
Happy Reading!😊
Ba'da Ashar, ustadz Afnan dan ustadz Rizky pergi ke kantor polisi untuk melaporkan penculikan Abighail. Polisi cukup susah untuk melacak plat nomor mobil yang digunakan untuk membawa Abighail. Hingga polisi meminta ustadz Afnan dan ustadz Rizky untuk bersabar sampai hari berikutnya.
Ustadz Afnan bingung harus melakukan apa. Karna pada dasarnya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalaupun ustadz Afnan ingin mencari Abighail, tapi harus mencari ke mana? Sementara polisi masih melacak mobil itu.
Kita beralih pada Abighail.
Abighail menangis sambil memeluk lututnya. Dia bingung harus mempercayai Jesi atau tidak. Sebelum Jesi membuka ikatan Abighail, Abighail sebenarnya sudah memegang pecahan kaca untuk melepaskan dirinya sendiri. Namun setelah mendengar ucapan Jesi, Abighail malah menggenggam kaca itu di tangannya. Sehingga membuat telapak tangan Abighail berdarah. Abighail tak memperdulikan telapak tangannya yang berdarah. Semakin kencang Abighail menangis, maka semakin kencang pula Abighail menggenggam kaca itu.
Sebenarnya hati Abighail tidak mempercayai Jesi, namun entah kenapa pikiran Abighail bertolak belakang dengan hatinya. Abighail berusaha untuk mengikuti apa kata hatinya.
Setelah puas Jesi mengatakan kebohongan pada Abighail, dia sangat senang. Rekannya menatap Jesi dengan bingung. Apa kalian tau siapa rekannya? Ya,, rekannya Jesi adalah Lidya. Yey,, kalian benar🥳
"Kenapa kau mengatakan kebohongan itu pada Abighail?" tanya Lidya.
"Kenapa? Kamu keberatan?" bukannya menjawab Jesi malah malik bertanya.
"Jelas keberatanlah" jawab Lidya.
"Kenapa? Bukannya itu bagus buat kamu?" tanya Jesi lagi.
"Iya, tapi kamu bohong sama Abighail. Kamu itu tidak baik" jawab Lidya.
"Tidak baik?" Jesi menaikan satu alisnya. "Hahah..." Jesi tertawa lepas.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Lidya bingung.
"Gak usah munafik kamu. Kamu juga seneng kan liat Abighail menderita" ucap Jesi. "Apa kamu bilang? Aku tidak baik? Terus yang kamu lakukan apa? Kamu bergabung dengan aku untuk mencul*k Abighail, apakah itu baik? Hahah,, munafik sekali kamu" lanjut Jesi.
Lidya terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka Jesi akan melakukan itu. Jika Jesi terus membohongi Abighail, maka Abighail akan mengalami tekanan batin. Lidya sama sekali tidak berpikir untuk menyakiti Abighail sampai mengatakan kebohongan seperti itu. Dia menerima tawaran Jesi untuk bergabung dengannya, karna semata-mata hanya rasa kesalnya pada Abighail. Dalam hatinya tidak ada niatan untuk membuat Abighail menderita. Lidya terus merenungi dirinya yang salah akan tindakannya ini. Seharusnya dari awal Lidya tidak menerima tawaran Jesi.
Tampak sekali dari raut wajah Jesi, kalau Jesi sangat merambisi untuk memiliki ustadz Afnan sepenuhnya. Jika dilihat, Jesi bahkan rela mengorbankan apapun yang dia miliki demi untuk mendapatkan ustadz Afnan. Lidya berpikir, apakah dia masih bisa mengubah keadaan? Jawabannya entahlah,,
Jesi melihat Lidya yang mulai ragu dalam keputusannya. Akhirnya Jesi mempengaruhi Lidya.
"Hei,, dengar. Apa kau tidak ingat apa yang telah dilakukan oleh Abighail kepadamu?" Jesi mulai memasukan kalimat-kalimat beracun pada Lidya. "Dia sudah berbohong kepadamu. Awalnya dia bilang, dia tidak berniat untuk mendekati Afnan. Tapi lihatlah, dia sudah berada jauh di depanmu. Bahkan sekarang dia sedang mengandung anak dari Afnan. Dia mengelabuimu dengan mengatakan alasan-alasan yang basi" ucap Jesi.
