
Happy Reading,,! π
Hani, Salsa dan Sisi bergegas memenuju rumah abi.
"Assalamu'alaikum,," ucap ketiga santriwati itu dengan ngosngosan di depan pintu rumah abi.
Di sana tampak ada abi, umi dan ustadz Afnan yang sedang mengobrol.
"Wa'alaikumsalam,," jawab ustadz Afnan, abi dan umi yang keluar.
"Hani, Salsa, Sisi,, kenapa kalian terburu-buru,,?" tanya umi.
"Itu umi,, ustadzah Abighail,," jawab Hani dengan nafas yang masih tidak teratur.
"Ada apa dengan Abighail,,?" tanya ustadz Afnan khawatir.
"Itu ustadz,, ustadzah Abighail perutnya kayak sakit,," jawab Salsa.
"Apa,,! Astaghfirullah,," abi, umi dan ustadz Afnan kaget.
"Terus sekarang di mana Abighail,,?" tanya ustadz Afnan makin khawatir.
"Di daerah santriwati bagian selatan ustadz,," jawab Hani.
"Dia bersama siapa,,?" tanya abi.
"Ustadzah Abighail lagi sama ustadzah Latipah,," jawab Sisi.
Ustadz Afnan pun bergegas ke tempat yang dibilang oleh Hani dan kawan-kawannya. Abi, umi serta Hani dan kawan-kawannya mengikuti ustadz Afnan.
Ustadz Afnan melihat Abighail yang sedang duduk sambil memegangi perutnya dan ditemani oleh Latipah.
"Astaghfurullah,, mai kamu kenapa,,?" tanya ustadz Afnan dengan khawatir.
"Perut aku sakit bib,," jawab Abighail sambil merintih kecil.
"Astaghfirullah nak,," ujar abi.
"Kok bisa sakit sih,,?" tanya ustadz Afnan memegang badan pundak Abighail.
Abighail menggelengkan kepalanya.
"Latipah Abighail Kenapa bisa jadi seperti ini,,?" tanya umi yang juga khawatir.
"Tadi itu Abigh,," Latipah tidak melanjutkan kata-katanya karna dipotong oleh Abighail.
"Ah,," Abighail merintih kesakitan dengan sengaja memegang tangan Latipah, seolah mengisyaratkan agar tidak berkata apapun pada ustadz Afnan.
Latipah melihat ke arah Abighail, dan Abighail pun melihat ke arah Latipah. Abighail mengedipkan matanya. Latipah hanya mendengus kesal. Bisa-bisanya disaat sedang sakit dia memperhatikan orang lain, pikir Latipah.
"Nan, cepat bawa Abighail ke Rumah Sakit,," titah abi.
"Iya abi,," jawab ustadz Afnan.
Ustadz Afnan membawa Abighail ke Rumah Sakit terdekat. Sepanjang perjalanan ustadz Afnan khawatir akan kondisi Abighail dan calon bayi mereka.
"Sakit bib,," ucap Abighail.
"Sabar ya mai,, sebentar lagi kita sampai kok,," ucap ustadz Afnan sambil mengelus-elus kepala Abighail. "Jangan lepas dzikir mai,," lanjut ustadz Afnan.
Sesampainya di Rumah Sakit, ustadz Afnan segera membawa Abighail ke dokter khusus kandungan.
Dokter mengecek perut Abighail dengan serius. Ustadz Afnan hanya menunggu dengan perasaan waswas. Setelah selesai, ustadz Afnan menuntun Abighail agar duduk bersamanya menghadap dokter.
"Dok bagaimana kondisi istri dan calon anak saya,,?" tanya ustadz Afnan dengan hari yang berdebar (asek,, kayak mau nembak cewek nih,,).
"Begini pak,, istri bapak mengalami kram pada kandungannya,," jawab dokter yang memeriksa Abighail.
"Apa itu berbahaya,,?" tanya Abighail.
"Kram pada kehamilan trimester pertama itu wajar. Hanya saja, jika kram yang dirasakan itu terlalu berlebihan, dapat mengakibatkan keguguran,," jawab dokter lagi.
Abighail memegang tangan ustadz Afnan dengan erat. Mereka diam setelah mendengar kata keguguran.
"Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kram pada kandungan. Diantaranya stres, perubahan ukuran rahim, konstripasi. Bahkan guncangan yang berlebihpun dapat mengakibatkan kram,," ucap dokter. "Saya harap bapak bisa menjaga kandungan istri bapak dengan baik. Apalagi ibu, kandungan ibu saat ini masih sangat rentan pada yang namanya keguguran. Ibu harus menjaga kesehatan ibu, jangan kecapean, hindari segala hal yang menyebabkan negatif pada kandungan ibu,," lanjut dokter itu panjang lebar.
"Baik dok, saya akan berusaha maksimal untuk menjaga istri dan calon anak saya,," ucap ustadz Afnan.
"Dok, tapi anak saya gak papakan,,?" tanya Abighail khawatir.
"Iya dok,, bagaimana kondisi anak saya,,?" timpal ustadz Afnan.
"Alhamdulillah,, anak ibu dan bapak baik-baik saja. Jika bapak dan ibu penasaran mari kita lakukan USG,," jawab serta usul dokter itu.
"Iya dok, saya mau USG,," setuju Abighail.
Dokter me-USG kandungan Abighail. Benar saja, calon anak Abighail dan ustadz Afnan baik-baik saja. Merekapun lega dengan apa yang dokter sampaikan.
Setelah dari Rumah Sakit, Abighail dan ustadz Afnan langsung pulang ke pesantren. Abighail merenungkan apa yang dikatakan oleh dokter tadi. Jika saja Abighail terjatuh, mungkin saat ini dia sudah kehilangan calon bayinya.
"Mai,, kamu mikirin apa,,?" tanya ustadz Afnan mengelus kepala Abighail.
"Eh, enggak kok bib,, aku cuma takut terjadi apa-apa sama calon anak kita,,"jawab Abighail beralibih.
"Udah,, jangan dipikirin lagi,," ucap ustadz Afnan sambil tersenyum.
"Iya bib,," balas Abighail membalas senyuman ustadz Afnan.
Bersambung..
Terima kasih sudah mampir,, π
Jangan lupa like, komen dan vote ya,, π
Terus dukung author,, π