
Happy Reading!๐
hari-hari yang dilalui oleh Abighail di pesantren, dijalani seperti biasa, mulai dari bangun tidur jam 03.00, tadarus sampai waktu subuh pukul 05.00. Setelah itu Abighail mencuci, mandi, dan berangkat ke sekolah jam 6.30, sampai pulang sekolah jam12.30. Setelah pulang sekolah Abighail istirahat lalu ke mesjid untuk mengaji sampai ba'da asar jam 16.00. setelah mengaji, dilanjut dengan istirahat dan jam 17.30 Abighail ke mesjid untuk shalat magrib dan mengaji sampai tiba shalat isya.
setelah salat isya, Abighail dan teman-temannya istirahat. Musim buah adalah musim yang paling ditunggu-tunggu oleh Abighail dan teman-temannya. Apalagi musim buah rambutan. Karna di pesantren ada pohon rambutan, Abighail dan teman-temannya sering memetik buah rambutan tanpa sepengetahuan orang lain.
pernah pada suatu malam, Abighail dan teman-temannya naik ke atas pohon rambutan untuk memakan buah rambutan. Mereka memakan buah rambutan di atas pohonnya. Mereka membawa kantong kresek untuk menampung kulit rambutannya.
Saat mereka sedang menikmati perjamuan buah rambutan, tiba-tiba bahaya muncul. Bahayanya, berupa kedatangan ustadzah Santika yang sedang sift malam. Abighail dan ketiga temannya panik dan ketakutan. Merekapun berdo'a agar tidak ketahuan oleh ustadzah Santika.
setelah cukup lama berdo'a, Abighail dan teman-temannya memberanikan diri untuk membuka mata. Dan ternyata ustazah Santika sudah pergi menjauh. Mereka pun bernafas lega, karna terselamatkan dari ustadzah Santika.
"wah ternyata makan rambutan di atas pohon enak juga ya" ucap azri setelah turun dari pohon.
"iya, enak banget malah" sambung Nisa.
"Kapan-kapan kita lakuin lagi yuk" ajak Abighail.
"Iya ayo" jawab Azri setuju.
Abighail dan teman-temannya berjalan menuju kamar mereka sambil berbincang-bincang.
"Dari mana kalian?" tiba-tiba suara seperti bariton terdengar dari arah belakang.
Suara itu sontak membuat Abighail dan teman-temannya langsung berbalik. Betapa terkejutnya mereka mendapati pemilik suara itu.
"E,, anu, itu ustadzah kami dari,, em.." Nisa bingung harus menjawab apa.
"Dari.." Sipa juga sama dengan Nisa, dia bingung harus menjawab apa.
"Kami dari sana ustadzah" jawab Azri dengan gugup sambil menunjuk arahnya datang.
"Habis apa kalian dari sana?" tanya ustadzah Santika heran.
"Kami habis,, em,," Abighail melihat pada teman-temannya. "Olahraga, ya,, benar. Kami habis olahraga" jawab Abighail.
"Olahraga?" tanya ustadzah Santika aneh.
"Iya olahraga ustadzah" jawab Azri memperkuat jawaban dari Abighail.
"Untuk apa kalian olahraga?" tanya ustadzah Santika tambah heran.
"Apa hubungannya itu?" tanya ustadzah Santika.
"Begini ustadzah, kata Nisa, kalau dia tidak bisa tidur dia sering olahraga dulu. Baru setelah itu dia bisa tidur,, ya kan Nis?" jawab Azri beralibih.
"Iya ustadzah, itu benar" ucap Nisa.
"Kenapa harus olahraga? Kenapa tidak membaca,, atau apa?" ustadzah Santika terus menghujani mereka dengan pertanyaan.
"Karna lelah" jawab Sipa dengan asal.
"Lelah?" ustadzah Santika tambah heran.
"Iya ustadzah. Kalo badan kita capek, biasanya pas istirahat langsung ngantuk" jawab Nisa.
"Iya bener ustadzah, ini aja kita udah ngantuk. Ya kan?" timpal Azri.
"Hoam,, iya ustadzah bener tu" Abighail menguap seperti orang yang mengantuk.
"Ya udah sana kalian cepet tidur" ustadzah Santika menyuruh Abighail dan teman-temannya untuk kembali ke kamar mereka.
"Baik ustadzah" Abighail dan teman-temannya pergi ke kamar mereka.
...***...
kadang Abighail dan teman-temannya berusaha keluar pesantren. Mereka keluar bukan untuj kabur, tapi mereka mau membeli cilok yang ada di luar pesantren. Mereka kadang berhasil kadang tidak.
kalo Mereka tertangkap, mereka akan di hukum oleh ustazah Santika, dengan berdiri di sisi jalan sambil memakai tulisan yang ditempel di kardus "KAMI BERSALAH. KAMI TIDAK AKAN MENGULANGI KESALAHAN KAMI LAGI".
Saat Abighail dan teman-temannya dihukum, banyak santriwan dan santriwati yg menertawakan mereka. Mereka hanya bisa menundukan kepala, menahan rasa malu. Kadang jika ada yg menertawai Abighail, maka Abighail akan pelototinya balik. Tapi orang malah lebih menertawai Abighail.
kadang juga, saat Abighai dan teman-temannya dihukum, ustadz Afnan menghampiri mereka. Ustadz Afnan melihat Abighail. Ustadz Afnan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"ck,, ck,, ck,, kalian gak capek apa dihukum terus? Bisa-bisa, bukan kalian yang capek karna dihukum terus. Tapi yang menghukum kalian yang capek karna menghukum kalian terus. Ingat lain kali janga dilakuakan lagi. Assalamu'alaikum" ucap ustadz afnan sambil menatap Abighail dan yang lainnya. Kemudian dia pergi. Tapi ustadz Afnan lebih sering menatap Abighail.
"Maafkan kami ustadz,, wa'alaikumsalam" ucap Abighail dan teman-temannya. .
Ya,, itulah keseharian Abighial saat berada di pesantren dan saat dia dihukum.
Terima kasih sudah mampir๐