
Happy Reading!😊
Lidya berjalan dengan kakinya sendiri menuju ke warung makan yang ditunjukan oleh Jesi. Sebelum melewati warung makan, Lidya melewati sebuah bengkel.
15 menit kemudian Lidya sampai di warung makan itu. Lidya memesan 3 porsi makan.
"Ini neng pesanannya" ucap bibi pemilik warung makan itu.
"Iya bi, terima kasih" ucap Lidya. "Em,, bi, saya boleh tanya?" pinta Lidya.
"Iya neng, mau nanya apa?" setuju bibi itu.
"Kalo bengkel yang ada di sebelah sana, itu milik siapa ya bi?" tanya Lidya sambil menunjuk ke arah bengkel.
"O,, itu mah bengkel milik pak Rijal" jawab bu 'Ainun.
"O,, kalo rumahnya bibi tau gak di mana?" tanya Lidya lagi.
"Rumahnya gak jauh kok, dari sini. Nanti berhadapan dengan bengkel, ada gang sempit. Nah neng lurus aja, terus belok kiri, terus belok kanan. Itu dia rumahnya" tutur bibi itu. "Emang kenapa neng?" tanya bibi itu.
"Em,, kemarin teman saya ada yang ke bengkel itu. Dia bilang, dia belum bayar karna tidak ada uang pas dan tidak ada kembalian. Jadi dia minta saya, untuk membayarnya" jawab Lidya beralibih.
"Oo,, kirain si nengnya mau nagnterin makanan ini sama si abangnya" ucap bibi itu.
"Heheh,, enggaklah bi" Lidya terkekeh mendengar perkataan si bibi.
Lidya menyusuri jalan yang di tunjukan oleh. Akhirnya Lidya menemukan rumah pemilik bengkel itu.
tok,, tok,, tok,, Lidya mengetuk pintu.
Pintu yang di ketukpun terbuka, dan memperlihatkan pria berumur kurang lebih 40 tahun.
"Assalamu'alaikum, pak" sapa Lidya.
"Wa'alaikumsalam" jawab bapak itu.
"Apa benar, bapak yang punya bengkel di pinggir jalan itu? Bapak bernama pak Rijal?" tanya Lidya.
"Iya neng, benar" jawab pak Rijal. "Emang kenapa ya? Neng ini siapa ya?" tanya pak Rijal bingung dengan kedatangan Lidya ke rumahnya.
"Begini pak, pekenalkan nama saya Lidya. Saya mau bapak membantu saya melakukan sesuatu" jawab Lidya to the point.
"Melakukan apa neng?" tanya pak Rijal.
Lidya memberikan sekantong paku pada bapak itu.
"Apa ini neng?" tanya pak Rijal tambah bingung.
"Saya minta, bapak tolong sebarkan paku ini di jalan. Jaraknya cukup jauh dari bengkel bapak" jawab Lidya.
"Astaghfirullah, neng bapak gak mau ah. Gak baik neng, itu dosa. Saya mau usaha dengan jujur neng" tolak pak Rijal.
"Pak, saya mohon. Ini menyangkut kehidupan seseorang pak" pinta Lidya.
Pak Rijal mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti.
"Pak, saya minta bapak menaburkan paku hanya untuk satu kendaraan saja. Lagi pula kendaraan itu milik orang jahat. Saya terjebak dengan orang jahat itu pak" ucap Lidya.
"Kenapa neng tidak kabur aja dari orang itu?" tanya pak Rijal.
"Jika saya kabur, maka orang yang ingin saya selamatkan akan dalam bahaya pak" jawab Lidya. "Saya mohon ya pak, bantu saya kali ini,, saja" pinta Lidya lagi.
Bapak itu berpikir, dia begitu bimbang sekali.
"Pak, orang yang ingin saya selamatkan adalah orang baik pak. Dia adalah teman saya" ucap Lidya pada bapak itu, agar bapak itu dapat membantunya.
"Apa hanya itu?" tanya pak Rijal.
"Iya pak, nanti saya akan kirimkan pesan pada bapak. Nah setelah bapak menerima pesan dari saya, bapak taburin pakunya di jalan. Nanti ban kendarannya kempes dan akan ke bengkel bapak" Jelas Lidya.
"Tapi gimana nanti kalau orang jahat itu ngira bapak sengaja naburin paku di tengah jalan?" tanya pak Rijal yang khawatir ketahuan.
"Bapak bilang aja, itu kerjaan orang iseng. Dan di daerah sana sudah banyak kejadian seperti itu" jawab Lidya.
"Jadi bapak, tolong saya ya" pinta Lidya lagi dan lagi.
"Baiklah neng" setuju pak Rijal.
"Alhamdulillah.." ujar Lidya sedikit berteriak karna saking senangnya.
"Ada apa pak?" tanya seorang anak perempuan berumur 15 tahunan.
"Eh,, enggak papa kok nak" jawab pak Rijal.
"Pak ini putri bapak?" tanya Lidya.
"Iya neng, ini putri saya satu-satunya" jawab pak Rijal sambil tersenyum dan mengelus kepala putrinya.
"Wah,, sudah besar ya" ucap Lidya.
Perempuan itu memberi salam pada Lidya.
"Nama kamu siapa?" tanya Lidya pada anak perempuan itu.
"Nama saya Ayu kak" jawab anak perempuan itu.
"Wah,, wajahnya ayu sekali seperti namanya, Ayu" ucap Lidya.
"Terima kasih kak" ucap Ayu tersenyum.
"Oh iya, ini. Kakak ada sesuatu untuk Ayu dan bapak" ucap Lidya sambil memberikan kantong berisikan makanan pada Ayu.
Ayu menerima itu dengan bingung. "Apa ini kak?" tanya Ayu.
"Ada sedikit makanan buat Ayu dan bapak" jawab Lidya.
"Neng, gak usah repot-repot" tolak pak Rijal.
"Tidak repot kok pak" ucap Lidya. "Ayu kamu siapin gih, dalam piring untuk bapak. Kakak masih mau bicara sama bapak kamu" Lidya menyuruh Ayu agar masuk ke rumah dengan halus.
"Iya kak" ucap Ayu.
Ayu pun masuk ke dalam rumahnya, menuruti perktaan Lidya. Lidya meminta nomor telepon pak Rijak. Setelah itu Lidya berniat untuk pulang.
"Pak, ini ada sedikit rezeki untuk bapak" Lidya memberikan pak Rijal itu amplop yang berisikan sejumlah uang tunai.
"Ih,, gak usah neng. Bapak ikhlas bantuin eneng" tolak pak Rijal.
"Pak,, saya juga ikhlas. Bantuan bapak jauh lebih besar dari apa yang saya berikan ini" ucap Lidya. "Saya mohon, terima ya pak" lanjut Lidya.
"Terima kasih neng" pak Rijal menerima amplop dari Lidya.
"Kalo gitu, saya pamit pulang dulu ya pak" pamit Lidya.
"Gak masuk dulu neng" tawar pak Rijal.
"Nggak pak, lain kali saja" tolak Lidya dengan lembut.
"Baiklah.." ucap pak Rijal.
"Assalamu'alaikum pak" ucap Lidya.
"Wa'alaikumsalam" jawab pak Rijal.
Lidya pulang dengan tersenyum senang. Kali ini, rencana yang dibuatnya akan berjalan dengan lancar. Hanya tinggal menunggu pelaksanaan rencananya saja.
Bersambung..
Terima kasih sudah mampir😊
Silahkan tinggalkan jejak😉
Terus dukung karya author ya😆
Salam hangat dari author😁