USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Penolakan Ustadz Afnan



Happy Reading,,! 😊


Abighail dan ustadz Afnan sudah pulang dari rumah orang tuanya Abighail. Mereka senang dengan kabar yang diberikan oleh Abighail dan ustadz Afnan.


Abighail menjalani aktivitasnya seperti biasa. Hanya saja dia lebih mengurangi pekerjaan yang terlalu berat. Bu Susi sudah mengetahui tentang kehamilan Abighail. Ya, dia adalah satu-satunya tetangga yang mengetahui tentang kehamilan Abighail.


Bukannya Abighail tidak mau memberitahukan pada tetangga yang lainnya, namun bu Susi tau dengan sendirinya. Saat itu bu Susi memberikan makanan buatannya pada Abighail. Tak disengaja Abighail mual-mual. Sebenarnya bu Susi masih mengira-ngira saja. Namun bu Susi langsung yakin kalo Abighail itu sedang hamil.


...****************...


Ustadz Afnan sedang merencanakan proyek baru dengan perusahaan lain. Tak disangka dia bertemu dengan teman lamanya yaitu Jesi. Jesi menjadi sekretaris dari CEO perusahaan yang bekerjasama dengan ustadz Afnan.


Jesi dulunya masuk ke pesantren pak kiyai Abdul Sidik, dia seangkatan dengan ustadz Afnan. Dulunya Jesi adalah wanita yang menutup rapat auratnya. Namun setelah beberala tahun berlalu, dia berpenampilan berbeda. Sekarang auratnya sudah tidak tertutup seperti dulu lagi. Seperti sekarang dia berhadapan dengan ustadz Afnan dengan menggunakan rok di atas lutut.


Fals back


Ustadz Afnan adalah cinta pertama Jesi semasa di pesantren. Jesi sering sekali memberi surat cinta untuk ustadz Afnan. Namun ustadz Afnan tidak pernah membalas cintanya. Ustadz Afnan fokus pada pendidikan dan juga dia lebih memilih membantu abi nya mengurus perusahaan, dari pada harus membalas surat-surat yang diberikan oleh Jesi.


Sampai pada suatu hari, Jesi nekat melanggar peraturan pesantren. Yaitu dia memasuki daerah santri. Saat itu ustadz Afnan sedang berkumpul dengan teman-temannya, termasuk dengan ustadz Rizky. Mereka sedang menghafal kitab. Tiba-tiba Jesi datang kehadapan ustadz Afnan dan menyatakan perasaannya.


Para santri yang melihat ada santriwati memasuki wilayah mereka, lantas langsung mengejar santriwati itu. Beberala santriwati juga mengejar santriwati yang melanggar peraturan itu.


"Afnan,," panggil Jesi dengan berteriak.


Ustadz Afnan menoleh pada orang yang memanggilnya. "Jesi,,? Kenapa dia di sisni,,? Ini kan wilayah santri,,?" batin ustadz Afnan.


"Jesi,,? Kamu ngapain di sini,,?" tanya ustadz Rizky.


"Aku mau bertemu dengan Afnan,," jawab Jesi.


"Jesi kamu berani langgar peraturan,,?" tanya ustadz Rizky.


"Apapun peraturan nya akan aku langgar demi Afnan,," jawab Jesi.


"Jesi, kamu gila ya,,? Kamu gak malu diliatin sama santri lain,,?" tanya teman ustadz Afnan yang lain.


Jesi mengedarkan pandangannya. Dia terkejut karna banyak sekali santri yang mengerumuninya sekarang. "Gak aku gak malu,," jawab Jesi. "Afnan, aku mau ngomong sama kamu,," ucap Jesi pada ustadz Afnan.


"Ngomong apa,,?" tanya ustadz Afnan denga nada dingin.


"Kenapa kamu gak pernah balas surat dari aku,,?" tanya Jesi.


Semua orabg kaget mendengar pertanyaan Jesi. Mereka gak menyangka kalo santriwati seperti Jesi sering memberikan surat pada ustadz Afnan.


Ustadz Afnan hanya diam. Dia tak menjawab pertanyaan Jesi.


"Jawab Nan,," desak Jesi.


"..." ustadz Afnan masih tidak menjawab pertanyaan dari Jesi. Dia hendak pergi dari kerumunan itu.


"Afnan, kamu jangan pergi,, jawab dulu pertanyaan aku,," teriak Jesi.


