
# Flashback sebelum ustadz Afnan pulang ke pesantren
Abighail tiduran di atas ranjang rumah sakit. Sementara ustadz Afnan sedang membaca entah itu koran atau majalah yg terletak di atas meja yg ada di ruangan Abighail.
Tiba tiba Abighail ingin melakukan hajat. Abighail mencoba memdudukan tubuhnya. Dia berniat turun dari ranjangnya dan mencoba berdiri dgn kedua kakinya.
Baru beberapa detik Abighail berdiri tubuhnya sudah tidak kuat dan dia hampir saja jatuh.
Hap,, ustadz Afnan menahan agar tubuh Abighail tdk jatuh.
Abighail yg kaget karna tiba tiba ada yg menahan dirinya dia melihat ke arah org itu dan ternyata dia adalah ustadz Afnan. Ustadz Afnan,, gumam Abighail.
Abighail tdk menyadari kapan ustadz Afnan menghampirinya.
Ustadz Afnan membantu mendudukan Abighail kembali di atas ranjangnya.
" Apa yg kamu lakukan Abighail,,? Bagaimana kalau nanti kamu jatuh,,? Kamu kan belum pulih sepenuhnya,,!" omel ustadz Afnan pada Abighail.
Abighail hanya menundukan kepalanya mendengar omelan dari ustadz Afnan.
" Maaf ustadz,, sebenarnya saya,," Abighail menggantungkan kata katanya.
" Sebenarnya apa Abighail,,?" tanya ustadz Afnan.
" Em,, itu,, nganu ustadz,, " ucap Abighail ragu ragu.
" Nganu apa,,?" tanya ustadz Afnan yg geram pada Abighail karna dari tadi menggantungkan kata katanya terus.
" Saya ingin ke kamar mandi,, " ucap Abighail malu malu dan memalingkan wajahnya yg dari tadi di tatap oleh ustadz Afnan. Mungkin wajahnya kini sudah memerah seperti tomat.
Hah,, gumam ustadz Afnan. Ustadz Afnan memegang kepalanya sambil menahan tawa, karna melihat tingkah Abighail yg malu malu saat mengatakan dia ingin ke kamar mandi.
Ustadz Afnan menggelengkan kepalanya " Huh,, saya pikir kamu mau apa, lain kali kamu bicara saja,, " nasehat ustadz Afnan.
" Tapikan saya malu ustadz,, " ucap Abighail yg sedikit memajukan bibirnya.
Ustadz Afnan tersenyum melihat tingkah Abighail.
" Iya saya tau kamu malu,, tapi dari pada kamu membahayakan dirimu seperti tadi,, lebih baik kamu bicara saja,,!" nasehat ustadz Afnan.
" Iya ustadz,, " jwb Abighail.
" Sebentar saya panggilkan perawat dulu,," ucap ustadz Afnan dan diangguki oleh Abighail.
Abighail lega karna bisa sudah menuntaskan hajatnya. Setelah melakukan hajatnya Abighail kembali tiduran di atas ranjang rumah sakit. Ustadz Afnan juga melakukan kegiatan sama seperti sebelumnya.
Abighail memikirkan sesuatu di kepalanya.
" Em,, ustadz,," panggil Abighail.
Ustadz Afnan menoleh ke arah Abighail " Ya ada apa Abighail?" tanya ustadz Afnan.
" Em,, ustadz Abighail boleh minta sesuatu tdk,,?" tanya ustadz Afnan.
Ustadz Afnan menutup buku yg dia baca dan menghampiri Abighail.
" Kamu mau minta apa Abighail,,?" tanya ustadz Afnan.
" Em,, Abighail mau minta ustadz jangan beritahu ayah dan ibu Abighail ya,,!" pinta Abighail.
" Em,, maaf Abighail sepertinya saya tdk bisa mengabulkan permintaan mu,,!" jwb ustadz Afnan.
" Yah,, kenapa ustadz?" tanya Abighail mengerutkan dahi nya.
