
Happy Reading!😊
Pak Rijal ikut bersama Lidya ke kantor polisi untuk memberikan kesaktiannya. Abighail terus meminta ustadz Afnan untuk membiarkannya menemui Lidya. Namun ustadz Afnan menolaknya, dengan alasan kondisi Abighail masih belum pulih sepenuhnya.
Setelah beberapa hari Abighail dirawat di rumah sakit, akhirnya Abighail diperbolehkan untuk pulang. Abighail sangat senang mendapatkan kabar kalau dirinya sudah diperbolehkan untuk pulang. Kini Abighail sedang membereskan barang-barangnya yang ada di rumah sakit. Sebenarnya Abighail hanya menjadi penonton saja. Yang membereskan barang-barangnya adalah ustadz Afnan, bu 'Ainun dan umi.
Abighail sangat ingin membantu ketiga keluarganya membereskan barang. Tapi mereka tidak mengizinkannya. Mereka khawatir Abighail akan kecapean. Abighail hanya melihat aktivitas mereka bertiga dari atas ranjangnya.
"Bib, kita langsung bertemu Lidya yah" pinta Abighail.
"Astaghfirullah mai, pulang aja belum masa udah mau ketemu Lidya sih. Gak boleh, nanti aja kalo kamu udah sembuh total" tolak ustadz Afnan.
"Ah,, gak mau ah. Maunya sekarang" rengek Abighail.
"Gak boleh mai.." tolak ustadz Afnan.
"Bib.." Abighail menunjukan puppy eyes nya.
"Gak boleh" tolak ustadz Afnan lagi.
"Tapi bib.." Abighail terus membujuk ustadz Afnan, tapi ustadz Afnan tetap menolaknya.
"Sayang,, udah. Benar apa kata suami kamu" bu 'Ainun membela ustadz Afnan.
"Yah.." Abighail frustasi. "Umi.." Abighail meminta bantuan pada umi untuk membelanya.
"Turuti apa yang dikatakan suami kamu nak. Itu juga demi kebaikan kamu" ucap umi.
Kini Abighail tidak mendapatkan dukungan dari siapapun. Akhirnya Abighail menyerah dan menerima keputusan dari ustadz Afnan. Abighail memasang wajah sedih. Ustadz Afnan tidak tega melihat Abighail dengan wajah sedihnya.
"Ya udah, besok kita ketemu Lidya" ucap ustadz Afnan.
"Hah? Bener bib?" tanya Abighail dengan mata berbinar.
"Iya" jawab ustadz Afnan sambil tersenyum.
Dengan spontan Abighail berlari dan hendak memeluk ustadz Afnan. Namun Abighail tidak hati-hati, jadi Abighail tersandung dan terjatuh.
Hap,, ustadz Afnan menangkap Abighail. Dan Abighail terjatuh dalam pelukan ustadz Afnan.
"Hati-hati mai. Ngapain kamu lari-lari? Gimana nanti kalo kamu jatoh?" tanya ustadz Afnan sedikit tegas.
"Maaf,, aku kan cuma mau peluk kamu" jawab Abighail.
Ustadz Afnan hanya menepuk jidatnya saja. Bu 'Ainun dan umi hanya tersenyum saja.
"Ah.." pekik Abighail saat ustadz Afnan tiba-tiba menggendongnya dan mendudukkan Abighail kembali ke ranjang.
"Peluknya nanti saja saat di rumah, di dalam kamar. Sekarang malu masih ada umi dan ibu" bisik ustadz Afnan di telinga Abighail Abighail dengan nada yang sensual.
"Ih,, apaan sih. Dasar mes*m" ucap Abighail sambil memukul pelan lengan ustadz Afnan dan dengan wajah yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Ustadz Afnan tersenyum puas setelah mengusili istrinya itu.
Abighail ditawari oleh ustadz Afnan untuk menggunakan kursi roda. Namun Abighail menolaknya. Abighail ingin bejalan untuk menggerakan tubuhnya yang sudah lama tidak banyak bergerak.
Setelah semuanya beres, merekapun keluar ruangan untuk menuju depan rumah sakit. Di sana sudah ada pak Adam dan ustadz Rizky yang menjemput mereka. 30 menit kemudian mereka sampai di rumah Abighail dan ustadz Afnan.
Mereka memasukan barang-barang ke dalam rumah. Sesampainya di rumah, mereka beristirahat di ruang keluarga. Beberapa lama mereka beristirahat, merekapun pamit untuk pulang.
"Abighail, nak Afnan, ibu dan ayah pamit pulang ya" ucap bu 'Ainun.
"Enggak, lain kali saja" tolak pak Adam.
"Umi juga pamit pulang ya" ucap umi.
"Umi juga mau pulang?" tanya Abighail.
"Iya sayang" jawab umi.
"Ya udah, kalian hati-hati ya di jalan" ucap Abighail.
"Iya" balas bu 'Ainun, pak Adam dan Umi.
Ustadz Afnan dan Abighail menyalami bu 'Ainun, pak Adam dan umi. bu 'Ainun pulang bersama pak Adam. Sedangkan umi pulang bersama ustadz Rizky. Setelah semua orang pergi, ustadz Afnan menyuruh Abighail untuk istiraha lagi.
"Mai, istirahat gih" suruh Abighail.
"Ih,, bib,, aku tuh gak mau istirahat" tolak Abighail yang tidak mau beristirahat.
"Istirahat mai. Katanya besok mau ketemu Lidya" ucap ustadz Afnan.
"Oh iya" ucap Abighail. "Tapi mau sama kamu istirahatnya" pinta Abighail.
"Lalu siapa yang akan membereskan ini semua?" tanya ustadz Afnan menunjuk barang-barang Abighail.
"Nanti aja, aku akan bantuin kamu" jawab Abighail.
Ustadz Afnan terdiam.
"Em,, ayo,, aku mau digendong sama kamu.." Abighail menggelayut manja dilengan ustadz Afnan.
"Hem,, manjanya istriku.." ustadz Afnan mencubit hidung Abighail dengan gemas.
"Emang manja.." balas Abighail sambil mengalungkan tangannya pada leher ustadz Afnan.
Abighail menatap ustadz Afnan penuh Arti.
"Mai jangan pancing aku" ustadz Afnan memberi peringatan pada Abighail.
"Aku gak mancing kamu bib,, kamu yang mancing aku duluan.." balas Abighail.
"Kapan aku mancing kamu?" tanya ustadz Afnan.
"Tadi di rumah sakit apa coba?" Abighail mengingat apa yang dikatakan ustadz Afnan sebelum pulang.
"Enggak tuh" ustadz Afnan pura-pura lupa apa yang dia katakan saat di rumah sakit.
Ustadz Afnan menghindari tatapan Abighail.
Bersambung..
Dahlah, sampai sini dulu ya😅
Terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
Terus dukung karya author😄
Salam hangat dari author😁