
Happy Reading!😊
Ustadz Afnan mengadzani dan mengiqomahkan putra pertamanya di ruang Abighail. Ustadz Afnan melantunkan adzan dengan suara yang bergetar.
Setelah selesai, ustadz Afnan membawa putranya mendekati Abighail. Ustadz Afnan meneteskan air matanya melihat keadaan Abighail.
"Sayang, lihat. Itu umi kamu" ucap ustadz Afnan.
"Umi kamu sedang istirahat dulu. Nanti setelah dia bangun, dia akan menggendong kamu, mencium kamu dan memeluk kamu" ucap ustadz Afnan pada putranya.
Ustadz Afnan mencium putranya, kemudian dia mencium Abighail.
Putra ustadz Afnan hanya menatapnya dengan sangat polos. Ustadz Afnan membiarkan keluarganya melihat putra pertamanya. Keluarga ustadz Afnan sangat senang melihat si kecil.
"Masya Allah" gumam semua orang.
"Dia persis seperti kamu dulu" ucap umi.
"Boleh ibu menggendongnya?" tanya bu 'Ainun.
"Tentu saja bu" jawab ustadz Afnan.
Bu 'Ainun mengambil alih putra ustadz Afnan. Setelah cukup puas, keluarga ustadz Afnan memberikan putra ustadz Afnan pada suster untuk kembali ke ruang bayi.
Ustadz Afnan tidak pernah jauh dari Abighail. Ustadz Afnan terus memanjatkan do'a agar Abighail bisa cepat sadar. Hingga malampun tiba, keluarga Abighail tidak ada yang pulang. Mereka tetap ingin menjaga Abighail. Masih belum ada tanda-tanda Abighail akan sadar. Semua orang khawatir kalau sampai besok Abighail tidak sadar juga.
Keesokan harinya.
Semua orang melaksanakan Shalat Subuh berjama'ah di ruang Abighail. Shalat Subuh diimami oleh abi. Selesai Shalat, semua orang berdzikir dan berdo'a. Keluarga juga meminta para santri yang ada di pesantren untuk mendo'akan kesembuhan Abighail.
Ketika selesai berdzikir, ustadz Afnan menengok pada Abighail yang sedang terbaring. Tampak Abighail menggerakan jarinya. Ustadz Afnan mengucek matanya, siapa tau apa yang dia lihat hanya khayalan saja. Namun gerakan pada jari Abighail semakin jelas. Dengan segera ustadz Afnan menghampiri Abighail.
"Abighail" ujar ustadz Afnan mendekati Abighail.
Semua orang menoleh dan ikut mendekati Abighail.
"Nan, apa yang terjadi pada Abighail?" tanya umi.
"Jari Abighail bergerak umi. Lihat" jawab ustadz Afnan.
Semua orang melihat pada jari Abighail. Mereka tersenyum senang.
"Biar ayah panggilin dokter" ucap pak Adam.
Pak Adam memanggil dokter untuk memeriksa Abighail. Untung saja dokter yang menangani Abighail tidak pulang tadi malam. Dokter dan suster memeriksa Abighail. Kini Abighail sudah membuka matanya. Keluarga Abighail diminta untuk menunggu di luar ruangan. Diakhir pemeriksaan, dokter menarik sudut bibirnya ke atas. Dokter pun keluar.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya ustadz Afnan.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya bu 'Ainun.
"Alhamdulillah, berkat do'a dari kalian semua, kondisi pasien sekarang baik-baik saja. Ini suatu keajaiban. Saya jarang menemukan kasus seperti ini ibu dan anak selamat. Karna kebanyakan jika tidak ibunya, maka anaknya yang meninggal. Atau bahkan dua-duanya meninggal" jawab dokter yang juga senang.
"Alhamdulillah.." ucap semua orang.
"Dan yang saya tidak menyangka, kondisi pasien sangat baik. Bahkan kandungan pasien yang awalnya lemah, sekarang sudah kuat. Saya senang sekali karna bisa menyaksikan secara langsung kekuasan Allah" ucap dokter itu.
"Lalu dok, apakah kami boleh menemui Abighail?" tanya umi.
"Tentu saja, silahkan. Tapi untuk saat ini jangan terlalu ribut" jawab dokter.
"Terima kasih dok" ucap semua orang.
"Assalamu'alaikum" ucap ustadz Afnan mendekati Abighail sambil tersenyum.
Abighail menolehkan kepalanya. "Wa'alaikumsalam" jawab Abighail yang juga tetsenyum. Namun Abghail tersenyum dengan tipis. Mungkin dia masih lemah.
"Mai, bagaimana kondisi kamu?" tanya ustadz Afnan.
"Alhamdulillah" jawab Abighail dengan lemah.
Ustadz Afnan menggenggam tangan Abighail dan menciumnya. Abighail juga mencium pucuk kepala Abighail berkali kali. Abighail membalas ciuman ustadz Afnan hanya dengan senyuman manis di bibirnya.
Abighail menatap semua orang yang ada di ruangannya. Tiba-tiba Abighail teringat sesuatu.
"Bib, a-anak aku.." Abighail berbicara dengan susah.
"Sut,, jangan banyak bica dulu. Alhamdulillah, anak lita selamat. Dia baik-baik saja, dia sehat, tanpa kekurangan apapun" ucap ustadz Afnan.
Abighail tersenyum dan menitikan air matanya.
"Aku,, aku mau.." Abighail hendak duduk.
"Sayang jangan banyak gerak" tegur bu 'Ainun.
"Kamu belum sembuh benar nak" timpal umi.
"Kamu mau ketemu putra kita?" tanya ustadz Afnan.
Abighail menganggukkan kepalanya.
"Nanti ya. Sekarang kamu pulihin dulu badan kamu. Nanti kita bawa putra kita" bujuk ustadz Afnan.
Abighail menganggukkan kepalanya menuruti perkataan ustadz Afnan.
Sekitar pukul 08.00, Abighail bertemu dengan putranya. Abighail menggendong putranya. Abighail sangat senang, tak henti-hentinya Abighail mencium putra pertamanya itu.
Semua orang senang karna sekarang Abighail sudah tidak dalam bahaya.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk putra pertama kalian?" tanya umi.
"Sudah umi" jawab Abighail dan ustadz Afnan.
"Siapa namanya?" tanya bu 'Ainun.
"Namanya Akbar. Akbar Afriansyah" jawab ustadz Afnan.
Baby Akbar sangat senang ada di pangkuan Abighail.
Bersambung..
Et,, masih belum end nih
Beri selamat donk buat baby Akbar☺
Terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
Terus dukung karya author ya😉
Salam hangat dari author😁