" Soalnya tadi saat saya mengantar kamu ke Rumah Sakit, saya berpesan pada Azri, Sipa dan Latipah agar memberitahu pada Abi dan Umi saya, dan pasti mereka memberitahu ayah dan ibu kamu Abighail,,!" jelas ustadz Afnan.
" Oh,, seperti itu,,!" ucap Abighail.
" Maaf ya,, Abighail,," ucap ustadz Afnan.
" Iya ustadz tdk papa kok,, " ucap Abighail sambil tersenyum.
" Assalamu'alaikum,," ucap seseorang dari balik pintu.
" Wa'alaikumsalam,, " jwb Abighail dan ustadz Afnan secara bersamaan dan menoleh ke sumber suara.
Tampak sepasang suami istri setengah baya memasuki ruangan Abighail.
" Abi,, umi,, " gumam ustadz Afnan.
Ustadz Afnan menyalami abi dan umi nya begitu juga dgn Abighail.
" Abighail kamu tdk papa kan,,?" tanya umi sambil mengusap kepala Abighail.
" Alhamdulillah umi,, Abighail sudah baikan,," jwb Abighail seraya tersenyum.
" Alhamdulillah kalau begitu,, " ucap umi dan abi ustadz Afnan.
Umi berbincang bincang dgn Abighail sementara pak kiyai Abdul Sidik ( abi ) berbincang bincang dgn ustadz Afnan.
" Oh,, seperti itu ceritanya,, " ucap pak kiyai Abdul Sidik setelah mendengar cerita ustadz Afnan.
Pak kiyai Abdul Sidik menghampiri istri nya yg sedang bersama dgn Abighail.
" Em,, abi,, umi,, " panggil ustadz Afnan.
Mereka menoleh ke arah ustadz Afnan " Iya ada apa Nan,,?" tanya pak kiyai Abdul Sidik.
" Afnan izin kembali ke pesantre,, " izin ustadz Afnan pada kedua org tuanya.
" Kembali ke pesantren,,?" tanya umi.
" Kenapa buru buru sekali Nan,,?" tanya pak kiyai.
" Iya soal nya ada urusan yg harus segera di selesaikan,, !" jwb ustadz Afnan.
" Oh,, iya baiklah,, hati hati di jalan,," ucap umi.
" Iya mi,," jwb ustadz Afnan. " Abighail saya tinggal dulu ya,, kamu tdk perlu khawatir sekarang sudah ada yg menemani kamu,, " ucap ustadz Afnan pada Abighail sambil tersenyum.
" Iya ustadz terimakasih,, " ucap Abighail yg juga sambil tersenyum. Ustadz Afnan menganggukkan kepala nya.
" Kalo begitu Afnan pamit, Assalamu'alaikum,," ucap ustadz Afnan menyalami abi dan umi nya sementara pada Abighail hanya menganggukan kepala nya saja. ( Iyalah nanti kalau udah sah baru bisa bersalaman,, π ).
" Wa'alaikumsalam,, " jwb pak kiyai Abdul Sidik, Umi dan Abighail.
# Flash on
Ustadz Afnan segera melakukan penelusuran tentang siapa yg menaruh kue di atas tempat tidur Abighail dan tentang siapa yg menyebarkan rumor Abighail hamil oleh ustadz Afnan.
Setelah mengecek cctv dari depan pintu kamar Abighail. Terlihat ada seorang wanita yg masuk sambil membawa sesuatu dan keluar tdk membawa apa pun.
Soal rumor Abighail hamil oleh ustadz Afnan,, ustadz Afnan menyelidiki nya dgn cara dari mulut ke mulut. Sampai akhirnya ustadz Afnan menemukan org yg sudah menyebarkan fitnah itu.
Setelah tahu siapa org yg membuat masalah di pesantren itu, ustadz Afnan tdk menyangka bahwa dia bisa melakukan itu. Padalah ustadz Afnan mengetahui dia adalah org yg tdk terlalu aktif, beda dgn Abighail.
