USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Keinginan Ustadz Rizky



Happy Reading!๐Ÿ˜Š


Semua orang duduk di meja makan. Abighail mengambilkan nasi untuk ustadz Afnan. Baru beberapa detik mereka duduk bel pintu berbunyi menandakan ada tamu yang datang.


"Aku aja yang bukain" ucap Azri.


Azri berjalan untuk membuka pintu. Saat membuka pintu betapa terkejutnya Azri mendapati sosok yang berada di depan pintu itu.


"Azri?" tanya orang itu.


"Ustadz Rizky?" tanya Azri.


"Ngapain kamu di sini?" keduanya malah berbalik tanya.


"Em,, untuk beberapa hari aku nginep di sini" jawab Azri.


"Pantesan aku ke rumah kamu, ibu kamu bilang, kamu lagi nginep di rumah teman. Eh ternyata di sini" ucap ustadz Rizky.


"Iya ustadz" balas Azri.


"Siapa yang datang Zri?" tanya Abighail karena Azri tidak kunjung masuk.


"Ustadz Rizky Ghail" jawab Azri.


"Ajak masuk aja Zri" ucap Abighail.


"Ustadz silahkan masuk" ucap Azri mempersilahkan ustadz Rizky masuk.


"Iya, terima kasih" ustadz Rizky berjalan masuk.


Azri menutup pintu.


"Ky ayo makan dulu" ajak ustadz Afnan.


"Siap" jawab ustadz Rizky.


Ustadz Rizky berjalan menuju meja makan, begitu juga dengan Azri yang kembali ke meja makan.


"Kebetulan sekali, aku belum makan" ucap ustadz Rizky sambil memperhatikan menu makanan yang ada di meja.


Semuanya sudah mendapatkan makanannya masing-masing. Dan mereka juga sudah mulai makan.


"Em,, makanannya terasa berbeda" ucap Rizky.


"Kenapa? gak enak?" tanya Abighail.


"Bukan rasanya berbeda" jawab ustadz Rizky.


"Jelas berbeda itu bukan masakan bi murni" jawab ustadz Afnan.


"Aku juga tahu,, tapi rasanya lain Nan" sangkal ustadz Rizky.


"Itu masakan Latipah" jawab Abighail.


"Bukan, ini bukan masakan Latipah" sangkal ustadz Rizky lagi. "Aku pernah merasakan rasa masakan ini, tapi di mana ya" gumam ustadz Rizky.


"Itu masakan Azri" ucap Latipah.


Ustadz Rizky menatap Azri.


"Em,, iya benar. Ini masakan Azri" ustadz Rizky merasakan kembali makanannya.


"Apakah tidak enak?" tanya Azri.


"Tidak, masakanmu sangat enak" jawab ustadz Rizky.


"Terima kasih" ucap Azri.


"Apakah hanya masakan Azri yang enak?" tanya Abighail.


"Tidak, semua masakannya sangat enak" jawab Azri.


Semua orang kembali pada aktivitas makannya.


"Azri kenapa kamu diam saja?" tanya Latipah.


Semua orang menatap Azri.


"Eh, kenapa kalian menatapku?" tanya Azri gugup karna ditatap oleh banyak orang.


"Kenapa kau jadi pendiam Zri?" Abighail mengulangi pertanyaannya.


"Aku tidak papa kok,, aku biasa saja" jawab Azri.


"Ah kau bohong Azri" ucap Latipah.


"Aku tidak bohong lah.." Azri membela dirinya sendiri.


"Atau jangan-jangan.." Latipah tersenyum penuh arti.


"Jangan-jangan apa? Ah udah ah,, jangan bahas ini. Aku diam saja karna aku sedang makan" Azri memperkuat jawabannya.


"Oo,, seperti itu.." ucal Latipah.


Selesai makan malam, ustadz Afnan dan ustadz Rizky mendiskusikan pekerjaan di ruang baca. Sementara Abighail, Latipah dan Azri mereka ke kamar Abighail. Mereka sedang berbincang bincang.


"Ada apa dengan mu?" tanya ustadz Afnan karna melihat ustadz Rizky yang tidak konsen.


"Hah, memangnya kenapa?" ustadz Rizky malah balik bertanya.


"Kenapa kau tidak konsen? Jika ada sesuatu coba kau ceritakan" jawab ustadz Afnan.


"Huh.." ustadz Rizky menghembuskan nafas secara perlahan. "Sebenarnya, aku mempunyai keinginan" ustadz Rizky mulai bercerita.


"Keinginan apa?" tanya ustadz Afnan sambil menyeruput teh yang di buatkan oleh Abighail.


"Keinginan untuk menikah" jawab ustadz Rizky.


"Apa? Uhuk,, uhuk.." ustadz Afnan terkejut dengan keinginan sahabatnya itu.


Ustadz Afnan fikir kalau keinginan ustadz Rizky itu hanya keinginan biasa. Namun sangkaan ustadz Afnan itu salah, ustadz Rizky memiliki keinginan yang luar biasa.


"Kenapa Nan?" tanya ustadz Rizky yang melihat ekspresi ustadz Afnan.


"Kamu serius?" tanya ustadz Afnan.


"Iyalah.." jawab ustadz Rizky.


"Alhamdulillah,," ustadz Afnan mengucap syukur.


"Kenapa?" tanya ustadz Rizky heran.


"Akhirnya kamu mempunyai keinginan untuk menikah" jawab ustadz Afnan dan langsung memeluk ustadz Rizky.


Ustadz Afnan sangat bahagia, pasalnya ustadz Rizky dari dulu tidak memiliki keinginan untuk menikah. Dan setelah mendapatkan kabar itu bahagiannya bukan kepalang.


"Siapa wanita itu?" tanya ustadz Afnan yang mulai kepo. Ustadz Afnan tertular virus kepo dari Abighail.


"Tapi aku ragu" bukannya menjawab pertanyaan tapi ustadz Rizky malah mengutarakan perasaanya yang lain.


"Ragu kenapa?" tanya ustadz Afnan bingung.


"Aku tidak tau apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku" jawab ustadz Rizky lemah.


"Memangnya siapa wanita itu Ky" tanya ustadz Afnan lagi.


"Wanita itu bernama A.."


Bersambung...


Terima kasih sudah mampir๐Ÿ˜Š


Maaf up nya lama sekali๐Ÿ˜”


Terus dukung cerita author ya๐Ÿ˜


Jangan lupa like, komen dan vote๐Ÿ˜†