"..." ustadz Afnan terus berjalan, dia tak ingin menjawab pertanyaan dari Jesi.


"Afnan, aku suka sama kamu,, aku cinta sama kamu,, aku ingin bisa hidup sama kamu selamanya,," Jesi mengungkapkan cintanya di depan semua orang.


Ustadz Afnan menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Jesi mendekat pada ustadz Afnan.


"Iya Nan,, aku berbicara yang sebenarnya,," ucap Jesi sambil tersenyum dan mengharap hal yang sama dari ustadz Afnan.


Ustadz Afnan mengerutkan keningnya. "Huh,," ustadz Afnan membuang nafas lembut. "Maaf tapi aku belum bisa,," jawab ustadz Afnan.


Duar,,


Bagai petir yang menyambar. Hati Jesi sangat sakit mendengar jawaban dari ustadz Afnan.


"Tapi kenapa,,?" tanya Jesi yang menahan air matanya.


"Kenapa Nan,,? Jawab aku,," bentak Jesi sambil memegang kerah baju ustadz Afnan.


"Jesi jaga sikap mu,," tegas ustadz Rizky yang menghempaskan tangan Jesi dari kerah baju ustadz Afnan.


"Minggir kamu Rizky,, aku gak punya urusan sama kamu,," Jesi berusaha untuk mendekati ustadz Afnan.


"Jesi,, sebaiknya kamu pergi dari wilayah santri,," usir Rizky.


"Gak mau,," tolak Jesi.


Semua orang terdiam. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh Jesi.


"Percuma,," teriak Jesi.


Semua orang menatal Jesi bingung, termasuk juga ustadz Afnan.


"Percuma aku berpenampilan seperti ini,," ucapnya sambil menunjukkan penampilannya yang tertutup rapat. "Aku kira, dengan aku berpenampilan seperti ini,, kamu dapat tertarik pada aku Nan,, tapi apa,,? Bahkan kamu gak pernah bales surat dari aku,,!" Jesi sudah tidak dapat berpikir jernih.


"Heh Jesi,, seharusnya kamu berpenampilan itu karna Allah,, bukan karna manusia,," tegur santri yang sedang menonton.


"Nan,, apa kamu gak suka liat aku berpenampilan seperti ini,,? Nan aku lakuin ini demi kamu,," jesi tak menghiraukan teguran dari santri itu. "aku kecewa sama kamu,," lanjutnya.


"Apa,,? Kamu kecewa sama Afnan,,? Gak salah nih,,?" tanya ustadz Rizky.


Jesi menatap ustadz Rizky dengan marah.


"Seharusnya Afnan lah yang kecewa sama kamu,," teriak santri yang lain.


"Iya tuh bener,," timpal santri yang satunya lagi.


"Kalo kamu termotivasi oleh Afnan agar berpenampilan seperti ini,, agar kamu lebih baik,, itu wajar,, tapi niat kamu yang salah,," jelas ustadz Rizky. "Seharusnya kamu niat itu karna Allah ta'ala,, bukan karna Afnan,, artinya kamu gini kan gak ikhlas,," lanjutnya.


Jesi terdiam.


Ustadz Afnan tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya diam mendengarkan perdebatan Jesi dengan sahabatnya, Rizky. Setelah cukup lama berdebat ustadz Afnan memutuskan untuk pergi.


"Tunggu,," cegah Jesi. "Kamu mau ke mana,,?" tanya nya.


Ustadz Afnan menghentikan langkahnya. "Jesi, kalau kamu mai sebentar saja menunggu,, sebaiknya kamu bertobatlah pada Allah,," ucap ustadz Afnan lalu pergi tanpa mendengarkan siapapun.


"Apa yang kamu maksud,,? Nan,,? Tunggu,," Jesi terus berteriak.


Tak lama umi dan abi pun datang.


"Astagfirullah, Jesi,, sedang apa kamu di wilayah santri,,?" tanya umi.


"Jesi mengejar cintanya Afnan umi,," jawab ustadz Rizky.


"Cinta Afnan,,?" tanya Abi.


"Iya abi,," jawab ustadz Rizky.


"Sekarang di mana Afnan,,?" tanya umi.


"Pergi,," jawab ustadz Rizky.


Fals off


Bersambung...


Terima kasih sudah mampir,, 😊


Jangan lupa tinggalkan jejak,, ☺


Terus dukung author ya,, πŸ˜†