Affair With CEO

Affair With CEO
Miskin



Matahari mulai menampakkan sinarnya. Semenjak pagi Kirana sudah mondar-mandir, mengabaikan Zidan yang masih tidur di sofa ruang keluarga.


Beberapa kali dia sengaja menimbulkan bunyi nyaring untuk mengganggu pria itu supaya segara bangun dan pergi dari rumah ini.


Berada di atap yang sama membuatnya muak. Inilah batas waktu yang dimiliki. Dia sudah benar-benar muak menjalani pernikahan dengan Zidan yang terombang-ambing tanpa arah dan tujuan.


Benar saja akhirnya Zidan terbangun, beberapa kali pria itu mengusap matanya kasar dan segera masuk ke kamar mandi setelah menyapanya.


“Di kantormu ada lowongan pekerjaan nggak? Kalau ada tolong berikan informasi padaku ya.”


Kirana tak menjawab. Dia tetap melanjutkan sarapan tanpa melihat ke arah Zidan yang baru saja duduk.


Setelah menandaskan sepiring nasi goreng dan segelas jus, Kirana baru mendongak dan menatap Zidan sinis.


“Cari aja sendiri. Giliran susah datang ke sini, kalau lagi seneng jangankan datang, nanyain kabar aja enggak,” sindirnya sinis.


“Jangan memulai pertengkaran, Kira. Aku ngomong baik-baik lho, kamu malah kayak gitu.”


“Suruh aja istri keduamu dan keluargamu bantuin. Aku sih ogah. Bantuin kamu nggak ada untungnya.”


Zidan hanya bisa menghela napas panjang menghadapi istrinya yang semakin hari semakin berubah. Tidak seperti dulu yang akan selalu membantu dan melakukan apa pun untuknya.


“Kalau kamu masih jadi pengangguran dan kekurangan uang, kamu bisa jualin perhiasan, tas dan baju milik istrimu. Mahal lho barang dia, kan kamu ngasihnya juga ratusan juta.” Kirana kembali melemparkan sindiran pedas. “Apalah daya aku yang hanya dikasih dua puluh lima juta sebulan. Jangankan buat beli tas yang harga jutaan, beli yang ratusan ribu aja harus pikir dua kali. Sesimpel itu dulu hidupku, enggak pernah nuntut ini dan itu.”


Setelahnya dia bergegas pergi sebelum Zidan berteriak di depannya. Namun dugaannya salah, ternyata pria itu hanya diam setelah mulutnya mencecar dan menyindir habis-habisan.


Sesampainya di kantor, Kirana melakukan tugas seperti biasa. Sepanjang hari dia sibuk berkutat dengan pekerjaan sampai tak sempat memikirkan hal lain.


Pekerjaan yang lumayan menyita waktu membuatnya dan Kendrick hanya bicara singkat. Mereka baru memiliki waktu saat makan siang tiba.


“Kamu yang membuat Zidan dipecat dari kantor?”


“Sean yang melakukannya.”


“Pak Sean?” tanya Kirana.


“Iya, kamu pasti mengenalnya. Dia pemilik Group Sinar Mas.”


“Aku dulu bekerja di kantornya.”


“Kamu jangan senang dulu. Akan ada kejutan lain untukmu, tapi nanti. Aku menepati janjiku, Kirana,” ucap Kendrick dengan suara berat.


“Aku percaya, Ken.”


Setelah makan siang selesai, keduanya kembali pada pekerjaan masing-masing sampai tak menyadari waktu sudah beranjak sore.


“Ngapain kamu repot-repot nyari kerja. Lebih baik kamu fokus ke toko sama restoran aja. Kamu kerja gajinya nggak akan sebanding dengan omset dari ketiga usaha itu.” Suara seorang wanita paruh baya itu mengomeli putranya.


“Tapi aku suka bekerja, Bu.”


“Halah, kamu ini kenapa sih! Kamu tinggal duduk dan terima uang mengalir ke rekening itu malah enak, nggak perlu banyak mikir dan capek,” bentak Ajeng dengan kesal.


Bu, ini nggak semudah yang kamu bilang. Keadaan udah berubah.


“Mas Zidan lebih baik ceraikan Mbak Kirana aja deh. Punya dua istri itu bikin susah, lebih baik pilih salah satu aja.” Komentar Nina memprovokasi.


“Bener kata adikmu. Lebih baik kamu ceraikan Kirana dan hidup bahagia sama Luna dan anak kalian.” Ajeng setuju dan semakin mendesak.


“Udah deh, pusing aku dengar omelan ibu yang kayak rel kereta. Pulang aja sana temenin Luna, bantuin dia urus Fandi.”


“Dibilangin kok malah ngeyel kamu ini.”


Zidan tak menggubris.


“Mas, minta uang dong buat belanja. Aku butuh refreshing biar otak tetap waras,” ucap Nina dengan senyum lebar.


“Minta sama suamimu. Uangku udah habis buat bayar biaya rumah sakit Luna.” Zidan menolak, dan ini adalah pertama kalinya dia menolak permintaan keluarganya. Biasanya tanpa banyak omong dia akan langsung mengirimkan setidaknya lima puluh juta tiap kali Nina atau ibu meminta.


Nina menatap horor sang kakak. Tidak seperti biasanya, sikap sang kakak beberapa minggu ini memang sedikit berubah.


“Aku mintanya sama kamu, Mas. Kamu ini kan kakakku, seharusnya bahagiakan ini adiknya,” ujar Nina sambil mendengus pelan.


“Biasanya juga kan dikasih kalau ada. Tiap minggu puluhan juta itu dari siapa kalau bukan dariku,” bentak Zidan kesal.


“Kamu kok malah jadi perhitungan sih, Mas. Aku ini keluargamu lho.” Nina merajuk dengan suara yang semakin terdengar memuakkan di telinga Zidan.


“Udah kalian pulang aja, pusing aku.” Zidan menarik rambutnya kasar.


“Zidan, kirim uangnya buat ibu sama Nina. Kami pulang dulu, jangan lupa dikirim. Buat istrimu juga.” Ajeng memerintahkan seenaknya tanpa mau tahu apa yang terjadi dengan sang anak. “Kamu jangan perhitungan sama kami, kamu bisa seperti ini juga berkat dukungan keluarga. Jangan jadi kacang yang lupa sama kulitnya,” sambung Ajeng, segera mengajak Nina pergi.


Prang!


Zidan mengepalkan tangan dan menumbuk meja kaca yang ada di hadapannya hingga pecah.


Tiga puluh persen yang diberikan Kirana seharusnya cukup untuk biaya hidup mereka selama sebulan, tetapi karena keluarganya terlalu boros maka uang segitu tak ada artinya bagi mereka.


Tanpa tahu, tanpa peduli, bahwa saat ini Zidan sedang dalam masalah rumit.


To Be Continue ....