USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Tamparan



Happy Reading,,! 😊


##


Keesokan harinya ustadz Afnan membawa Lidya ke RS utk menemui Abighail.


Di ruangan itu sudah ada beberapa org. Ada Abighail, pak Adam, bu 'Ainun, ustadz Afnan, dan Lidya. Tadinya pak Kiyai Abdul Sidik akan hadir namun karna ada kepentingan mendadak dia tdk bisa hadir.


Abighail menatap Lidya dgn tatapan tajam bagaikan harimau yg ingin menerkam mangsa yg ada di depannya.


Sementara org yg di tatap oleh Abighail hanya menunduk dan merasa tak bersalah atau bisa disebut WATADOS ( Wajah Tanpa Dosa ).


Saat ustadz Afnan hendak membuka pembicaraan, tiba tiba perkataan ustadz Afnan di potong oleh Abighail.


" Lidya kenapa kamu melakukan itu pada saya?" tanya Abighail to the point pada Lidya dgn tatapan seriusnya dan suaranya yg tinggi dan terdengar tegas.


" Nak,, kamu jangan memotong pembicaraan ustadz Afnan, itu gk baik sayang,,!" tegur bu 'Ainun secara halus.


" Tdk bu,, Abighail tdk mau berbasa basi lagi,, " ucap Abighail agak meninggikan suaranya. " Sudah cukup Abighail diam selama ini,, jadi biar kan Abighail yg berbicara terlebih dahulu" lanjut Abighail.


Semua org terdiam termasuk ustadz Afnan.


" Yasudah silahkan kamu mau biacara apa pada Lidya,,!" ucap ustadz Afnan mempersilahkan Abighail.


" Terimakasih ustadz,, " ucap Abighail dan diangguki oleh ustadz Afnan.


" Lidya saya tanya lagi sama kamu,, kenapa kamu melakukan itu pada saya,,? " emosi Abighail kini tak dpt dibendung lagi.


" Apa saya pernah berbuat salah pada kamu,,? salah saya apa Lidya,,? Kenapa kamu sampai berbuat seperti itu pada saya,,?" tanya Abighail bertubi tubi pada Lidya.


" Abighail sudah nak,, tahan emosi kamu,,!" ucap pak Adam menenangkan Abighail.


" Iya sayang tahan nak,,!" tambah bu 'Ainun.


" Gk bisa yah,, bu,, Abighail gk bisa lagi nahan emosi Abighail,," tolak Abighail.


Hening,,


" Abighail gk habis pikir yah,, bu,, kenapa dia tega berbuat seperti itu pada Abighail,,?" ucap Abighail sambil menunjukkan jarinya ke Lidya. " Apa salah Abighail,,?" Ucap Abighail tertunduk lemas.


Lagi lagi hening,, hanya terdengar suara detakan jarum jam.


" Kamu mau tau apa salah kamu Abighail,,?" Lidya membuka suaranya.


Pandangan semua org tertuju pada Lidya.


" Salah kamu adalah,, kamu sudah mendekati ustadz Afnan,, " jwb Lidya.


Semua org menatap Lidya dgn tak percaya. Apa lagi ustadz Afnan.


" Apa maksud kamu Lidya,,? Kenapa kamu jadi membawa nama ustadz Afnan,,?" tanya Abighail dgn tegas.


" Iya karna saya suka pada ustadz Afnan" jwb Lidya sambil melihat ke arah ustadz Afnan.


Ustadz Afnan mengerutkan keningnya.


" Kenapa kamu mendekati ustadz Afnan Abighail,,? Kenapa kamu tdk mendengarkan peringatanku,,?" tanya Lidya pada Abighail.


" Peringatan apa,,? aku gk pernah dpt peringatan dari kamu ya Lidya,,! Jadi kamu jangan mengada ngada,,!" tegas Abighail.


Kini Abighail dan Lidya sedang berdebat. Sementara yg lainnya hanya mendengarkan saja.


" Mengada ngada gimana,,? Aku udah kasih peringatan sama kamu lewat surat,,!" ucap Lidya meninggikan suaranya.


" Surat,,? Surat yg mana Lidya,,? Aku gk pernah dapet surat dari kamu,,!" bls Abighail yg juga meninggikan suaranya.


" Surat yg aku tinggalkan di kamar kamu,, !" sentak Lidya.


" Surat yg di tinggalkan di kamar,,?" gumam Abighail.


Abighail mengingat ngingat kembali. Setelah cukup lama akhirnya Abighail mengingat sesuatu.


" Oo,, jadi surat itu dari kamu,,?" ucap Abighail pada Lidya.


" Iya,, " jwb Lidya ketus.


" Dengar ya Lidya,, saya memang menemukan surat di atas tempat tidur saya. Tapi saya tdk pernah membaca surat itu,, " jelas Abighail.


" Alah,, kamu pasti berbohong,,!" tuduh Lidya.


" Berbohong apa Lidya,,?" tanya Abighail tak mengerti.