##
Di Rumah Sakit ayah dan ibunya Abighail sudah datang. Mereka syok melihat keadaan putrinya yg terbaring lemah di atas ranjang Rumah Sakit. Pak kiyai Abdul Sidik menjelaskan apa yg terjadi pada Abighail.
Ayahnya Abighail merasa sangat marah, awalnya dia hendak melaporkan kejadian ini ke polisi namun dicegah oleh pak kiyai. Akhirnya ayah nya Abighail mengurungkan niatnya itu.
Seesokan harinya,,
Abighail masih dirawat di RS.
" Bu,, pulang yu,, " ajak Abighail pada 'Ainun ibunya.
" Pulang,,?" tanya 'Ainun.
" Iya,, soal nya Abighail gk betah di RS,, Abighail mau pulang aja,, lagian kan Abighail udah sembuh,, " ucap Abighail memelas.
" Nanti ya sayang kalo kata dokter kamu boleh pulang kita pulang,, " ucap 'Ainun seraya tersenyum.
" Baiklah bu,, " ucap Abighail lesu.
" Assalamu'alaikum,, " ucap seseorang dari balik pintu.
" Wa'alaikumsalam,, " jwb org yg ada di dlm ruangan itu.
Org yg mengucapkan salam itu masuk dan menyalami 'Ainun.
" Ustadz Afnan kapan datang,,?" tanya 'Ainun.
" Baru saja bu,, " jwb ustadz Afnan sambil tersenyum.
" Oh,, " 'Ainun hanya ber Oh ria saja.
" Abighail bagaimana keadaan kamu sekarang,,?" tanya ustadz Afnan pada Abighail.
" Alhamdulillah ustadz,, saya sekarang sudah lebih membaik" jwb Abighail.
" Alhamdulillah kalau begitu,," ucap ustadz Afnan.
" Nak Afnan sendirian ke sini? " tanya 'Ainun.
" Tdk sendiri,,? Dgn siapa lagi ustadz Afna ke sini,,? " tanya 'Ainun.
" Saya ke sini bersama,, ketiga teman Abighail,, " jwb ustadz Afnan.
" Teman Abighail,,? Maksud ustadz Azri, Sipa dan Latipah,,?" tanya Abighail senang.
Ustadz Afnan menganggukkan kepalany dan menyuruh mereka utk masuk ke dalam.
" Assalamu'alaikum,," ucap ketiga wanita itu.
" Wa'alaikumsalam,, " jwb Abighail.
Mereka langsung berpelukan melepas rindu mereka yg menggebu gebu. (padahal mereka baru satu hari gk ketemu rindunya udah menggebu gebu gimana kalau setahun,, heheh,, maaf,, author ikut campur,, π ).
" Abighail kamu gk papa kan?" tanya Latipah.
" Ada yg sakit gak,,?" tanya Sipa.
" Lambung kamu nyeri,,?" tanya Azri.
Semua terdiam dan menatap heran Azri.
" Em,, maksudnya,, perut, ya perut, perut maksud saya apa perut kamu sakit,,?" jelas Azri sambil gugup.
Semua org tertawa melihat tingkah Azri begitupun dgn Abighail yg sangat senang karna ada teman teman baiknya yg menjenguk.
Kini diruangan itu hanya terdapat Abighail, Azri, Sipa, Latipah dan ustadz Afnan.
" Abighail saya kesini membawa teman teman kamu berniat ingin memberitahukan sesuatu,," ucap ustadz Afnan memulai pembicaraan.
" Memberitahu apa ustadz,,?" tanya Abighail penasaran.
" Sebenarnya kami yg ingin memberitahu kamu,,!" ucap Latipah.
" Memberitahu apa,,? Katakan saja,,!" ucap Abighail.
" Sebenarnya,,, " Azri, Sipa dan Latipah menjelaskan secara detail perihal kue itu.
" Jadi bukan kalian yg memberikan kuenya,,?" tanya Abighail.
