
Happy Reading,,! π
Sudah beberapa hari berlalu, kondisi Abighail sudah mulai membaik. Namun ustadz Afnan melihat ada perubahan pada sikap Abighail. Dan itu sangat mengganggu pikirannya. Ini adalah awal mula Abighail bersikap aneh.
Abighail bersiap untuk memasak. Dia berniat untuk memasak tumis kangkung, prekedel kentang dan bakwan jagung. Setiap kali Abighail membuka hendak membuka bumbu masak yang ada pada sebuah wadah, Abighail selalu terperanjat dan terkejut. Begitupun saat membuka kulkas, Abighail seperti melihat sesuatu yang menakutkan.
"Aahhh,,!" Abighail berjongkok dan menutupi wajahnya.
Ustadz Afnan yang mendengar teriakan Abighail lantas segera berlari menuruni tangga dan menghampiri Abighail. "Astaghfirullah,,! Mai ada apa,,?" tanya ustadz Afnan khawatir.
Abighail yang mendengar suara ustadz Afnan mengangkat kepalanya dan langsung memeluk tubuh ustadz Afnan dengan erat. Ustadz Afnan mengelus-elus punggung Abighail guna memberi keterangan padanya.
Setelah Abighail cukup tenang, ustadz Afnan mulai bertanya pada Abighail. "Mai ada apa,,? Kenapa kamu berteriak,,?" tanya ustadz Afnan dengan penuh kelembutan.
Abighail mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup dengan kencang. "Tadi aku liat,, liat,," Abighail ragu untu menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Liat apa mai,,?" tanya ustadz Afnan penasaran.
"Liat,, kecoak. Ya, benar kecoak. Saat aku mau membuka kulkas, ada kecoak yang terbang. Jadi aku terkejut dan berteriak,," jelas Abighail berbohong . (Duh Abigail kok bohong lagi sih,,? gak bosen apa,,? Jujur aja kali, gak papa kok).
"Benar kamu cuma liat kecoak,,?" tanya ustadz Afnan tak percaya.
"Iya bib,," jawab Abighail sambil menampilkan senyum yang terkesan sedang menutupi sesuatu.
Keduanya saling diam. Mereka saling menatap mata satu sama lain. Ustadz Afnan terus menatap manik mata Abighail dengan penuh selidik.
"Huh,," Abighail menghembuskan nafas parah. Sepertinya Abighail masih butuh waktu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi batin ustadz Afnan. Ustadz Afnan tersenyum pada Abighail sembari mengelus puncak kepala Abighail. Abighail membalasnya dengan senyuman yang sangat manis.
"Em,, aku lanjut masak ya,,!" ucap Abighail.
"Iya,," jawab ustadz Afnan dengan lembut.
Abighail kembali melanjutkan aktivitas memasaknya yang sempat terhenti. Apa yang dilakukan oleh ustadz Afnan? Ya, seperti biasa ustadz Afnan melihat tayangan tausiyah di tv.
Sesekali ustadz Afnan memperhatikan Abighail. Sebenarnya bukan sesekali, tapi berkali-kali ustadz Afnan memperhatikan Abighail yang sedang memasak. Tampak Abighail sering mengintip terlebih dahulu jika akan membuka sesuatu. Bahkan pada wadah yang kecil saja, Abighail mengintipnya.
Ya,, seperti itulah Abighail selama beberapa terakhir ini. Hingga pada suatu hari, ustadz Afnan mendesak Abighail untuk mengatakan yang sebenarnya.
Abighail memesan peralatan dapur melalui media online. Saat paket telah datang Abighail tidak langsung membukanya. Karena, pesanannya dibungkus dengan kardus kotak. Dia berinisiatif untuk menunggu suaminya pulang dan membiarkan dia yang membuka kotak itu.
Pukul 17.00 WIB ustadz Afnan sudah pulang dari bekerja. Ustadz Afnan melihat ada kotak di atas meja yang masih terbungkus rapi.
"Mai, ini kotak apa,,?" tanya ustadz Afnan pada Abighail.
"Oh iya. itu paket pesanan aku, tadi belum sempet aku buka,," jawab Abighail sambil membawa secangkir kopi di tangannya. "Kamu buka aja bib,," lanjut Abighail yang meminta untuk ustadz Afnan yang membuka paket itu.
Ustadz Afnan membuka kotak itu. Saat dilihat, tampak satu set peratan dapur. Saat ustadz Afnan sedang membuka kotak pesanan itu, Abighail membuang wajahnya kesembarang arah. Ustadz Afnan terus memperhatikan Abighail dengan intens.
Abighail tersenyum ke arah ustadz Afnan. Setelah itu, dia membawa isi dari pesanannya ke dapur.
Usai makan malam.
"Mai,," panggil ustadz Afnan.
"Iya bib,," jawab Abighail.
"Sini duduk,," ucap ustadz Afnan sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Abighail mengikuti arahan ustadz Afnan. "Ada apa bib,,?" tanya Abighail.
"Cerita sama aku apa yang sebenarnya terjadi,,!" jawab ustadz Afnan.
"Cerita apa bib,,?" tanya Abighail mencoba mengelak.
"Mai,, ayo cerita sama aku,," ucap ustadz Afnan tegas.
Abighail mulai gugup, dia bingung harus mengatakan apa. "Em,, bib aku bingung harus cerita apa,," jawab Abighail gugup.
"Mai, jangan menghindar lagi,," ustadz Afnan menatap Abighail dengan tajam. "Mai, udah beberap hari i ini sikap kamu berbeda dari biasanya,," ujar ustadz Afnan dengan nada mengintrogasi.
"Masasih bib,,? Kok aku gak ngerasa,,?" tanya Abighail yang mulai panik.
"Semenjak kamu pingsan di depan rumah, kamu mulai berubah. Sebenarnya, apa yang kamu temukan di depan rumah sampai kamu pingsan mai,,?" tanya ustadz Afnan.
"Aku,," Abighail ragu untuk menjawab.
Bersambung...
#Assalamu'alaikum my loyal reader π€
#Maaf ya udah hampir 2 bulan nih author gak up π
#Insya Allah mulai sekarang author belajar untuk rajin up nya π
#Terus dukung author ya π supaya author semangat nulis nya π
#Kali ini konflik yang dihadapi oleh Abighail dan ustadz Afnan semakin menegangkan nih π
#Terus pantau ya,, π
#Sekian dari author, terima kasih sudah mampir π
#Wassalamu'alaikum π