" Kamu berpura pura tdk membaca surat itu,, padahal kamu sudah membaca surat itu,,!" kasar Lidya.


" Buat apa coba aku lakuin itu Lidya,,?" tanya Abighail.


" Buat apa,,? kamu masih nanya buat apa kamu ngelakuin itu,,?" tanya Lidya. " Kamu ngelakuin itu agar bisa trs mendekati ustadz Afnan" Lanjut Lidya.


" Denger ya,, Lidya saya sedikit pun tdk pernah berniat utk mendekati ustadz Afnan,, " Abighail mencoba mengontrol emosinya agar bisa terkendali.


" Kamu berbohong lagi Abighail,,!" tuduh Lidya lagi.


" Berbohong apa lagi Lidya,,?" geram Abighail.


" Kamu mencoba mendekati ustadz Afnan dgn alasan memberikan barang lah,, dgn menyampaikan sesuatu lah dari ustadzah,," jwb Lidya.


" Ya Allah,, Lidya saya memberikan barang, menyampaikan pesan,, itu memang amanah dari ustadzah,, bukan saya dgn sengaja mendekati ustadz Afnan tanpa ada alasan,," jwb Abighail sambil mengusap wajahnya gusar.


wanita yg sedang berdebat itu terdiam terdiam sebentar.


" Kalo ini bukan salah kamu,, berarti ini salah ustadz Afnan!" ucap Lidya mengagetkan semua org. " Kalo saja ustadz Afnan tdk dekat dgn kamu dan saya yg dekat dgn ustadz Afnan, semua ini tdk akan terjadi" lanjutnya menyalahkan ustadz Afnan.


" LIDYA!" bentak Abighail. " Kamu jangan berani menyalah org yg tdk bersalah,,! Apa lagi org yg kamu salahkan adalah seorang guru yg sudah memberikan ilmu pada kamu,,!" ucap Abighail meninggikan suaranya lagi.


" Sudah jelas jelas kamu yg bersalah bukam ustadz Afnan,,!" bentak Abighail.


" Apa maksud kamu Abighail,,?" tanya Lidya.


" Apa maksud aku? Apa kamu lupa,,? Dng Menyebarkan berita bohong bahwa aku hamil, kamu memberikan kue yg berisi racun dan yg lebih parah lagi, kamu udah memfitnah ustadz Afnan bahwa dia yg menyebabkan aku hamil,,!" bentak Abighai. " Apa kamu masih belum merasa bersalah hah,,?" tanya Abighail.


Lidya terdiam menundukan kepalanya, dia tdk menyangkal perkataan Abighail.


" Dimana akal sehat kamu Lidya,,? Sampai kamu berani berbuat itu,,? Apa lagi sampai memfitnah ustadz Afnan,,! Kalo kamu punya masalah pribadi sama aku ngomong langsung depan muka ku,,! Jangan berani di belakang ku,,!" Abighail memarahi Lidya habis habisan, kini emosinya sudah berada di tingkat yg paling tinggi.


Bu 'Ainun dan pak Adam mencoba menenangkan Abighail, namun jika Abighail sudah emosi di tingkat yg paling tinggi akan sangat sulit utk di tenangkan.


Ustadz Afnan tdk menyangka Abighail bisa berbicara seperti itu. Terlebih lagi dia memarahi Lidya karna memfitnah ustadz Afnan.


Ustadz Afnan juga mencoba menenangkan Abighail namun,, ya,, begitulah,,


Abighail mengepalkan tangan nya. Dia sudah sangat geram pada Lidya.


" Abighail sudah nak,, Istighfar,, tahan emosi kamu,, " ucap bu 'Ainun menenangkan Abighail.


" Gk bu dia ini harus di beri pelajaran,, " Abighail melepaskan infusannya dan turun dari ranjang.


Dia menuju ke arah Lidya yg sedang tertunduk. Ustadz Afnan menghalangi Abighail agar tdk bisa mendekati Lidya.


Bu 'Ainun dan pak Adam mencoba menarik Abighail agar menjauh dari Lidya, namun Abighail trs berusaha utk mendekati Lidya.


" Lepasin Abighail yah,, bu,, dia itu harus di beri pelajaran,, " ucap Abighail meronta ronta.


Plak..


Semua org kaget oleh tindakan bu 'Ainun yg menampar Abighail.


Abighail tertegun memdapat tamparan dari ibunya itu. Dia memegang pipi yg merah karena tamparan dari bu 'Ainun.


" Abighail,,! Ibu tdk pernah mengajarkan kamu berbuat seperti itu pada org lain, sekalipun org itu membuat kesalahan pada kamu,,!" tegas bu 'Ainun. " Dari tadi ibu mendiamkan kamu yg trs berbicara dgn kasar. Namun diam nya ibu tdk membuat kamu mengerti,,!" lanjut bu 'Ainun.


Tak terasa air mata Abighail sudah membasahi pipi nya. Tangannya masih memegang pipi yg terasa panas akibat tamparan ibu nya itu.