Mereka menganggukan kepala mereka.
" Tuh kan bener apa kata ku,, gk mungkinlah kalian ngelakuin hal kayak gitu ke aku,, !" ucap Abighail mengagetkan ketiga sahabatnya itu.
" Jadi kamu sudah tau,,?" tanya Sipa.
" Iya,, " jwb Abighail.
" Dari kapan,,?" tanya Azri.
" Barusan,, kan kalian ngejelasin ke aku,,!" ucap Abighail.
" Ihh,, Abighail sebelum kami ngejelasin ke kamu,,?" tanya Azri yg kesal pada Abighail.
" Oh,, gk kok aku cuma menduga duga saja,, " jwb Abighail.
" Oh,," ketiga temannya ber Oh ria saja.
" Jika kalian sudah menjelaskan soal kuenya,, saya akan membicarakan masalah lain,, hanya saja saya ingin hanya ada saya, Abighail dan kedua org tua Abighail.
Mereka menyetujui nya.
Kini di dlm ruangan hanya ada ustadz Afnan, Abighail dan kedua org tua Abighail.
" Begini pak,, buk,, maaf sebelumnya jika saya membahas masalah ini disaat seperti ini,,! Tapi saya rasa masalah ini apabila segera diselesaikan maka akan lebih baik,," ucap ustadz Afnan.
" Iya,, memang masalah apa ustadz Afnan?" tanya pak Adam.
" Begini kemarin ada fitnah yg menimpa Abighail dan saya,,!" ucap ustadz Afnan sacara berhati hati.
" Fitnah apa ustadz,,?" tanya ibunya Abighail.
" Fitnah kalau Abighail itu,, em,, hamil,,! dan hamilnya itu karna saya,," ucap ustadz Afnan perlahan lahan.
Deg,, hati ketiga org serasa tersambar petir. Apa lagi Abighail.
" Bagaimana bisa ustadz,,?" tanya pak Adam yg amarah nya mulai memuncak.
" Pak istighfar pak,, tenang dulu,, " ucap ustadz Afnan menenangkan pak Adam.
Air mata Abighail mulai membasahi pipinya. Dia tk kuasa menahan tangisnya setelah mendengar fitnah itu.
" Tenang pak,, para santri berfikir seperti itu, karna,, " ustadz Afnan menjelaskan semuanya pada keluarga Abighail termasuk pada Abighail sendiri.
" Lalu apakah ustadz sudah menemukan siapa org yg menyebarkan fitnah itu,,?" tanya pak Adam yg emosinya mulai terkontrol.
" Alhamdulillah saya sudah menemukannya. Dan org itu sama dgn org yg menaruh kue di kamar Abighail,," jwb ustadz Afnan.
" Siapa dia ustadz,,?" tanya Abighail sambil berlinang Air mata.
Ustadz Afnan tk tega melihat Abighail menangis seperti itu.
" Namanya adalah,, " ustadz Afnan menggantungkan perkataannya.
Bersambung...
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
# Assalamu'alaikum reader semua,, ππ
# Gimana kabar kalian,,? Kalian harus sehat ya,, jangan sakit sakit,, π
# Maaf ya,, kalau ada yg typo nulisnya,, π
# Maaf ya,, author selalu telat up nya,, π
# Mohon dimaklum ya,, soalnya author lagi banyak tugas jadi agak susah membagi waktunya,, π§
# Kalo kalian suka novelnya author,, kalian bisa Like ππ, Komen ππ, Share ππ, Rate Bintang 5 πππππ dan jangan lupa utk Vote ππ ya,, supaya author lebih semangat nulisnya,, ππ
# Oh iya kalau kalian mau, kalian bisa memberikan saran pada author tentang jalan cerita novel nya author,, silahkan kalian komen ya,, author akan terima secara terbuka,, ππ
# Terus dukung author ya,, ππ
# Sekian dari author,, ππ
# Terimakasih sudah mampir,, βΊβΊ
# Wassalamu'alaikum,, ππ