
“Maafkan orang tuaku, Kiran.” Itu adalah kalimat yang terus dikatakan oleh Kendrick berulang kali.
Istrinya nampak tertekan. Seperti biasa wanita itu bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik. Namun tidak dengan pemeriksaan dokter yang mengatakan bahwa tekanan darah sang istri begitu tinggi, hingga membuat emosinya tidak stabil dan itu bisa membahayakan kesehatan.
“Udah deh, bosan aku mendengarnya. Sana berangkat ke kantor, aku hari ini mau istirahat. Nggak mau ke mana-mana.”
“Mau nemenin kamu aja kayaknya.”
Kirana segera menggeleng tegas. “Enggak! Sana ke kantor, aku lagi nggak pengen lihat wajahmu.”
Seketika wajah pria itu terlihat kesal mendengar ucapan sang istri.
“Kabari aku jika perlu sesuatu.” Mencium puncak kepala sang istri sebelum pergi.
Setelah kepergian pria itu, Kirana menunduk, menyembunyikan cairan bening yang hampir tumpah.
“Kenapa hidupku nggak pernah benar-benar bahagia? Selalu saja ada batu sandungan yang membuat jalan yang kulewati tampak terjal. Apa salahku, Tuhan?”
Dulu bersama dengan mantan suaminya, dia bertemu dengan ibu mertua yang jahat. Sekarang, lagi dan lagi dia harus mengalami hal yang sama.
Kirana mengurung diri di kamar, malas keluar. Bahkan makan siang yang dikirim ke kamar belum tersentuh sama sekali.
“Kiran, boleh mama masuk?” tanya Diah berdiri di depan kamar menunggu jawaban.
“Masuk, Ma. Enggak dikunci,” sahut Kirana dari dalam.
Diah melangkah masuk, mendekati sang menantu yang duduk di ranjang. Wajahnya terlihat pucat dengan mata merah dan sembab.
“Kamu menangis?”
Kirana menggeleng pelan. “Mama ngaco, buat apa aku nangis.”
“Mama tahu hatimu tengah bersedih. Nggak perlu ditanya alasannya, mama tahu apa yang kamu rasakan. Tapi kamu harus ingat bahwa kamu sedang hamil dan nggak boleh banyak pikiran.”
“Iya, Ma.”
“Sedih, kecewa, terluka, itu wajar. Manusiawi sebagai orang hidup, tidak apa-apa. Tapi mama harap, itu jangan sampai membuatmu tertekan.”
“Aku paham, Ma. Ini mungkin hanya bawaan bayi, jadi sedikit sensitif seperti ini.”
“Mama harap kamu akan tetap tegar seperti karang meskipun selalu tersapu ombak. Sama sepertimu, mama juga berdoa semoga Rajendra akan melunak seiring berjalannya waktu. Walaupun mama nggak yakin, tapi harapan itu tetap ada.”
Diah mengusap air mata di wajah cantik sang menantu. Kemudian memeluknya, seakan memberikan kekuatan lebih bahwa semuanya akan baik-baik saja.
...✿✿✿...
“Aku sedikit heran, sebenarnya apa yang membuat Kendrick begitu tergila-gila dengan wanita itu. Wanita dari kelas rendah itu tak pantas bersanding dengan anakku.”
Sejak kepulangannya dari rumah sang anak, Rajendra tampak dibuat marah. Dia marah melihat kebahagiaan mereka, apalagi melihat Diah yang maju dibarisan paling depan membela.
Dia pikir, setelah memblokir seluruh rekening milik Kendrick, pria itu akan datang padanya dan memohon. Namun dugaannya salah, bahkan hanya untuk bertanya saja tidak.
Rajendra menatap istrinya tajam, dia berdecak sinis.
“Tutup mulutmu yang tidak berguna itu Sisil,” sentak Rajendra kasar.
Wanita yang telah menemani Rajendra selama belasan tahun itu, hanya bisa menunduk. Walaupun di wajahnya tersorot sebuah kemarahan, tetapi yang dilakukan justru sebaliknya. Dia hanya akan selalu diam dan membiarkan Rajendra mendominasi.
“Ambilkan ponselku!” Perintah Rajendra tanpa ada kelembutan sama sekali.
Heh, bahkan hidup Sisil tak jauh berbeda dengan pelayan yang hanya diperintah ini dan itu. Namun, setidaknya wanita itu sedikit memiliki nilai karena berstatus istri.
Sisil menyerahkan ponsel dengan senyum miris karena bahkan pria tua itu sama sekali tak memandangnya atau mengucapkan sepatah kata terima kasih.
“Pergilah saat Roy datang.”
Tanpa menunggu jawaban, Sisil segera angkat kaki dari sana. Wanita paruh baya itu tampak mengepalkan kedua tangannya dengan bibir yang memaki sumpah serapah.
“Saya di sini, Tuan.” Roy datang dan membungkuk hormat.
“Apa Diah memberikan perusahaan Denisha pada Kendrick?” tanya Rajendra langsung pada intinya.
“Tidak, Tuan. Perusahaan masih dipegang Tuan Hanin dan Nyonya Diah.”
“Kau benar-benar sudah memblokir seluruh akses Kendrick?”
“Sudah, Tuan,” jawab Roy dengan tegas.
Rajendra terdiam beberapa saat memikirkan sesuatu.
“Cari tahu dari mana sumber uang milik Kendrick. Aku tunggu nanti malam!”
“Maaf, Tuan. Apa Anda tahu bahwa Nyonya Kirana memiliki bisnis sendiri?” tanya Roy hati-hati.
“Ya, dua restoran dan satu toko furniture. Itu usaha milik mantan suaminya yang direbut, aku sudah tahu.”
Roy mendongak cepat dengan wajah kaget. Namun yang membuatnya heran adalah informasi yang dikatakan pria tua itu tidak sepenuhnya benar.
“Tapi, Tuan—” Ucapan Roy menggantung di udara ketika tangan pria tua itu sudah mengibas memintanya pergi.
Saat Roy berjalan keluar, dia berpapasan dengan sang nyonya.
“Apa yang dikatakan Rajendra padamu, Roy?” tanyanya ingin tahu.
“Tuan hanya meminta saya mencari tahu dari mana sumber keuangan milik Tuan muda.”
Sisil berlalu tanpa menjawab, tetapi diam-diam dia tersenyum penuh arti. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan suaminya.
To Be Continue ....