisten justru melukai harga diri Rajendra. Dia tidak terima dengan kekalahan, karena apa pun yang diinginkan harus didapatkan.
Termasuk membawa Kendrick kembali padanya.
“Hancurkan semua tanpa sisa. Buat mereka tidak memiliki apa pun dan tak ada seorang pun yang akan membantunya. Biarkan dia kembali dan mengemis untuk kembali.”
Roy tampak terkejut, dia membelalakkan matanya. Ada sedikit keraguan, tetapi tak urung disanggupi ketika pria tua itu menatap dengan kejam dengan seringai mengerikan.
“Rajendra Rusady bisa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Jika dengan cara baik-baik aku tak bisa membawamu kembali, maka cara kasar seperti ini adalah satu-satunya jalan,” gumam pria tua itu sambil memandang langit-langit ruangan.
To Be Continue ....