Ustadz Afnan membawa Lidya ke luar dari ruangan itu.


" Lidya sebaiknya kamu kembali ke pesantren,,!" ucap ustadz Afnan.


" Iya ustadz,, " jwb Lidya.


" Kamu tdk papa kan pulang sendiri,,?" tanya ustadz Afnan.


" Tdk papa ustadz,," jwb Lidya.


" Kamu yakin,,?" tanya ustadz Afnan lagi.


" Iya " jwb nya singkat. " Assalamu'alaikum" ucap Lidya dan dia langsung pergi sebelum ustadz Afnan menjwb salamnya.


" Wa'alaikumsalam" jwb ustadz Afnan.


Ustadz Afnan kembali ke dlm ruangan itu.


" Bu,, udah bu,, udah,, " ucap pak Adam menenangkan istri nya.


Pak Adam menuntun agar bu 'Ainun duduk di kursi sofa yg ada di ruangan itu. Setelah itu pak Adam menuntun Abighail agar duduk di ranjang nya lagi.


Hening...


Ustadz Afnan melihat infusan Abighail yg lepas dia segera berbicara pada pak Adam.


" Pak saya akan panggilkan perawat utk memasang kan infusan Abighail lagi,," ucap ustadz Afnan.


" Iya ustadz terimakasih,, " ucap pak Adam dan diangguki oleh ustadz Afnan.


Ustadz Afnan langsung memanggil perawat.


Perawat itu memasang kan kembali infusan Abighail. Dia heran kenapa infusan itu bisa lepas dari tangan Abighail. Saat perawat itu hendak pergi, sekilas dia melihat pipi Abighail yg bengkak.


" Mbak ini kenapa? kok bisa bengkak ( lebam)? " tanya perawat itu memegang pipi Abighail. ( perawatnya perempuan yah,,).


" Gk papa ko mbak,, " jwb Abighail seraya tersenyum pada perawat itu.


" Sebentar saya panggilin dokter dulu,,!" ucap perawat itu.


" Gk usah mbak nanti juga sembuh sendiri!" tolak Abighail.


" Ih,, gk bisa,, saya akan panggil dokter dulu ya,, " ucap perawat itu tdk mendengarkan tolakan Abighail.


Tak lama dokter pun datang dan memeriksa pipi Abighail.


Bu 'Ainun masih duduk di sofa dan di temani oleh pak Adam. Sementara Abighail yg sedang di periksa ditemani oleh ustadz Afnan. Karna ustadz Afnan sebelumnya memdapat kode dari pak Adam utk menemani Abighail.


" Aww,, " ucap Abighail saat dokter memegang pipi Abighail yg bengkak.


Bu 'Ainun segera melihat ke arah putrinya yg sedang kesakitan.


" Suster tolong kamu ambil kan salep yg ada di ruangan saya" titah dokter itu.


" Baik dok" jwb perawat itu.


" Ini dok salep nya,, " perawat itu memberikan salep pada dokter.


Dokter mengoleskan salep itu pada pipi Abighail yg bengkak.


" St,, st,, " Abighail merintih kesakitan saat dokter itu mengoleskan salep pada pipi nya.


" Salep ini dpt menghilangkan rasa nyeri akibat anggota tubuh bengkak, termasuk pada wajah" ucap dokter itu sambil melihat ke arah Abighail.


" Ini" dokter memberikan salepnya pada ustadz Afnan. Ustadz Afnan menerima salep itu. " Bpk bisa pakaikan salep ini 2 Γ— sehari " intruksi dokter itu.


" Baik dokter " jwb ustadz Afnan.


" Kalo begitu saya permisi dulu kalo ada apa apa tinggal bilang saja pada saya,," ucap dokter.


" Baik dokter terimakasih" ucap ustadz Afnan.


Dokter dan perawat itu meninggalkan ruangan Abighail.


Bersambung...


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


# Assalamu'alaikum reader semua,, πŸ™‹πŸ™‹


# Gimana kabar kalian,,? Kalian harus sehat ya,, jangan sakit sakit,, πŸ˜‡


# Maaf ya,, kalau ada yg typo nulisnya,, πŸ˜‚


# Maaf ya,, author lama up nya,, πŸ™


# Mohon dimaklum ya,, soalnya author lagi banyak tugas jadi agak susah membagi waktunya,, 😧


# Kalo kalian suka novelnya author,, kalian bisa Like πŸ‘πŸ‘, Komen πŸ’­πŸ’­, Share πŸ”ŠπŸ”Š, Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟 dan jangan lupa utk Vote πŸ‘†πŸ‘† ya,, supaya author lebih semangat nulisnya,, πŸ˜‰ πŸ˜‰


# Terus dukung author ya,, πŸ˜‡πŸ˜‡


# Salam hangat dari author,, 😊😊


# Terimakasih sudah mampir,, ☺☺


# Wassalamu'alaikum,, πŸ™‹πŸ™‹