Jesi terdiam sejenak, melihat wajah Lidya.
"Coba kau pikir, apa keistimewaan yang dimiliki oleh Abighail? Bukankah kau bilang kalau Abighail itu sering membuat masalah saat di pesantren? Sementara kau? Kau tidak pernah membuat masalah apapun. Tapi bagaimana bisa, Afnan memilih Abighail daripada kau?" Jesi memberikan racun pada pikiran Lidya.
"Kau tunggu di sini, awasi dia. Aku akan membeli makanan untuk musuh kita" ucap Jesi hendak pergi.
"Tunggu" cegah Lidya. "Kenapa kau ingin membelikan makan untuknya?" tanya Lidya.
"Aku akan membiarkan musuhku merasakan makan lezat untuk yang terakhir kalinya" jawab Jesi sambil tersenyum smrik.
Jesi berlalu pergi meninggalkan Lidya dengan pikirannya.
"Untuk yang terakhir kalinya?" gumam Lidya. "Apa jangan-jangan.." Lidya mulai membaca tindakan yang selanjutkan akan dilakukan oleh Jesi.
Ustadz Afnan memberitahu keluarganya di pesantren, serta keluarga mertuanya, mengenai seseorang telah menculik Abighail. Sontak saja kabar tersebut membuat kedua keluarga keget. Kini kedua keluarga itu tengah berkumpul di rumah ustadz Afnan.
"Nan, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Abi.
"Afnan juga gak tau bi. Tapi dari rekaman CCTV, tampak orang yang membawa Abighail itu seorang perempuan. Hanya saja wajahnya ditutupi oleh masker" ustadz Afnan menjawab bertanyaan abi dan bu 'Ainun secara bersamaan.
Semua orang terdiam.
"Tadi pagi saat kami sarapan, Abighail berkata ingin ke kantor untuk membawakan makan siang. Aku sudah melarangnya untuk datang, namun dia bersikeras ingin datang. Lalu.." ustadz Afnan menceritakan awal mula sebelum Abighail dicul*k, sampai dirinya dan ustadz Rizky pergi ke kantor polisi.
"Astaghfirullah.." gumam semua orang yang ada di sana.
"Nan, apa kamu punya musuh di luar sana?" tanya umi
"Tidak umi, Afnan tidak punya musuh" jawab ustadz Afnan. "Tapi satu bulan belakangan ini, ada yang sering meneror kami. Lebih tepatnya Abighail. Apa mungkin itu orang yang sama?" ucap ustadz Afnan.
"Meneror kalian?" tanya pak Adam bingung.
"Iya yah" jawab ustadz Afnan.
Ustadz Afnan menceritakan teror yang terjadi pada Abighail. Semuanya, mulai dari telpon misterius yang terjadi saat tengah malam dan teror-teror yang lain.
"Nan, kenapa kamu tidak melaporkannha pada polisi?" tanya abi.
"Kami gak punya cukup bukti bi" jawab ustadz Afnan.
Semua orang terdiam kembali.
"Apa mungkin Lidya yang melakukannya?" ucap umi tiba-tiba.
"Lidya?" tanya semua orang.
"Iya, bukannya umi bersu'udzon terhadap Lidya. Hanya saja, mengingat beberapa waktu lalu Lidya hampir membuat Abighail terjatuh" jawab umi. "Dan sekarang Lidya sudah keluar dari pesantren" lanjutnya.
"Abighail terjatuh?" tanya bu 'Ainun.
"Iya bu, Abighail sempat mengalami kram saat kami sedang di pesantren. Untung saja kram itu tidak membuat Abighail keguguran" jawab ustadz Afnan.
"Astaghfirullah.." ucap bu 'Ainun dan pak Adam.
Bersambung..
Kira-kira apakah Lidya akan terpengaruh oleh perkataan Jesi?
Hem,, mencurigakan🤨
Apakah kecurigaan umi itu benar?
Terima kasih sudah mampir😊
Maaf cuma sedikit ya😁
Jangan lupa tinggalkan jejak😄
Terus dukung karya author ya😆
Salam hangat dari author☺